Senin, 06 Maret 2017

Light For The Darkness #2

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYgS44nvEej8d0lIgq4XWSKztNhWkhyv94KXPHoYlynorpcJfTYxQ5f3m5aZc_HH4j4MQUW4zIOSGHqBPjCSAni3VU1PR7CGG2gA6Or1skNgAgO8DiAwsm-0wzVxm68NlMKHYSMhUapvWD/s320/Untitled.jpg
Abda’u bismillahi wa ar-rahmani           *   Wa birrahimi da’imi ihsani
Falhamdu lillahi al-qadiimi al-awwali  *   Al-akhiri al-baqi bila tahawwuli

Dalam tafsir Ulama mainstreamatif, partikel “Bi” di muka kalimat basmalah ini menunjukkan makna Isti’anah yang berati media yang digunakan dalam memulai aktifitas, yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan kalimat : “dengan”. Nomina Ism ini, dalam penulisannya pada kalimat Basmalah tidak menggunakan alif (alifnya dihilangkan). Alasan penghilangan dikarnakan lafal Basmalah pada konteks  ini katsratul Amal  (lebih banyak digunakan) dalam konteks apapun. Berbeda dengan kalimat Bismirabbika pada surat al-Alaq yang beralasan sangat sederhan yakni Qillatul Istimal (penggunaanya sangat sedikit) yang merupakan kebalikan dari bismillah itu sendiri.  Lebih spesifik lagi, nomina Ism digandengkan dengan lafal Allah yang memberi arti khusus yakni hubungan erat  antara keduanya, sehingga  Ism dengan lafal Allah menjadi bagian yang  tak terpisahkan.

Setidaknya ada dua pendapat dalam menafsirkan kata  ‘ism’ (nama). Pendapat pertama menyatakan bahwa al-ismu ‘ainu al-musamma (nama adalah wujud yang dinamai/nama samadengan yang dinamai), yang dijadikan tendensi pada pendapat pertama ini adalah potongan ayat sabbih isma rabbika al-a’la (QS. 87:1) “sucikanlah nama Tuhanmu yang agung”. Kata ‘nama‘ pada ayat tersebut berarti wujud Tuhan yakni Allah itu sendiri, karena tasbih (pensucian) itu hanya untuk dzat/benda. Sedangkan pendapat kedua menyebutkan sebaliknya ‘al-ism ghoiru al-musamma’ (nama adalah bukan yang dinamai). Pendapat kedua ini muncul karena pada ayat lain Allah berfirman ‘lahu al-asma’u al-husna’ (QS. 20:8) “Dia (Allah)mempunyai nama-nama yang indah”. Kata Ism(nama) pada ayat ini bukanlah Allah, meskipun nama-nama yang dimaksud pada ayat itu adalah nama-nama milik Allah. Dari dua pendapat diatas asy-Syanwani mengambil simpulan bahwa jika yang dikehendaki dari kata ism adalah lafadznya maka itu tidak berarti yang dinamai dan jika yang dikehendaki dari kata ism adalah apa yang difahami dari kata itu maka nama merupakan yang dinamai.

Kosakata berikutnya adalah ‘ALLAH’. As-Suyuthi berpendapat bahwa makna ALLAH adalah Tuhan yang maha dahulu, yang sangat agung dzat dan sifatNya. Sedangkan menurut Ahmad as-Showi lebih sederhana, kata ‘Allah’ adalah Ism al-jami’ (nama yang mencakup segala nama) karena semua nama itu dikeluarkan dari nama Allah. Kemudian Ahmad as-Showi menafsiri kata ‘ar-Rahman’ dengan Tuhan yang meanganugrahi aneka ragam nikmat berupa apapun, berapapun, bagaimanapun, baik nikmat dunia maupun akhirat, yang konkret maupun abstrak. Definisi ar-Rahman hampir senada dengan kata ar-Rahim, menurut beliau kata ar-Rahim bermakna Tuhan pemberi nikmat berupa apapun, berapapun, dan bagaimanapun, baik nikmat dunia maupun akhirat, yang konkret maupun abstrak namun nikmat ini merupakan cabang dari suatu asal, seperti nikmat berupa tambahnya iman merupakan cabang dari asal yang berupa iman. Sebagian ulama menyatakan  bahwa  Ar-Rahman adalah  kalimat yang terlebih dahulu ditulis dari pada kalimat ar-Rohim. Karena ar-Rohman ini merupakan sifat yang khusus bagi Allah (ghairu al-musytarak), sedangkan ar-Rohim  banyak  digunakan oleh beberapa orang (musytarak). Namun ada juga yang menyebutnya kedua kalimat ini adalah kalimat yang lembut namun ar-Rahman lebih lembut daripada ar-Rahim.  

Dalam catatan Muhyiddin kalimat ar-Rahman “pengasih” termaktub dalam bentuk sighat mubalaghah yang berarti adanya kelebihan yang melebihi dari semua hal yang ada. Dalam hal ini adalah sifat kasih dari Allah merupakan sifat kasih yang melebihi dari sifat k asih yang ada pada manusia itu sendiri. Dalam arti, Allah jauh lebih besar memiliki sifat kasih ketimbang sifat kasih yang dimiliki seoarang manusia. Format kata Fa’lan menunjukkan suatu  sifat yang melebihi segalanya. Begitu juag dengan kalimat ar-Rahim menunjukkan sifat yang melebihi dari segala sifat yang dimiliki siapapun. Dalam pada itu,  Zahir Tsawin mengutip pendapat al-Khattabi menyatakan bahwa ada perbedaan orientatif mengenai pembagian rahmah dari kedua kalimat tersebut. Secara spesifik rahmah Allah memalui ar-Rahman ditujukan pada semua manusia yakni muslim dan non muslim. Sedangkan rahmah Allah melalui ar-Rahim ini secara khusus diperuntukkan untuk orang mukmin saja. Inilah reintepretasi QS.  al-Ahzab: 45.  Manusia baik muslim maupun non muslim diberikan rahman dalam segala bentuk mulai dari kemampuan intlektualnya, religisunya, serta pemberian keamanan dan seterusnya. Hewan, tanpa membedakan dengan manusia juga mendapatkan apa yang didapatkan manusia secara umum, hanya saja berbeda pemberiannya pada ciri khusus dan sifat sifat yang dimiliki. Begitu juga dengan tumbuh tumbuhan, Allah memberi rahman dengan segala kebutuhannya sebagaimana manusia itu sendiri.

Walhasil hemat saya ar-Rahman ini adalah seluruh bentuk perhatian Allah pada semua makhluk sehingga tidak terbatas pada mansia saja, namun pada alam dan segala isinya. Sedangkan ar-Rohim yang diartikan “Yang Maha Penyayang” juga hampir mirip dengan perluasan makna dari ar-Rohman. Hanya saja ada perbedaan orientatif dan kepemilikan sebagaimana dibedakan Ulama, bahwa ar-Rohim nya Allah ini khusus diberi pada orang-orang mukmin saja. Dengan demikian, selain mukmin tidak mendapatkan ar-Rohim dari Allah. Dan pemberian Rohim ini berlaku pada hari yang kedua yakni hari akhirat. Sifat berikutnya yang disandarkan pada kata Allah adalah daa’imi al-ihsani (terus-menerus dalam memberikan kebaikan). Artinya, Allah adalah Tuhan yang selalu memberikan anugrah dan nikmat selama-lamanya dan tiada putus kepada semua makhluknya.

Kemudian Nadzim (pengarang Nadzam) Sayyid Marzuki meneruskan baitnya dengan kata alhamdulillah sebuah pujian yang sudah lazim ada dalam setiap permulaan menulis sebuah kitab. Lafal itu asalnya hamdu, sebagai bentuk mashdar dari fi’il (kata kerja) hamida-yahmadu-hamdan. Hamdu artinya pujianbias juga  diartikan puji tapi bukan untuk menunjukan kata kerja melainkan nama pekerjaan. Secara etimologi alhamdu bermakna pujian (ikhtiari) dengan lisan atas sebuah keindahan/kebagusan/kebaikan dengan cara mengagungkan baik dalam rangka menerima sebuah nikmat atau tidak. Contoh riil memuji karena menerima nikmat adalah seperti ungkapan kita pada seseorang yang bersedakah pada kita: “kamu seorang yang dermawan”, sedangkan ungkapan kita-misalnya-“Budi adalah orang yang mulia” ketika kita melihat dia rajin ibadah dan sekolah itu merupakan pujian yang bukan karena menerima nikmat. Adapun makna alhamdu secara terminologi adalah suatu aktifitas yang muncul dari mengagungkan sang pemberi nikmat karena Dia telah memberi nikmat kepada sipemuji atau sesamanya baik pujian itu diucapkan dengan lisan, berupa cinta dalam hati atau rasa penghambaan pada Tuhan dengan anggota badan. Ada hal menarik yang perlu kita bahas di sini. Pada umumnya dalam bahasa Indonesia alhamdu selalu diartikan dengan segala puji padahal jika kita lihat kata al-hamdu berbentuk single (tunggal). Terlahirnya makna “segala puji” dari lafal alhamdu, itu karena keberadaan alif- lam. Asalnya kata hamdu hanya berarti puji untuk satu konotasi yang masih umum. Misalnya, hamdun li Ahmad, artinya pujian untuk Ahmad. Pengertian pujian itu bukan mencakup segala puji, misalnya karena Ahmad pintar, atau soleh, atau bahkan karena dia baik dan lain sebagainya.

Pujian yang tertuju pada Ahmad tidak universal, hanya saja masih bersifat umum. Berbeda ketika mengucapkan alhamdu, yaitu lafal hamdu yang telah dibubuhi alif- lam. Pada kata itu bisa diartikan “segala puji”, sebab alif- lam yang ditambahkan pada lafal hamdu itu mempunyai makna istighrok (menyeluruh atau universal). Keseluruhan yang dimaksud dalam istighrok itu mencakup segala hal termasuk jenis dan turunannya. Dalam konteks puji, berarti mencakup segala puji, baik yang lahir dari ucapan, perbuatan, sifat, atau Dzatnya itu sendiri, atau bahkan dari ciptaan-Nya. Walhasil seluruh kata yang berkonotasi positif terhadap suatu pujian-bukan untuk merendahkan (ironi)-itulah segala puji yang dimaksud dalam lafal alhamdu. Dalam persepektif  lain, pujian itu berdasarkan jenisnya dibagi menjadi empat: 1. Pujian Tuhan terhadap dzatNya sendiri (seperti dalam QS. 8:40), 2. Pujian Tuhan terhadap hamba (seperti dalam QS. 68:4), 3. Pujian hamba terhadap Tuhan (seperti dalam QS. 5:116) dan 4. Pujian hamba terhadap hamba lain, seperti pujian Nabi pada sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Keempat pujian tersebut hakikatnya adalah hak Allah, sehingga jika kita memuji pada sesama hakikatnya kita memuji Allah dzat yang menciptakan kita.

Sifat Allah berikutnya yang ada pada dua bait diatas adalah: al-qadiim, al-awwal, al-akhir, al-baqi dan ditutup dengan kalimat bila tahawwuli. Al-Hulaimi menjelaskan bahwa makna al-qadiim adalah Wujud nya Allah  tidak ada permulaannya dan keberadaannya tidak akan sirna. Sedangkan al-awwal adalah tidak adanya permulaan dan pembuka atas wujudNya. Sifat Allah juga dilengkapi dengan al-akhir yakni Allah adalah Tuhan yang tiada akhir/tidak ada ‘pungkasan’ bagiNya. Al-baqi bermakna yang kekal dan tidak akan sirna serta tidak berpindah-pindah (bila tahawwuli). Allahu a’lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar