(Preambule)
Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin ‘Arabiy bin ‘Ali at-Tanari
al-Bantani al-Jawi adalah seorang ulama kelahiran Desa
Tanara Kecamatan Tirtayasa Serang Banten Jawa Barat Indonesia. Beliau dilahirkan pada tahun 1230 H
bertepatan dengan tahun 1813 M dari keluarga yang terkemuka dalam penyiaran
agama Islam di bumi Banten Jawa Barat. Syeikh Nawawi dalam fikih mengikuti
madzhab Syafi’i dan dalam thariqat mengikuti madzhab Imam Asy’ariy.
Pemberian nama beliau Muhammad Nawawi diambil nama seorang Rasul Allah
sekaligus Nabi akhir zaman Muhammad bin Abdullah, sedangkan Nawawi diambil dari
nama seorang Wali Allah kelahiran Damasykus Muhyiddin Abi Zakaria Yahya bin
Syarafun Nawawi. Sebagian ulama berpendapat bahwa karya Syikh Nawawi Banten
mencapai 97 kitab meliputi berbagai disiplin ilmu; diantaranya: Tafsir, Hadits,
Musthalah Hadits, Fikih, Ushul Fikih, Tauhid, Tasawuf, Nahwu, Shorof dan
sebagainya. Beliau adalah sosok yang dermawan, bertakwa, zuhud, tawadlu’
dan sayang terhadap orang-orang fakir.
Syeikh Nawawi Banten wafat di Makkah al-Mukarromah pada akhir
bulan Syawwal 1314 H/1898 M dan dimakamkan di Ma’la dekat kuburan
Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar dan Syeikh Islam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy
asy-Syafii radiyallahu ‘anhum ajma’in. Amiin.
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat pada
hambaNya berupa pengetahuan serta memulyakan mereka anugrah bisa melihatNya
kelak di surga taman keabadian. Shalawat dan salam kami sanjungkan kepada Nabi
yang diutus kepada semua manusia Muhammad Saw., keluarga dan sahabat-sahabat
beliau serta para pengikut-pengikutnya.
Buku ‘Nur adz-Dzalam’ merupakan intepretasi dari nadzam
(syair) ‘Aqidat al-‘Awam karya Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Maliki
al-Hasani yang menerangkan seputar ilmu tauhid. Sebagai pengetahuan dasar,
terlebih dahulu kami akan memaparkan faktor yang melatarbelakngi penyusunan nadzam
tersebut.
Pada tahun 1258 H Sayyid Marzuqi (an-Nadzim:pengarang
nadzam) ditemui Rasulullah Muhammad Saw. Serta para sahabat dalam sebuah mimpi beliau
yang terjadi menjelang subuh hari Jumat awal bulan Rajab. Dalam mimpi tersebut
Rasulullah mengutus beliau untuk membacakan sebuah nadzam tentang ilmu
tauhid, yang dapat menjadikan penghafalnya masuk surga dan sampai pada tujuan
yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah. Beliau bingung keudian bertanya
kepada Nabi: “apakah nadzam tersebut wahai Rasul?” para sahabat
menjawab: dengarkan apapun yang dibaca Rasulullah, kemudian Rasulullah
membacakan sebuah nadzam: “abda’u bismillahi wa ar-Rahmani, sayyid
Marzuqi pun mengikuti “abda’u bismillahi wa ar-Rahmani, sampai nadzam
itu hatam Rasulullah tetap mendengarkan menyimak bacaan beliau. Ketika
beliau terbangun dari tidur, belaiu bergegas menuliskan apa yang diajarkan
Rasulullah dalam mimpi tersebut, beliau menuliskannnya dengan sempurna dan
tidak satupun bait terlewatkan, mulai bait pertama sampai bait terakhir.
Sekitar 3 bulan kemudian epatnya tanggal 28 Dzulqo’dah sayyid Marzuqi kembali
ditemui Rasulullah dalam sebuah mimpi, kali ini mimpi beliau terjadi di waktu
sahur, dalam mimpi tersebut Rasulullah bersabda kepada beliau: “bacalah apa
yang telah kau kumpulkan (dalam sebuah tulisan) yang ada kalbumu” kemudian
sayyid Marzuqi membacanya dan Rasulullah berdiri dikerumunan para sahabat
sambil menyimak bacaan beliau. Ketika beliau usai membaca nadzam di
hadapan kanjeng Nabi, kemudian Nabi bersabda: “semoga Allah memudahkanmu
untuk melakukan sesuatu yang telah Dia ridhai (mengarang nadzam ‘Aqidat
al-‘Awam), semoga Allah menambahkan keberkahan dan kemanfaatan untuk semua
kaum muslimin. Amiin.
Tambahan:
Perlu kami
sampaikan bahwa meski sayyid Marzuqi itu meyusun nadzam dilatarbelakangi
oleh sebuah mimpi, namun mimpi bertemu Nabi dapat dijadikan tendensi hukum dan
mimpi tersebut adalah mimpi nyata, berdasarkan haitds Bukhari-Muslim dalam
Shohih Muslim: “Siapa yang melihatku saat mimpi, maka seakan-akan ia melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan
ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku”, disamping itu
sayyid Marzuqi termasuk cucu Nabi dari keturunan Imam Hasan bin Imam ‘Ali suami
sayyidah Fatimah binti Rosulillah Muhammad Saw. Sehingga tidak menutup
kemungkinan seorang cucu ditemui sang kakek dalam sebuah mimpi. Allahu a’lam
Note ini merupakan reportase kajian buku ‘Nur adz-Dzalam’ karya Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani wf: 1314 H/1898 M

Tidak ada komentar:
Posting Komentar