Rabu, 08 Juni 2016

Ngaji Posoan #3

Ramadhan sudah memasuki hari ke-8, jika kita browsing di internet semakin banyak saja kita menemukan problem-problem seputar Ramadhan. Ada yang membahas tentang kebijakan pemerintah yang mengharuskan warga untuk menutup warung/rumah makan di siang Ramadhan, ada juga berita seputar sweeping satpol PP yang berujung perampasan dagangan makanan. Di sebelah, ada juga yang membahas jumlah rokaat tarowih yang tak berkesudahan. Stidaknya dua konflik ini adalah konflik tahunan yang pasti booming saat awal sampai tengah bulan Ramadhan. Aah..sudahlah..saya berandai-andai saja dengan dialog imajiner.

Tiba-tiba hening, dan tak henti-hentinya saya ‘misuhi’ diri saya sendiri, setelah percakapan berikut terjadi:
Guru: aah sudahlah.. tidak usah update status facebook, sampai kamu benar-benar mampu memastikan bahwa postinganmu bermanfaat bagi pembaca
Saya: ..tapi guru.. anu...
Guru: ah sudahlah.. kamu mau bilang bahwa update-an status fb mu berisi motivasi kan? kamu itu belum bisa, lha wong memotivasi dirimu saja kamu masih blepotan, belum pecus
Saya: lha kalo...
Guru: ah sudahlah, tidak usah kamu teruskan, aku sudah faham, kamu hendak nge-share nikmat yang telah diberikan padamu dg dalih "tahadduts bi-n ni'mah"? 'Ujub-mu' lbh dominan dalam dirimu ketimbang niatanmu itu, percayalah
Saya: nha itu guru...
Guru: apa? Siapa? Orang itu? nha itu lho.. kamu itu belum bisa seperti itu, aku tahu itu, aku gurumu, lebih tahu dirimu ketimbang dirimu sendiri, kamu sering membaca postingan di fb atau group WhatsApp yang berisi ilmu kemudian kamu fahami dan kamu posting balik dengan imbuhan motif “ngênèi (menyindir)” seseorang kan? kamu juga sering menulis status agar kamu mendapat pengakuan bla..bla..bla..dst.nya kan?
Ah sudahlah.. kamu jika hendak membaca, ya sudah membaca saja, ilmu yang sekiranya bisa kamu lakukan ya lakukan saja, tapi jangan sampai pmbacaanmu pada apapun itu menjadikanmu menjustifikasi seseorang, tanamkan prasangka baik dalam setiap pembacaan, jangan sampai lantaran kamu senang membaca kemudian jarang main(sowan)kesini, jarang mengamalkan wiridan bersamaku, sehingga lalai dengan kondisimu juga kondisi hatimu, kamu hanya memberi makan kepada otak dan tidak memberi makan pada hati. Ingat,  IQRA' itu wahyu pertama, apa kamu akan terhenti pada wahyu pertama saja, hanya iqra' terus, tanpa beramal?! Semakin kamu peka terhadap kebutuhan hati dan jiwamu maka semakin mudah kamu mengenal dirimu, kemudian bisa sampai kepada Tuhanmu. Itukan tujuan hidup kita? Hal demikian itu jika kamu segera menyikapi kepekaan itu, jika tidak segera maka kamu akan semakin tidak mengenal dirimu sendiri
Saya: lantas bagaimana guru?
Guru: apa lagi? Mau tanya "aku harus bagaimana"? Nha itu lho.. makanya di awal kamu saya sebut sebagai orang yang belum peka terhadap kebutuhan jiwamu, sekarang begini saja "jika kamu tidak kuat yntuk tidak main FB, ya silakan FB-an, tapi tidak usah komentar, mpêt (tahan), tidak usah update status, tidak usah share-share status orang lain terlebih dahulu, setiap membaca status yang bagus (menurutmu) grayangi (intropeksi) dirimu, kamu sudah bisa demikian apa belum?!, ketika membaca status negatif, Tanya dirimu, kamu masih seperti itu atau tidak?! Jangan lantas kamu gunakan pembacaan status negative itu untuk ‘ngecap’ orang lain, kemudian beristighfarlah dan sholat taubat, tak usah nunggu esok, esok belum tentu umurmu masih. Status yang tidak menambah wawasanmu untuk mendekatkan diri pada Rabb-mu atau status yang menjadikanmu semakin membabibuta dalam be-su'udzon kepada sesame, tidak usah kamu baca, lewati. faham?!
Saya: iya Guru, faham.. kemudian guru, jika ‘dawuh’ panjenengan ini saya tulis dan saya posting bagaimana guru?
Guru: ya silakan, tapi jadikan ini kali terakhir kamu update status FB, jelaskan kalau ini bukanlah statusmu, tapi pesan dari gurumu, tak usah mengharapkan LIKE atau COMMENT dari para pengguna FB, teman-teman FB-mu itu juga banyak yang hanya LIKE tanpa baca statusmu terlebih dahulu, karena kamu biasanya juga seperti itu, begitu juga banyak temanmu yang ikut komentar dengan niat memperlihatkan 'sesuatu'nya, karena kamu kadang juga berbuat seperti itu. Jangn lupa sholatmu ditambah, tidak usah mikir ikhlash terlebih dahulu,jika belum bisa ikhlas kemudian tidak beramal itu juga salah, beramallah terus jika kamu tidak memikirkan ikhlas, saat itulah kamu ikhlas, al-Quran-mu dibaca rutin agar yang kamu baca tidak hanya FB dan sosmed lainya, sholawatmu dimaksimalkan, agar waktumu habis untuk ibadah
saya: lha 'anu' saya?
Guru: apa? Kewajibanmu mencari nafkah? mengajarmu? Rizkimu dari mana kalau hanya ibdah terus? nanti bagaiamana? yang itu bagaimana?, sudahlah, kamu tak usah membantah, lakukan dulu, kamu kira Tuhanmu tidur? Kamu ini makhluk apa khaliq? Kok sok ngatur-ngatur, sudahla, saat ini kamu manut dulu, nurut pada dzat yang maha memaksa "al-qohhar"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar