Nieczsche: “ setelah Tuhan dibunuh oleh kaum borjuis, akibatnya
timbul kekacauan, kehampaan, bahkan pemiskinan yang menakutkan”.
Pembacaan terhadap teks keagamaan
mestinya plural, yaitu tanpa aturan pintu masuk: versi pertama pembacaan harus
dapat menjadi yang terakhir. Roland Barthes, hal 191. Pernyataan barthes bisa
dijadikan sebagai acuan, bahwasanya pemahamaan keagamaan tidak milik perorangan
atau golongan tertentu, sehingga pesan agama yang universal bisa ditangkap oleh
manusia dengan baik. Pemahaman keagamaan tidak menjadi eksklusif dan hanya
milik kaum borjuis. Terkadang mereka mengunakan agama sebagai legalitas untuk
melakukan kekerasan, penganiayaan bahkan kriminalisasi atas nama agama. Penolakan
rakyat Kalimantan dan demo di Jakarta menolak ormas yang sering melakukan
tindakan anarkis atas nama agama akhir-akhir ini merupakan bentuk kegelisahan
masyarakat terhadap pemahaman agama secara borjuis yang telah menimbukan
berbagai aksi kekerasan.
Teks dengan segala misteri dan kelebihanya menyimpan potensi dan rahasia
yang begitu dahsyat. Sejarah mencatat bagaimana pengaruhnya, ia melahirkan
sebuah peradaban manusia. Ketika teks ditarik pada studi kajian peradaban
agama, maka tidak bisa lepas dari sepirit memahami teks. Islam, Yahudi dan
Nasrani agama samawi yang tercermin dalam bingkaian teks kitab suci,
sehingga Islam menurut Nasr Hamid merupakan bagian dari peradaban teks “hadá¾±rah al-Nass”.
Kitab suci dalam telaah semiotika dapat dilihat sebagai teks dengan
ciri-cirinya yang khusus, berbeda dengan teks lain pada umunnya. Perbedaanya
terletak pada sifat suci yang melekat pada teks tersebut, dan dihubungkan
dengan sesuatu yang bersifat transenden, melampau dunia manusia, dan bersifat
metafisik, khususnya terkait dengan wilayah ketuhanan. Hal, 157.
Karena itu, pemahaman kitab suci sebagai sebuah teks suci tentu
akan berbeda dengan teks lain yang bukan suci. Meskipun kitab suci diturunkan
pada manusia dengan mengunakan bahasa manusia (misal bahasa Arab), terdapat
aspek-aspek tertentu dalam kitab suci tersebut (tanda, simbul, kode, atau
makna) yang mempunyai ciri khusus sebagai bahasa ketuhanan, terutama ketika ia
berkaitan dengan makna awal (original meaning). 157.
Al-Qur’an dapat diposiskan sebagai mitra dialog bagi para
pembacanya. Perspektif ini mengasumsikan bahwa teks al-Qur’an merupakan sosok
pribadi yang mandiri, otonom, dan secara obyektif memiliki kebenaran yang bisa
dipahami secara rasional ketika bersentuhan dengan culture studies.
Pemahaman teks kitab suci tidak bisa lepas dari pembacaan cultural studies yang banyak
dipengaruhi oleh struktrualisme, postsruktrualisme, dekontruksi, psikoanalisi. Culture
studies melihat berbagai fenomena kebudayaan sebagai tanda sekaligus
melakukan pembongkaran terhadap kode dan struktur yang membangunya serta
melihat muatan-muatan idiologi dibalik tanda itu (struktrualisme).
Dalam arah yang berbeda, culture studies mencoba
membentangkan berbagai relasi kekuasaan, dominasi, hegemoni, ketidakadilan,
represi. Culture studies mencari format bagi kemungkinan perlawanan,
subversi, dan penentangan cultural: ia mencari berbagai kemungkinan baru
pemaknaan dan pembacaan yang dinamis, prospektif, dan produktif
(poststruktrualisme).
Pembacaan cultural studies dalam memahami pembacaan
masyarakat terhadap teks al-Qur’an tentunya mempunyai problem epistimologisnya
sendiri. Salah satunya adalah culture studies bukanlah sebuah pendekatan
tunggal, melainkan sebuah pendekataan plural dan multidimensi
dengan berbagai idiologi-nya. Paling tidak ada dua cara pembacaan yang
saling bertentangan yang digunakan dalam culture studies yaitu
struktrualisme dan postsruktrualisme.
Teks merupakan warisan yang tidak bisa lepas dari proses
signifikasi, di dalamnya terdapat sebuah entitas fisik diubah menjadi
materialitas penanda (signifier), dengan mengaitkanya dengan sebuah
konsep atau makna tertentu (signified), yang diatur berdasarkan
kode-kode tertentu secara sosial, cultural, dan membentuk apa yang disebut
tanda (sign). Tetapi, ada fenomena yang di dalamnya entitas yang
mempunyai status penanda justru ditinggalkan fungsi signifikasinya, dengan kata
lain peran pertandaanya diputus dan memberinya peran yang lain. Proses ini
disebut sebagai proses designifikasi.
Fetitisme merupakan salah satu bentuk
designifikasi, yang melaluinya sebuah tanda (atau teks) ditanggalkan rantai dan
relasi pertandaanya, kemudian dimuati dengan relasi-relasi lain, khususnya
relasi kekuatan, pesona, atau mistifikasi tertentu. Sebuah tanda yang
sebelumnya mempunyai fungsi sebagai kendaraan untuk menyampaikan pesan
tertentu, dijadikan sebagai kendaraan bagi sebuah kekuatan yang khas. Tanda
yang sebelumnya berfungsi untuk merepresentasikan sesuatu (pepresentation),
menjadi hal, yang digunakan untuk menghadirkan sesuatu (presentation).
Gadamer mengembangkan pemahaman
tanda (atau teks) kedalam kata “lenguistik” dengan pernyataanya ada ‘being”
yang dapat dipahami adalah bahasa, tanda (atau teks) adalah pertemuan dengan
ada being melalui bahasa. Inti tanda terletak pada alam pikir sehingga
tinggi rendahnya nilai sebuah tanda terletak pada alam pikir sang pengarang,
sehingga sebuah pemahaman teks bukan
wajah seutuhnya dari ajaran.. Hal yang fundamental bagi Gadamer adalah
penolakan terhadap teori “tanda”dalam hakekat bahasa, bagi Gadamer bahasa adalah
situasi, ekspresi dan modus eksistensi manusia.
Bagi Gadamer ada empat komponen yang
tidak bsa dilepaskan dari interpretasi terhadap tanda (atau teks) yaitu: Bildung
(pra pemehaman), sensus communis (aspek-aspek sosial, kultural),
perimbangan dan selera (keseimbangan insting pancaindara dengan kebebasan
intelektual.
Buku Bayang-bayang Tuhan Agama dan
Imajinasi karya Yasraf Amir Piliang memberikan berbagai inspirasi, bagaimana
kita bersentuhan dengan ajaran agama yang tersimpan dalam gumulan teks kitab
suci. Ia berhasil memaparkan berbagai dimensi pembacaanya dari berbagai sudut
pandang, terutama degan pendekatan culture studies. Teks tidak berdiri
sendiri tetapi selalu diwarnai berbagai variable baik sisi simiotika, sejarah
dan tradisi lokal. Pemahaman agama tidak hanya milik orang atau golongan yang
menjadikan agama terasa milik kaum borjuis yang memliki wewenang doktrinasi
yang berarti pemahamanya merupakan bagian the mind of God (keinginan
Tuhan). Yasraf berhasil mengulas dengan baik bagaimana kita mendekati teks yang
penuh dengan multi tafsir.
* Sebuah resensi buku Bayang-bayang Tuhan, Agama dan Imajinasi, karya Yasraf Amir Piliang. Peresensi adalah sahabat saya:
M.Sholihin Lc. M. Hum, Alumni Al-Azhar kairo dan mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat ini dia menempuh kelas internasioanal di Tunisia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar