Aku kira kau
tau ujung taring dapat menyanyat,
Aku kira kau
faham pisau bisa membelah hati,
Dan aku sangka
kau tau bagaimana rasa hati dibelah taring ?
Yah...pun
aku...
Sudahlah sampai
kurasa manisnya tebu,
Sudahlah mampu
ketepis dalamnya rancu
Dan sudahlah
sanggup ku mengemas sehasrat rindu,
Tapi ah...
Apa yg diinginkan tahtamu?
Apa yg diinginkan tahtamu?
Aku hanya
sepotong kayu
Yang sampaipun
ia ditempa
Tak kan bisa
jadi tembaga dari darah biru...
Kau tau
sekarang perasaanku?
Menangis dalam
syahdu,
Memilih jerami
dari batang tebu,
Dan..
Menancap
sendiri di tepi ulu...
Apa yang ku mau ?
Kau tak kan
merasakan sepertiku,
Dalam diam
tetap menjadi arjunaku,
Dan aku..
Masih merasa
menyayangimu... [ASD]
#2
HUJAN JANGAN
REDA
Deru hujan
jangan pernah reda,
Kukuhkan
kembali syairku untuk dia
Pemilik
sebidang dada yg aku harap untuk bermanja.
Deru hujan
jangan pernah reda,
Sempurnakan
kata penghias untuk mata,
Tuturkan
padanya akulah pemuja,
Bisikan saja
aku mencinta,
Tapi jangan aku
ungkapkan aku siapa.
Kenapa hujan
reda?
Ucapmu; rindumu
me-rajai langitku.
Ah..
Deraslah
kembali duhai hujan..
Biar aku tetep
leluasa dan menengadah dan terpejam atas senyum sang pesona [ASD]
#3
Aksaraku terus
menerus masuk,
Terkendali dari
sela nafas,
Melabirin dalam
pikiran,
Lalu akhirnya
membelenggu atas nama kerinduan.
Ah...katamu..”Lucuti
semua tubuhku”,
Kubilang tidak,
“keterikatan
tak akan mengenyahkan kita”,
Aku terlalu
ambigu kekasih..
Laksana nikmat
surgawi,
Tapi lakuku..?
Kukira aku
hidup dalam bayangan-bayangan jenggala api,
Ternyata ujarmu
coba membentuk puisi,
Segemas hasrat
hendak memilin renjana abadi,
Dan ahirnya kau
berbisik; salam rindu untuk kekasih..[ASD]
eSZet
membalas:
seperti kungkum
dalam harum
lehermu.
seperti
berkeramas
dengan cemas
tubuhmu.
kangen ini,
manisku, membenamkan aku
ke dalam
busa-busa sabun
yang menyimpan
wangi 100 musim semi
di mana cita
dan kita, mekar karenanya.
barangkali
cinta kita adalah sebuah kamar mandi
yang sunyi,
seperti puisi atau sepatah doa:
di mana duka
dan dusta dibersihkan,
disucikan...[eSZet]
#4
Kadang aku
ingin merumput,
Tapi sampaikan
niatan ku terwujud,
Si rumput malah
mulai layu.
Kadang aku
ingin sekali melihat mekarnya bunga,
Tapi belumlah
sampai,
Ku pandang
kumbang sedang merayu mekar bunga itu.
Benakku,apa
kiranya salah diriku ?
Hanya ingin
merumput dan memandang mekar sang bunga.
Mungkihkah
diriku terlalu menggebu?
Tapi pikirku
menepis terkaku sendiri..
Aku yakin..
Sedari lama
rumput tergoyang angin,
Dan bunga tak
sanggup menolak bujuk rayu si kumbang [ASD]
#5
Tumpuanku
sejenak turut andil,
Mengecam
siapapun yang hendak mendekat,
Sedangkan aku ?
Terus saja
terbuai dalam elok asmaranya, kenapa?
Kenapa? kenapa
oh tuan?
Kau kerangkai
aku atas maumu,
Menghirup pikuk
dalam kedurjanaan,
Lantas
nantinya?
Sudikah engkau
berdiksi tentang hidupku?
Oh..oh
pujangga,
Syairmu telah
merajai bawah sadarku,
Hendakpun aku
rela berpsrah,
Itu karena
luka..
Luka yang kau
ukir dengan api di pergelangan ruas sendi leherku.. [ASD]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar