Pages - Menu

Minggu, 01 September 2013

Jodoh dan Peci Putih Kiai



Di penghujung siang, beberapa jenis burung memilih untuk pulang. Menghindari terik yang meretakkan kulit-kulit mereka. Juga kembali menimang buah hati di sarang. Di penghujung siang, beberapa bunga memilih mengatup. Selesai menebar rekah dan menyuguh beberapa tetes nektar. Di penghujung siang pula, rerimbun bayang teduh dedaun memuruk gerah mengusir amarah, bagi siapa saja yang merindang di bawahnya.


Di penghujung siang, aku duduk bersama suasana yang beku. Di bawah rindang pohon sawo yang tak pernah berbuah. aku dan kebekuan ini telah bercengkrama lebih dari tiga puluh menit. Meremahkan pandangan, juga melumat suara. Bahkan kehidupanku seolah sedang mengkristal kaca. Bergeming. Lembar-lembar kuning kitab yang tulisan arabnya baru kuterjemahkan turut diam.



Beberapa meter di hadapanku, sejumlah lelaki kecil meramaikan sore. Memainkan lipatan sarung. Mereka baru selesai mengaji. Beberapa deret gigi kecil tertangkap mata saat mereka meringis. Ah, tidakkah mereka punyai tawa maya seperti yang dimiliki seorang dewasa? Sepertinya tidak. Karena itulah aku lebih memilih memperhatikan mereka dibandingkan santri-santri dewasa. Mereka terlihat begitu lugu dan alami. Tak berilusi.



Angin yang baru saja singgah menggugurkan beberapa helai daun yang menguning. Daun yang lain justru membisu. Tiba-tiba kutemui seekor burung berbulu coklat muda menatapku. Ia bertengger di atas nameboard bertuliskan “Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin”. Ia sendirian. Aku mencoba mengamatinya. Entah bagaimana, dia seolah balik mengamatiku. “Bukankah kau sendiri secangkir kosong yang merindukan adukan-adukan? Pertanda kosongmu mengandung isi.”, begitu aku menerjemahkan pandangannya. Ah, kau.
Tanah yang kesepian di antara gema suara kanak-kanak di hadapanku tiba-tiba melekuk. Sepundak wibawa berjalan di atasnya. Merebut pandangan dan perhatianku seketika. Pundaknya. Ya, pundaknya. Aku tak bisa tak mengingat pundaknya. Seorang lelaki yang bijaknya melebihi siapapun yang pernah kutemui. Bahkan ia mengajarkanku beberapa hal sekaligus di hari pertama aku menemuinya.



Ia melambaikan tangan, Kiaiku. Melambaikan senyuman. Tanpa menunggu sorbannya dilambai angin untuk kesekian kali, kusegerakan diri menghampiri.



Seluruh yang kuingat dalam langkah delapan meter mendekatinya adalah kejadian waktu itu. Kala kutemui ia untuk mendapat izin menjadi santrinya, dan ia temukan sinar surya siang mengecup mataku silau-silau, maka ia berdiri segera dan menutup tirai. Bukankah itu tidak biasa? Bila diizinkan, seharusnya aku yang menutupnya untuk Kiai.
Kemudian, semakin hari aku semakin tak menemukan alasan untuk tak mengabdi padanya. Walau sekadar untuk membuka engsel pintu rumahnya setiap pagi.



***



Mendung yang sejak semalam menggelayut kini menepi. Langit kebiruan kembali. Terlalu dini untuk pergi ke pasar, pikirku. Musim masih belum beranjak, masih itu-itu saja. Aku menatap lelangit, cukup biru. Sepertinya hujan tak akan datang terlalu pagi.



Aku santri tertua disini. Segala urusan rumah tangga Kiai akulah yang ditunjuk sebagai penanggung jawabnya. Aku yang mengganti lampu ruang tamu, berbelanja bahan makanan, hingga menimang puteri Kiai yang paling kecil, Khaira namanya.



Aku baru saja memindahkan meja kayu pendek yang biasa digunakan Kiai menjamu tamu. Meja yang disusun dari kayu jati itu berukir bunga merambat. Ia mesti kupindahkan, agar anak tangga yang hendak kugunakan untuk mengganti bohlam dapat kutempatkan di tengah ruangan.



Tiba-tiba Kiai memanggilku mendekat. Ia berdiri tegap, dan aku merunduk.



“Kang, sudah kau punyai sosok perempuan untuk kau tambatkan hatimu?”
Aku terkejut. Bohlam besar yang baru saja kubeli kemarin sore nyaris jatuh. Tidak biasanya Kiai memberikan pertanyaan macam itu. Bahkan belum pernah. Jawaban macam apa yang tepat? Ah, aku tak tahu. Tanganku gemetar tak bisa kucegah. “Belum ada, Kiai.”



Kiai lantas menepuk pundakku. Tersenyum. Kumisnya merebak. Tertarik ke atas.



“Mari duduk. Pasang bohlamnya nanti, setelah kita bicara.”
Puluhan pertanyaan menyambar inderaku. Beberapa diantaranya retoris. Juga, beberapa jawaban dari bisikan sendiri turut muncul. Aku bahkan masih kehilangan pikirku saat Kiai hendak angkat bicara.



“Engkau, santri tertua di sini.” Kiai memulai. Tatapannya jauh dari nanar. Helaan napas panjang terlihat padanya. Wajahnya masih pagi, walau usianya telah senja. Rambutnya turut ranum, memutih.



“Telah mengabdi engkau pada Kiaimu ini bertahun-tahun. Berbagai macam pekerjaan kau tuntaskan. Kau bereskan rapi-rapi.” Ia merapal kalimat dalam tempo pelan. Sengaja dipelankan, mungkin. “Kau telah lama mengabdi untuk keluargaku. Dan sepertinya sudah cukup usia serta kematangan jiwamu untuk membangun keluargamu sendiri.”



Aku terkejut takdzim. Kalimat yang baru  kudengar begitu asing terucap dari lisan Kiai. Selain itu, Kiai terkesan sangat berhati-hati, seperti biasanya. Adakah hal yang hendak disampaikannya benar-benar intim?
Namun Kiai masih bergeming. Ia membaringkan peci putihnya diatas lantai berkarpet. Kedua tangannya saling mengepal kemudian. Mungkinkah diamnya bermaksud memintaku mencerna ucapannya? Tapi bukankah masih terlalu sedikit keterangan untuk dapat kupahami maksudnya? Tak ada yang bisa kuperbuat selain diam.



“Engkau bersedia kujodohkan?”



Allah! Nyatakah ini?



Suhu ruangan tiba-tiba terasa naik. Aku seolah gemetar kedinginan, namun sekitarku terasa panas. Gigiku bergemelatuk lamban dan lidahku beku. Bahkan indera pendengaranku seolah tak kuasa meraba kalimat yang baru saja Kyai luncurkan. Aku tak kuasa mengelak dari berbagai macam keterkejutan. Nyatakah, atau maya semata ini, Rabb?



“Aku menyayangimu seperti aku ramamu. Tentu telah kupilihkan gadis yang kunilai tepat untukmu. Engkau bersedia?”



“Apa yang Kiai kehendaki, telah menjadi kehendak saya, Kiai.” Kukerahkan sisa kesadaranku untuk menjawabnya sebaik mungkin.



“Pasanglah.” Jemari telunjuknya yang kuning langsat menunjuk pada bohlam, yang sedari tadi dipeluk gelisahku rapat-rapat.



***



“Masih kau simpan batik panjang yang Bu Nyaimu belikan untukmu?”
Kedua bola mataku mengerjap. Ia melarikan pandangan segera pada ingatan seminggu yang lalu, ketika Bu Nyai memberiku bungkusan plastik hitam. Isinya sepotong baju batik biru. Lemari tempatku menjaganya turut terbayang. “Nggih, Kiai.”



“Besok ada tamu penting, untukmu. Gadis yang pernah aku ceritakan. Kau perlu menemuinya, juga mengajaknya bicara. Barang menanyakan kabarnya saja.”



Baiklah. Seperti ada sehelai benang terjerambab di tengah jantungku. Lalu ditarik pelan benang itu. Lantas membuat darahku berdesir geli tak karuan. Gadis? Untukku?
“Kok diam saja?”



Ah, lagi-lagi suara penuh wibawa itu membuatku mengangguk.



***



Sudah hampir setengah jam aku terduduk di kursi di dapur rumah Kiai. Tak nampak padaku sesuatu apapun. Di luar sana remang-remang. Sedari tadi yang kupandangi hanya piring-piring yang berjajar, pecahan gelas yang menyendiri disudut dapur, kain bercorak hitam arang bekas mengangkat kukusan, dan pisau.



Ah. Gawat. Selama hampir dua puluh empat jam pikirku menerka, gadis seperti apa yang hendak Kiai pertemukan denganku? Apakah lesung pipit meliuk di kedua pipinya, seperti harapan ibu? Ataukah justru kedua pipinya memerah tomat seperti yang Bu Nyai sampaikan?
Aduhai, bung. Berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Kau akan segera tau.



“Kang Udin…!”



Remah suara peri kecil membuyarkan lamunan seketika. Tak lama, putri Kyai berusia empat tahun itu menghampiriku. Tangannya yang gemulai menarik sarungku.



“Tamu sudah datang. Hayuk…!”



Aku berdebar. Berdebur. Sejenak sempat menghanyut pada gelombang pasang yang asin. Lalu mataku basah. Tenang, hanya basah.
Kepalaku terasa begitu berat saat memasuki ruang tamu. Benarkah aku akan menemui seorang gadis yang khusus?



“Duduklah, Kang.” Pinta Bu Nyai lembut. “Sini, duduk disampingku.” Persis seorang ibu yang mendudukkan anaknya yang merajuk.
Prolog rumit disampaikan Kiai pada telingaku juga hadirin yang lain. Aku hampir tak bisa mengikutinya. Tak mampu merunutnya. Karena justru benakku berkejar-kejaran dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Aih, gadis itu duduk tepat di seberangku.



“Mengobrollah, Kang.”



Ah, Rabb, tolonglah. Beri aku api untuk mendobrak kekakuanku kali ini. Bagaimana caraku menyampaikan pada Kiai, bahwa aku belum siap? Siapa di ruangan ini yang mendengar saat aku meneriaki diriku sendiri?
Entah bagaimana, Kiai justru memberi isyarat kepada hadirin untuk menggeser duduknya beberapa meter dariku. Hingga seseorang berjarak terdekat dariku adalah gadis itu. Aku jelas berada pada situasi di mana aku tersudut untuk mengajaknya bicara.



Aku tau aku memulainya dengan canggung. Ah, seolah lambai dahan mangga di luar sana menertawakanku. Bisa jadi dahan-dahan itu meragukan kelelakianku. Tapi bukan tentang itu yang terpenting. Gadis ini istimewa. Tentu harus diperlakukan istimewa. Dan aku sudah kehabisan waktu untuk memikirkan perlakuan yang istimewa.



Aku beranikan diri mengangkat kepala beberapa derajat. Hah! Manis benar gadis ini! Pantas saja diluar sana cukup gelap. Ternyata bongkah cahaya rembulan kini pindah ke wajahnya. Aih, aih. Bukan main. Gadis pencuri sinar rembulan itu mengenakan baju sutra panjang. Bak bunga lembayung. Jingga.



Ia tersenyum. Ya Allah… dia punya lesung pipit! Lengkap di kedua pipinya!
Ibu….! Lesung pipit itu membuat sekujur tubuhku membiru! Gawat!



***



Aku pulang ke rumah. Wajah ibu membinar musim semi, saat aku beritakan sedikit tentang gadis yang kutemui. Suaranya riuh remah-remah karang, mengayun merdu.



“Tentu ia pilihkan tidak sembarangan, Nak. Jodohmu di tangan Kiai, insyaAllah.” Ibu berucap penuh kasih. Suaranya seperti danau yang meriak. “Hendak kita beli cincin kapan, Nak?”
“Cincin?” tanyaku polos.



Tangannya yang kini lebih sering gemetar itu merangkulku. “Tentu. Cincin yang hendak kau sematkan pada jemari calon istrimu nanti. Cincin pertanda Tuhan ikatkan ia padamu.” Ibu tersenyum, terlihat bahagia sekali. “Boleh ibu rencanakan cincin untuk calon menantuku?”



“Tentu, Bu.”
“Mesti kau belikan cinicn emas yang dipinggirnya terukir rantai meliuk, Nak. Lalu segugus bunga bermahkota enam yang memutik perlu berdiri ditengahnya. Indah sekali tentunya.”
“Perlukah seindah itu, Bu?”



“Tentu, Nak. Ia akan menghangatkan tubuhmu saat dingin mengulitimu. Juga menyejukkan kerongkongmu kala kemarau meretak repuh-repuh. Tak lupa, menjadi penumbuh benih dimana Ilahi menakar rahmat-Nya. Tentu ia pantas mendapatkan yang terindah.”



Benarkah aku akan menikahi seorang gadis yang baru sekali kuajak bicara? Tentu Tuhan dan Kiai tidak sedang bercanda.



“Jangan kau beranjak dari hatinya. Diamlah padanya. Mantapkan kokoh kuda-kuda batinmu. Hati ibu pun untuknya. Kau sebut apa gadis itu? Jingga?”
“Iya, Bu. Jingga.”



***



Kiai baru selesai wirid, saat matahari tergelincir beberapa sudut pagi ini. Dari kejauhan kulihat Kiai melambaikan tangannya padaku. Aku mengangguk tanda memahami bahwa Kiai memanggilku. Segera kuputar keran yang sudah mulai karatan disampingku. Harus kupastikan tanah liat yang mencumbui tanganku telah punah saat aku menemui Kiai.



“Sedang kau cerabuti umbi-umbi itu, Kang?”
“Benar, Kiai.”
“Duduk kau di sini bersamaku, bersedia? Aku hendak membicarakan hal serius.”



Aku tak menunggunya meneruskan permintaan. Segera aku duduk khidmat di hadapannya. Kupandang Kiai sedang mencari kalimat dalam benaknya. Apa hendak ia sampaikan?



“Tentang gadis itu, Kang.”
Ah, seolah Kiai tahu, celetuk hatiku.



“Apa pendapatmu?”



Kini aku yang mencari kalimat dalam benak. Kusibak pikirku, helai demi helai. Sedikit kebingungan aku mencari perbendaharaan kata. Cukup kelimpungan aku mencari kalimat jawaban atas pertanyaan Kiai yang mendadak ini. Namun tetap Kiai memberiku waktu berpikir.



“Saya taat apa Kiai dawuhkan kepada saya.”
“Kenapa? Kau berhak menghargai perasaan sendiri. Bahkan kau bisa sampaikan padaku bila kau tak berkenan. Sudah tahu ibumu akan hal ini?”
“Sudah, Kiai.”
“Diucapkannya apa padamu?”
“Beliau akan restui apa yang Kiai dawuhkan kepada saya.”
“Lalu kau hanya begitu saja? Tidak berpendapat?”
“Mohon maaf Kiai, bukan saya tidak berpendapat. Ketaatan kepada Kiai adalah apa yang saya utamakan. Kiai lebih paham atas diri saya, tentu juga apa yang terbaik bagi saya. Melebihi saya sendiri.”



“Tak ada sedikitpun penolakan pada dirimu?”
“Tidak, Kiai.”
“Tidak ada sedikitpun keraguan pada hatimu?”
“Tidak, Kiai.”



Aku menunduk. Dari pantulan keramik putih yang kami duduki kuketahui wajah Kiai nampak berseri. Kiai tersenyum lebar. Entah bagaimana, Kiai terlihat begitu bahagia.



“Ia gadis yang tepat untukmu, Kang. Aku tahu dirimu, dan aku tahu diri gadis itu.”



Aduhai, wajah teduh pencuri sinar rembulan itu kembali terbayang.



“Bagaimana bila jam satu tanggal satu bulan sembilan tahun ini?”
Aku tergeragap. Geragapku meriap kemana-mana. Ke tengkuk, ke ubun-ubun, ke liang telinga, ke siku, hingga mata kaki. Itukah tanggal pernikahanku? Bulan Sembilan? Angka yang disebut keberuntungan oleh orang-orang itu?



“Bila baik menurut Kiai.”
“Sampaikan pada kedua orang tuamu. Bila setuju, berarti itu tanggal baik.



***



Sudah puluhan langkah kutempuh untuk sampai ke kamar, meninggalkan masjid setelah menuntaskan bahtsul masail. Tapi pikiranku stagnan. Tak turut berjalan. Aku antara percaya dan tidak percaya, bahwa tanggal itu kini tinggal tiga bulan lagi. Setelah tiga purnama sirna, lalu muncul garis bulan muda, maka akad akan dilaksanakan.



“Bu, ia memiliki lesung pipit lengkap di kedua pipinya.”
“Baiklah, baiklah. Tentu tanggal itu sudah tepat untuk kita miliki lesung pipitnya.”
“Beserta ayunya ya, Bu?”
“Beserta pribadinya, anakku.”



Telepon singkat dengan ibu mencerna berat beban di dadaku. Restu ibu sudah kukantongi rapat-rapat. Apa aku siap? Beberapa waktu aku bahkan sempat tidak sabar.



Kau bunga lembayung jingga. Merambat, menjerat melingkari nafas kedipku. Menembus tapal batas ruang dan waktu, menjelujuri pikiranku. Kau bahkan dengan sopan memaksaku memujamu.



Kau lembayung jingga. Hendak kutanam pada singgasana rupa warna. Ya, kau. mengelabuiku melalui kabar-kabar angin. Mengarak curang hati untuk mencuri rindumu. Kurasa, guntur cukup kau jinakkan dengan tudung alismu yang lentik. Kelabu cukup kau kibas dengan rona senyummu yang merah muda. Ah, jingga. Aku mencurangi, diam-diam mulai mendambamu. Penuh gelora. Juga mendamba menjadi panjimu. Menjadi tameng keperak-perakan. Menghalau topan-topan nakal. Mengawan menghujan cinta dalam dadamu.
Wajahmu berkibar, dibawah kasih Ilahi pada pancaran pagi, siang, sore, juga malam gelam.



***



Pagi ini tak sedingin biasanya. Suhu menjadi lebih hangat. Sedang musim belum akan berganti. Ataukah perasaanku saja? Bisa jadi, kembang-kembang imitasi yang melilit dinding-dinding masjid membuat perasaanku menghangat kuku. Atau mungkin kain-kain kuning keemasan yang membalut pilar masjid itu? Atau, rekah binar yang mengisi wajah ibu?



Semua orang sibuk, beberapa hari ini. Menata kursi, merapikan halaman, menghias masjid, juga mengaduk jenang-jenang untuk sesuguhan. Beberapa dari mereka memeluk dan menyalamiku erat-erat. Berpesan, bahwa kali ini aku perlu berdandan bak seorang pahlawan yang menjemput pujaan di ujung senja. Kalau perlu, kusewa kereta kencana dari keraton Jogjakarta. Di sisi lain, Kyai meminta kusiapkan lahir batinku, untuk hari ini. Mengucap ikrar dengan si jingga.



Ibu bilang, aku terlihat tampan. Beberapa kali ia membetulkan letak rangkaian melati yang dikalungkannya dileherku. Sesekali tetes air mata melinangi sudut matanya yang mulai berkerut. Kebingungan sempat meliputiku saat mencari makna dibaliknya. Hingga beberapa kilatan pertanda bahagia menyembul dari dalamnya.
“Ibu, bahagiakah ibu?”



Helai-helai belaian ia baringkan di kepalaku. “Bagaimana mungkin ibumu tidak bahagia, Nak. Kau akan berikan aku menantu yang jiwanya kaya. Ia akan mengkayakan jiwamu, dan jiwaku. Ia akan kokohkan kau, juga ibu. Ia begitu baik dan manis.”



Aku tersenyum. Walau begitu, aku kehabisan energi untuk jujur pada diriku sendiri, bahwa aku berdebar. Mendebur ombak. Juga merungkut rumput tak sabar dicerabut.



Detik-detik menuju ijab qobul merangkak begitu cepat. Gema perasaanku sepertinya terlalu sederhana untuk dirupakan sepenuhnya dalam kata. Kehadiran sanak keluarga, sahabat santri, begitu mengundang kemewahan cinta. Lalu kini disampingku, seorang gadis dengan kebaya abu perak melipat pandangan dalam-dalam. Kulirik, dan rangkaian manik-manik menghiasi kerudungnya. Aku gugup. Tidakkah saat yang kunanti telah ada dihadapan?



Kurasai seluruh mata menangkap setiap sudut diriku. Aku dirabai pandangan hadirin. Mungkinkah mereka membicarakan peci putihku yang sedikit miring sederajat sudut? Atau membahas bagian ujung bajuku yang sedikit tersibak? Atau mungkin justru merisaukan keringat yang mengucur terlalu deras dikeningku lantas melelehkan riasanku?



Ah, aku terlalu percaya diri. Semestinya bidadari yang disampingku yang ditatapi mereka. Pikiranku tak mahir menerka, memang.



Aku tiba-tiba teringat seorang teman. Ia perawat. Aku ingin memintanya menghitung frekuensi napasku, denyut nadi, suhu tubuh, tekanan darah, juga detak jantungku. Hanya untuk memastikan bahwa saat ini aku benar berada pada kecemasan memuncak.



“Bukankah kita siap untuk memulai?” Seorang penghulu lengkap dengan pakaian serba putih menanyai kami. Kami semua.
Hadirin tersenyum. Aku bersiap pada hati, pikir, juga lisan. Aku bersiap, menakar bicara atas ikrar dan ucap setia.



“Qobiltu nikaha wa tazwijaha bil mahril madzkur, halan.”
Seluruh ruangan meriuh. Menggema do’a dan puja syukur kepada Ilahi, yang memutar mentari hingga datang pagi.



Aku telah menikah. Ya, aku telah menyelesaikan ijab qobul.
Perkawinan merupakan kesatuan keilahian, sehingga yang ketiga dapat lahir di dunia. Itulah persatuan dua jiwa dalam kekuatan cita guna melebur keterpisahan. Itulah persatuan yang lebih luhur, yang mempersenyawakan perbedaan dua jiwa. Itulah cincin emas yang berwujud rantai, dengan pangkal berupa kilauan dan ujung berupa keabadian. Itulah hujan air murni yang jatuh dari langit kudus, guna menyuburkan dan memberkahi lading-ladang alam Ilahi.



Dan biarkan semua mengalir seperti air yang memberi kesejukan. Atau udara yang menerbangkan lara. Biarkan tumbuh seperti benih yang tersemai. Dan mekar seperti bunga-bunga. Sebab, mengenal adalah sebuah peristiwa alami, tanpa rekayasa. Karena itulah pernikahan menjadi menakjubkan.
Dan kau, jingga, adalah kesatuanku. Kini.

Rabu, 13 Februari 2013

Light for The Darkness #1 (Preambule)


Note ini merupakan reportase kajian buku ‘Nur adz-Dzalam’ karya Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani wf: 1314 H/1898 M
Sang penulis adalah Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin ‘Arabiy bin ‘Ali at-Tanari al-Bantani al-Jawi, seorang ulama kelahiran Desa Tanara Kecamatan Tirtayasa Serang Banten Jawa Barat Indonesia. Beliau dilahirkan pada tahun 1230 H bertepatan dengan tahun 1813 M dari keluarga yang terkemuka dalam penyiaran agama Islam di bumi Banten Jawa Barat. Syeikh Nawawi dalam fikih mengikuti madzhab Syafi’i dan dalam thariqat mengikuti madzhab Imam Asy’ariy. Pemberian nama beliau Muhammad Nawawi diambil nama seorang Rasul Allah sekaligus Nabi akhir zaman Muhammad bin Abdullah, sedangkan Nawawi diambil dari nama seorang Wali Allah kelahiran Damasykus Muhyiddin Abi Zakaria Yahya bin Syarafun Nawawi. Sebagian ulama berpendapat bahwa karya Syikh Nawawi Banten mencapai 97 kitab meliputi berbagai disiplin ilmu; diantaranya: Tafsir, Hadits, Musthalah Hadits, Fikih, Ushul Fikih, Tauhid, Tasawuf, Nahwu, Shorof dan sebagainya. Beliau adalah sosok yang dermawan, bertakwa, zuhud, tawadlu’ dan sayang terhadap orang-orang fakir.Syeikh Nawawi Banten wafat di Makkah al-Mukarromah pada akhir bulan Syawwal 1314 H/1898 M dan dimakamkan di Ma’la dekat kuburan Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar dan Syeikh Islam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy asy-Syafii radiyallahu ‘anhum ajma’in. Amiin.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat pada hambaNya berupa pengetahuan (intuisi) serta memulyakan mereka anugrah bisa melihatNya kelak di surga taman keabadian. Shalawat dan salam kami sanjungkan kepada Nabi yang diutus kepada semua manusia Muhammad Saw., keluarga dan sahabat-sahabat beliau serta para pengikut-pengikutnya.
Buku ‘Nur adz-Dzalam’ merupakan intepretasi dari nadzam (syair) ‘Aqidat al-‘Awam karya Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Hasani yang menerangkan seputar ilmu tauhid. Sebagai pengetahuan dasar, terlebih dahulu kami akan memaparkan faktor yang melatarbelakngi penyusunan nadzam tersebut.
Pada tahun 1258 H Sayyid Marzuqi (an-Nadzim:pengarang nadzam) ditemui Rasulullah Muhammad Saw. Serta para sahabat dalam sebuah mimpi beliau yang terjadi menjelang subuh hari Jumat awal bulan Rajab. Dalam mimpi tersebut Rasulullah mengutus beliau untuk membacakan sebuah nadzam tentang ilmu tauhid, yang dapat menjadikan penghafalnya masuk surga dan sampai pada tujuan yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah. Beliau bingung keudian bertanya kepada Nabi: “apakah nadzam tersebut wahai Rasul?” para sahabat menjawab: dengarkan apapun yang dibaca Rasulullah, kemudian Rasulullah membacakan sebuah nadzam: “abda’u bismillahi wa ar-Rahmani, sayyid Marzuqi pun mengikuti “abda’u bismillahi wa ar-Rahmani, sampai nadzam itu hatam Rasulullah tetap mendengarkan menyimak bacaan beliau. Ketika beliau terbangun dari tidur, belaiu bergegas menuliskan apa yang diajarkan Rasulullah dalam mimpi tersebut, beliau menuliskannnya dengan sempurna dan tidak satupun bait terlewatkan, mulai bait pertama sampai bait terakhir. Sekitar 3 bulan kemudian epatnya tanggal 28 Dzulqo’dah sayyid Marzuqi kembali ditemui Rasulullah dalam sebuah mimpi, kali ini mimpi beliau terjadi di waktu sahur, dalam mimpi tersebut Rasulullah bersabda kepada beliau: “bacalah apa yang telah kau kumpulkan (dalam sebuah tulisan) yang ada kalbumu” kemudian sayyid Marzuqi membacanya dan Rasulullah berdiri dikerumunan para sahabat sambil menyimak bacaan beliau. Ketika beliau usai membaca nadzam di hadapan kanjeng Nabi, kemudian Nabi bersabda: “semoga Allah memudahkanmu untuk melakukan sesuatu yang telah Dia ridhai (mengarang nadzam ‘Aqidat al-‘Awam), semoga Allah menambahkan keberkahan dan kemanfaatan untuk semua kaum muslimin. Amiin.

Tambahan:
Perlu kami sampaikan bahwa meski sayyid Marzuqi itu meyusun nadzam dilatarbelakangi oleh sebuah mimpi, namun mimpi bertemu Nabi dapat dijadikan tendensi hukum dan mimpi tersebut adalah mimpi nyata, berdasarkan haitds Bukhari-Muslim dalam Shohih Muslim: “Siapa yang melihatku saat mimpi, maka seakan-akan ia melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku”, disamping itu sayyid Marzuqi termasuk cucu Nabi dari keturunan jalur Imam Hasan bin Imam ‘Ali suami sayyidah Fatimah binti Rosulillah Muhammad Saw. Sehingga tidak menutup kemungkinan seorang cucu ditemui sang kakek dalam sebuah mimpi. Allahu a’lam.

>>> kajian ini saya laksankan setiap jumat malam bersama para sahabat di gubuk derita saya, insyAllah reportase ini akan kami tulis seminggu sekali. Mohon doa para pembaca agar saya dapat istiqamah dan ikhlash dalam menulis.