Wahyu pertama yang dibawa Jibril (QS. al-‘Alaq
1-5) selain memerintahkan kita untuk melakukan aktifitas membaca, juga
mengingatkan pada kita bahwa Allah telah memuliakan martabat manusia memalui
pena. Artinya dengan proses belajar mengajar (membaca dan menulis),
manusia dapat menguasai ilmu pengetahuan, yang dengannya manusia dapat
mengetahui rahasia alam semesta.
Dalam
Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraisy Sihab disebutkan, salah satu ulama kontemporer Muhammad ‘Abduh memahami
perintah membaca di sini bukan sebagai
beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklifi) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amr takwini yang mewujudkan kemampuan
membaca secara aktual pada diri
pribadi Nabi Muhammad SAW.
Dengan kalimat
“Iqra’ bismi rabbik”, Al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan untuk membaca, tapi
‘membaca’ adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang
sifatnya aktif maupun pasif.
Menurut Tafsir
Al-Misbah, Islam memerintahkan agar kita belajar membaca dan menulis serta mempelajari ilmu pengetahuan
demi meningkatkan derajat kita sebagai makhluk
Allah yang maha mulia, kita dianjurkan untuk sanggup mengembangbiakkan ilmu pengetahuan yang telah Allah
limpahkan kepada kita.
Membaca dan
menulis merupakan sebuah aktifitas yang dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan seseorang. Keterkaitan membaca dengan menulis sama seperti dua
sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semua pembaca mungkin bukanlah
penulis, tapi setiap penulis pastinya adalah pembaca. Karena sangat mustahil
bagi seorang penulis, sedang ia bukan seorang pembaca.
Dengan membaca
sebetulnya kita sedang menggali ide-ide orang lain untuk dikembangkan menjadi
ide baru milik kita sendiri. Tentunya tetap dengan kaidah etika penulisan yang
benar. Membaca juga merupakan fase kedua-setelah kemampuan berbicara-bagi
seorang anak dalam belajar berbahasa, yakni fase mengenali segala hal yang
terdapat di sekelilingnya.
Membaca
membutuhkan dan melibatkan proses kognitif. Jika dalam fase bertutur kata
(berbicara) seseorang hanya tinggal meniru apa yang diucapkan dan didengarkan,
maka dalam fase belajar membaca ia harus mengenal dan berinteraksi dengan
simbol-simbol bunyi dan benda yang disimbolkan dengan susunan huruf. Dalam fase
ini, seseorang yang membaca berarti ia menjalani proses dialektik antara simbol
bunyi dengan wujud bendanya.
Sedangkan
aktifitas menulis adalah bentuk pengungkapan ide-ide pada diri kita untuk dapat
dikritisi dan ditanggapi sehingga ide tersebut dapat disempurnakan baik oleh
diri kita sendiri atau orang lain. Kegiatan menulis berbeda dengan membaca atau
bertutur kata. Jika kegiatan membaca melibatkan proses dialektika pikiran
antara simbol bunyi dengan bendanya, maka
kegiatan menulis melibihi dari itu. Menulis melibatkan proses pemikiran atau gagasan yang lebih
mendalam. Seseorang yang sedang menulis, berarti ia sedang mengeluarkan apa
yang ada dalam pikirannya untuk dituangkan dalam bentuk simbol bunyi sehingga dapat
dinikmati oleh orang yang membacanya.
Taufik Ismail,
seorang penyair Angkatan 66 pernah mengungkapkan: “Masyarakat kita buta membaca
dan lumpuh menulis”. Pernyataan seperti inilah yang mustinya menjadi cambuk
semangat kaum ‘sarungan’ yang ada di pesantren untuk terus membaca dan
mengaplikasikannya dalam bentuk tulisan.
Tradisi di Pesantren
Seiring
datangnya bulan Ramadan, di pesantren selalu digelar kajian kitab kuning yang
dikenal dengan istilah ‘pasan’. Pasan merupakan kegiatan pembacaan kitab kuning
oleh salah seorang Kyai atau Ustadz pesantren, dan santri mendangarkan dengan
khidmat sambil mengartikan (baca: maknai). Kegiatan seperti ini hendaknya dapat
dijadikan oleh kalangan pesantren sebagai manifestasi melestariakan budaya baca
dan tulis di pesantren.
Dalam
literatur sejarah dapat kita jumpai bahwa sebuah peradaban yang besar ditandai oleh munculnya karya-karya tulis.
Peradaban Yunani misalnya, peradaban tersebut
menjadi agung karena sentuhan tangan-tangan para pemikir besar seperti Aristoteles, Plato dan seterusnya, yang
tulisan-tulisannya masih kita baca dan menjadi rujukan sampai sekarang. Peradaban Islam pun menjadi dikenal di
semenanjung Eropa karena karya-karya
besar yang terlahir dari para intelektual muslim ketika itu. Sebut saja Ibnu
Rusyd (di Barat dikenal dengan Averrous), Ibnu Sina (di Barat dikenal dengan Avecena), Jabir bin Hayyan (di
Barat dikenal dengan Algebra) dan seterusnya.
Begitulah,
kemajuan suatu peradaban selalu tidak dapat dilepaskan dari budaya
tulis-menulis yang kuat. Dengan menulis paling tidak seseorang dapat
mengungkapkan ide-idenya secara lebih
luas dan lama. Maksudnya ide tersebut akan mudah tersebar dan lebih lama dikonsumsi karena tidak
berakhir dalam diskusi ataupun rapat yang hanya berlangsung beberapa jam saja.
Kegiatan
membaca mudah dilakukan di manapun, kapanpun dan oleh siapapun yang mampu. Meski demikian terkadang
aktifitas membaca sulit untuk dilakukan. Banyak
orang lebih suka dan membiasakan diri dengan ngobrol daripada membaca. Faktanya, membudayakan ‘membaca’ lebih
sulit katimbang kebiasaan ‘tutur tinular’, yaitu mencari
informasi dengan bertanya atau sekedar ngobrol-ngobrol
antar sesama, dan lebih
sulit lagi, membiasakan diri dengan budaya menulis. Budaya menulis merupakan pintu gerbang untuk melakukan transformasi sosial dalam
rangka membangun peradaban umat
manusia ke arah yang lebih tinggi. Perlu ada penyadaran kepada para santri
bahwa menulis dan membaca bukan hanya menjelang atau saat ujian saja, melainkan
sebuah proses panjang. Proses itu akan menjadikan ilmu tertanam lebih kuat
manakala dilaksanakan secara rutin dan sungguh-sungguh.
Oleh karenanya
budaya membaca dan menulis mampu mengikat ilmu kuat-kuat seluas-luasnya. Menurut perspektif al-Quran sendiri, selain kita
menemukan bahwa wahyu pertama Tuhan kepada utusan-Nya (Muhammad) adalah kata
“Iqra (bacalah)”, kita juga menjumpai salah satu nama surat dalam al-Qur’an
adalah al-Qalam. Jika
diterjemahkan kedalam bahasa kita, kata Al-Qalam berarti pena.
Lantas, apa
yang menarik dari nama pena, kok sampai dipilih untuk menamai firman Allah? Apa
hubungannya dengan kemajuan suatu peradaban? Jika kita membaca surat al-Qalam
(pena), maka kita akan disambut dengan ayat yang berbunyi: “Nun, demi pena
dan apa-apa yang mereka tulis.”
Penulis tafsir
al-Bahr al-Muhith mengutip salah satu pendapat yang menyatakan, bahwa al-Qalam
yang dimaksud adalah pena sebagaimana yang fungsinya sudah dikenal oleh manusia untuk menulis. Penafsiran semacam ini
memberikan penjelasan bahwa jika Tuhan
memiliki pena, tentunya pena itu tidak seperti yang ada dalam gambaran dan pemahaman manusia. Pena Tuhan berbeda
dengan pena yang dipakai manusia.
Allah mencatat segala sesuatu
(baca: keputusan-Nya) di lauh al-mahfudz dengan pena. Melalui pena (al-qalam),
Allah mencipta dan menulis seluruh kehidupan di alam jagat raya (al-ka’inat).
Allah menulis (mencatat), maka dunia menjadi ada. Oleh karena itu, makna
metaforis dari pena, sebagaimana yang disumpahkan oleh Allah, menurut sebagian mufassir dimaknai sebagai
simbol bagi tegaknya ilmu pengetahuan.
Pada
prinsipnya, menulis adalah satu dari empat skil atau keterampilan dasar komunikasi, selain itu ada keterampilan
berbicara, membaca dan mendengar. Karena itulah,
menulis menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi seseorang. Keberadaan setiap pembelajaran
yang bermuatan aktifitas membaca dan menulis yang ada di pesantren untuk saat
ini setidaknya sudah memberikan pengaruh yang diperhitungkan, karena seperti
yang kita jumpai pesantren telah melahirkan banyak penulis, yang secara beriringan juga mampu meningkatkan gairah
penerbitan buku ditanah air.
Jika Tuhan
bersumpah atas nama pena dan apa-apa yang tertulis, maka tidak salah jika kita
membangun peradaban umat manusia ini-khususnya di kalangan pesantren- dengan
menulis. Bukankah pena (al-qalam) menjadi awal dari kehidupan segala yang ada?.
Katakan: “‘aku menulis, maka aku ada”.
* dimuat di Jawa Pos Radar
Bojonegoro 13 Agustus 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar