Pages - Menu

Minggu, 03 Juli 2016

saya dan Guru: Menikah

Guru: kang, kamu mau nikah 'malem sanga' Ramadhan ini?
saya: sama siapa guru?
Guru: ya itu, sama gadis depan rumahku,,
dia-menurutku- masuk kategori 'qanitat', kamu masih ingatkan di quran itu ada ayat yang menyebutkan kalau syarat wanita shalihah itu cuma 2; qanitat dan hafidzat (yang manut dan penjaga), penjaga yang dimaksud adalah menjaga apa saja yang menjadi kewajibannya untuk ia jaga, baik yang berkaitan dengan hal adami maupun hak Tuhannya, sementara 'qanitat' itu manut/nurut, bukan kepadamu melainkan kepada Tuhanmu dan RasulNya, jadi jika kelak dia nurut kamu, kamu jangan GR dulu, karena sebenarnya ia sedang manut sama Tuhannya

saya: bolehkah saya minta waktu untuk berfikir semalam saja guru? bukankah bapaknya gadis itu santrinya guru juga sama sepertiku?!
Guru: hmm,, oke kang, silakan istikharah, kamu santri, istikharah adalah langkah yang harus kau tempuh, ingat!! istikharah itu ada dua makna, 1. minta pilihan (dari kata khiyaroh) agar Allah yang memilihkanmu, 2. minta kebaikan (dari kata khair). Yang pertama itu ketika kamu sudah ada dua pilihan dan kamu bingung salah satu dari keduanya, sementara yang kedua, samasekali kamu belum punya pilihan atau kamu tidak bisa memilih seperti saat ini. Kamu tidak usah mencoba 'ngatur-ngatur' Tuhan dengan permintaan yang terkesan membatasi 'fadhal'Nya Allah atas dirimu, pokoknya minta baik gitu aja, bagaimanapun dan dengan apapun caranya serahkan Allah, itu etikanya. Ya, benar,, bapakanya juga ngaji di sini sama sepertimu, kenapa? massalah buat elloh??! Nabi itu sama khulafa' ar-rasyidun 4 juga punya hubungan mertua-menantu, padahal mereka semua sahabat Nabi, ada yang dijadikan mertua, ada pula yang dijadikan memantu toooh?!
-------------------
keesokan harinya:
Guru: bagaimana? deal kang?
saya: bismillah, la haula wa la quwwata illa billah. deal guru,, mohon pangestu&bimbingannya,
Guru: alhdulillah, ma kana min ni'matin fa minallah,
saya: tapi guru,, lha nanti 'tetek bengek' nya bagaimana? undangan, lamaran, resepsi, prosesi akad, serah terima mempelai, dll ?
Guru: kamu ingat kisah sahabat Nabi yang bernama Julaibib al-Anshari? beliu dinikahkan dengan bangsawan kaum Anshar oleh Nabi dengan proses yang sangat simpel; ditanyai, dilamarkan, dinikahkan, tidak punya mahar disuruh minta kepada sahabat-sahabat Nabi, Tidak pakai 'tetek bengek' begitu,, meski endingnya Julaibib wafat sebelum yaum zafaf, setidaknya kita bisa memetik pelajaran dari proses perjodohan ini.
saya: injih guru, mantep,, minta doa restu guru..
------------------
Guru: silakan masuk kang manten anyar, sudah berlebaran ke mana saja? kamu berlebaran dzohir-batin, dzohir saja atau batin saja?
saya: terimakasih Guru, barusan saya pulang dari rumah kyai Amir Yusuf, beliau kerja sebagai penghulu KUA kecamatan sebelah desa..
wah, saya belum bisa identifikasi lebaran saya ini sudah dzohir-batin atau belum Guru.. maaf Guru, mohon bimbingannya

Guru: di sebuah kitab ada sebuah ungkapan(di kitab tersebut redaksinya bermodel hadits), sengaja tidak saya sampaikan itu hadits atau bukan karena memang hadits-hadits yang ada di kitab tersebut-kata beberapa pakar hadits-banyak yang dlaif bahkan palsu, tapi ini tidk akan saya terangkan di sini, yang mau saya sampaikan adalah isi dari 'dawuh' atau ungkapannya, kurang lebih begini:
ketika hari raya, iblis itu mengumpulkan anak turunnya kemudian komandan iblis menyampaikan pengumuman: hari ini anak adam telah diampuni dosa-dosanya, kini trik yg harus kita lakukan adalah menggoda mereka dengan kesenangan-kesenangan pasca lebaran yang bermuatan kemaksiatan. Jika kita mau waspada beberapa kali iblis berhasil dengan trik ini, kita bisa lihat silaturrahmi dan reuni-reuni yang berlebihan sehingga menjerumuskn pelakunya ke arah maksiat mulai dari salaman dengan yang bukan mahram sampai ber-khalwat juga pesta mihol di malam lebaran. belum lagi kumpul-kumpul yang kemudian ngerumpi/ngrasani 'ngalor-ngidul' dan berboros-borosan dalam membelanjakan sesuatu.
nhah.. jika kamu bisa identifikasi itu semua, kemudian kamu menjauhinya dan kamu berbenah sehingga kualitas ibadahmu meningkat pasca ditinggalkan ramadhan, berarti berlebranmu sudah dzohir-batin kang, ingat,, dawuhnya ulama: kun rabbaniyyan wa la takun ramadhaniyyan (jadilah orang yang beribdah karena Rabb bukan hanya karena moment ramadhan). eh lha kamu sama tokoh yang katamu seorang penghulu itu dibekali apa untuk pernikahan barumu?

saya: anu guru,, beliau dawuh kalau habis nikah itu inshAllah rejekinya pasti ditambah sama gusti Allah, bahasa simpelnya nikah itu 'nggothek' rejeki yang masih di langit. benar begitu ya guru?
Guru: ada hadits qudsi yang kuranglebih maknanya begini: kamu tidak usah tanya rejekimu esok hari, sebagaimana Aku tidak menanyakan ibadahmu esok hari. jelas rejekimu setelah nikah akan bertambah, wong kewajibanmu juga bertambah, yakni ngrumat istri,, yang terpenting kamu ibadah saja, cari nafkah saja, jangan terlalu sibuk memikirkan rejeki, rejekimu tak akan salah alamat.
sekarang kamu perbanyak baca quran juga hadits-hadits Nabi, belajar 'nepakne lakon' dengan dawuhnya Allah dan sunnahnya Nabi, tapi ya tetep main ke sini, jika kamu tak faham konsultasikan, karena ada adigium dari Sufyan bin Uyainah yang dikutip oleh Ibn Hajar al-Haitami di Fatawa Haditsiyah beliau: al-Haditsu Mudhillun illa li-l fuqoha' (hadits itu menyesatkan kecuali bagi ahli fikih), meski fikihmu dari pesantren (mungkin)sudah 'ngatasi' sebagai sangu baca hadits, tapi kamu tetap masih butuh seorang guru, teruslah berguru, teruslah mengaji,,

sudah..sudah, monggo disambii..
http://iniituu.unipdu.ac.id/menemu-islam-nusantara-di-belantara-ramadhan-5-maleman-poso-dalam-budaya-jawa/ 

1 komentar: