Ramadhan sudah memasuki hari
ke-8, jika kita browsing di internet semakin banyak saja kita menemukan
problem-problem seputar Ramadhan. Ada yang membahas tentang kebijakan
pemerintah yang mengharuskan warga untuk menutup warung/rumah makan di siang
Ramadhan, ada juga berita seputar sweeping satpol PP yang berujung perampasan
dagangan makanan. Di sebelah, ada juga yang membahas jumlah rokaat tarowih yang
tak berkesudahan. Stidaknya dua konflik ini adalah konflik tahunan yang pasti
booming saat awal sampai tengah bulan Ramadhan. Aah..sudahlah..saya berandai-andai
saja dengan dialog imajiner.
Tiba-tiba hening, dan tak
henti-hentinya saya ‘misuhi’ diri saya sendiri, setelah percakapan berikut
terjadi:
Guru: aah sudahlah.. tidak usah update
status facebook, sampai kamu benar-benar mampu memastikan bahwa postinganmu
bermanfaat bagi pembaca
Saya: ..tapi guru.. anu...
Guru: ah sudahlah.. kamu mau bilang bahwa
update-an status fb mu berisi motivasi kan? kamu itu belum bisa, lha wong memotivasi
dirimu saja kamu masih blepotan, belum pecus
Saya: lha kalo...
Guru: ah sudahlah, tidak usah kamu
teruskan, aku sudah faham, kamu hendak nge-share nikmat yang telah diberikan padamu
dg dalih "tahadduts bi-n ni'mah"? 'Ujub-mu' lbh dominan dalam dirimu
ketimbang niatanmu itu, percayalah
Saya: nha itu guru...
Guru: apa? Siapa? Orang itu? nha itu
lho.. kamu itu belum bisa seperti itu, aku tahu itu, aku gurumu, lebih tahu
dirimu ketimbang dirimu sendiri, kamu sering membaca postingan di fb atau group
WhatsApp yang berisi ilmu kemudian kamu fahami dan kamu posting balik dengan imbuhan
motif “ngênèi (menyindir)” seseorang kan? kamu juga sering menulis status agar kamu
mendapat pengakuan bla..bla..bla..dst.nya kan?
Ah sudahlah.. kamu jika hendak membaca, ya sudah membaca saja,
ilmu yang sekiranya bisa kamu lakukan ya lakukan saja, tapi jangan sampai
pmbacaanmu pada apapun itu menjadikanmu menjustifikasi seseorang, tanamkan
prasangka baik dalam setiap pembacaan, jangan sampai lantaran kamu senang membaca
kemudian jarang main(sowan)kesini, jarang mengamalkan wiridan bersamaku, sehingga
lalai dengan kondisimu juga kondisi hatimu, kamu hanya memberi makan kepada otak
dan tidak memberi makan pada hati. Ingat, IQRA' itu wahyu pertama, apa kamu akan
terhenti pada wahyu pertama saja, hanya iqra' terus, tanpa beramal?! Semakin kamu
peka terhadap kebutuhan hati dan jiwamu maka semakin mudah kamu mengenal
dirimu, kemudian bisa sampai kepada Tuhanmu. Itukan tujuan hidup kita? Hal demikian
itu jika kamu segera menyikapi kepekaan itu, jika tidak segera maka kamu akan
semakin tidak mengenal dirimu sendiri
Saya: lantas bagaimana guru?
Guru: apa lagi? Mau tanya "aku harus
bagaimana"? Nha itu lho.. makanya di awal kamu saya sebut sebagai orang yang
belum peka terhadap kebutuhan jiwamu, sekarang begini saja "jika kamu
tidak kuat yntuk tidak main FB, ya silakan FB-an, tapi tidak usah komentar,
mpêt (tahan), tidak usah update status, tidak usah share-share status orang
lain terlebih dahulu, setiap membaca status yang bagus (menurutmu) grayangi (intropeksi)
dirimu, kamu sudah bisa demikian apa belum?!, ketika membaca status negatif, Tanya
dirimu, kamu masih seperti itu atau tidak?! Jangan lantas kamu gunakan
pembacaan status negative itu untuk ‘ngecap’ orang lain, kemudian
beristighfarlah dan sholat taubat, tak usah nunggu esok, esok belum tentu
umurmu masih. Status yang tidak menambah wawasanmu untuk mendekatkan diri pada
Rabb-mu atau status yang menjadikanmu semakin membabibuta dalam be-su'udzon kepada
sesame, tidak usah kamu baca, lewati. faham?!
Saya: iya Guru, faham.. kemudian guru,
jika ‘dawuh’ panjenengan ini saya tulis dan saya posting bagaimana guru?
Guru: ya silakan, tapi jadikan ini kali
terakhir kamu update status FB, jelaskan kalau ini bukanlah statusmu, tapi
pesan dari gurumu, tak usah mengharapkan LIKE atau COMMENT dari para pengguna
FB, teman-teman FB-mu itu juga banyak yang hanya LIKE tanpa baca statusmu
terlebih dahulu, karena kamu biasanya juga seperti itu, begitu juga banyak temanmu
yang ikut komentar dengan niat memperlihatkan 'sesuatu'nya, karena kamu kadang juga
berbuat seperti itu. Jangn lupa sholatmu ditambah, tidak usah mikir ikhlash
terlebih dahulu,jika belum bisa ikhlas kemudian tidak beramal itu juga salah,
beramallah terus jika kamu tidak memikirkan ikhlas, saat itulah kamu ikhlas, al-Quran-mu
dibaca rutin agar yang kamu baca tidak hanya FB dan sosmed lainya, sholawatmu dimaksimalkan,
agar waktumu habis untuk ibadah
saya: lha 'anu' saya?
Guru: apa? Kewajibanmu mencari nafkah?
mengajarmu? Rizkimu dari mana kalau hanya ibdah terus? nanti bagaiamana? yang itu
bagaimana?, sudahlah, kamu tak usah membantah, lakukan dulu, kamu kira Tuhanmu
tidur? Kamu ini makhluk apa khaliq? Kok sok ngatur-ngatur, sudahla, saat ini
kamu manut dulu, nurut pada dzat yang maha memaksa "al-qohhar"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar