Pages - Menu

Selasa, 24 Mei 2016

Maraknya Split Personality Di Era Sos-Med


Tidak dapat kita pungkiri bahwa internet adalah kebutuhan primer kita. Apa yang –biasanya-tidak dapat kita lakukan di dunia nyata dapat kita lakukan di dunia maya, apalagi dewasa ini kita disuguhi beberapa situs jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, WhatsUp, Myspace, Path, Line dan seterusnya. Sebenarnya siapakah kita di dunia cyber? Akun kita itu apakah avatar kita? atau akun kita mewakili bagian dari hasrat kita yang kita wujudkan dalam bentuk cyber-personal? 

Setiap orang punya banyak sisi. sebagian dari sisi diri kita tak mudah diwujudkan dalam dunia nyata. Internet, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memberi kita cara untuk mewujudkan banyak hasrat yang selama ini hanya berupa potensi. Bayangkan seperti ini. Engkau adalah pendiam, tetapi tidak pernah ada orang yang benar-benar pendiam secara absolut. Mungkin kau ingin bicara, tetapi ada rasa malu atau kurang percaya diri ketika harus berkumpul dan dilihat banyak orang. Kemudian tiba-tiba ada facebook, twitter, myspace, friendster, dan yang semacam itu. Kau pun punya saluran untuk mengoceh apa saja tanpa perlu merasa malu, dan yang kau butuhkan adalah pribadi-cyber yang benar-benar berbeda dari pribadimu di dunia nyata. Dalam hitungan 30 menit - dengan asumsi sinyal internetmu tidak lola (loading lama) - kau bisa membuat 20 e-mail untuk menciptakan 20 akun facebook atau twitter yang mewakili 20 hasratmu, atau 20 sisi gelapmu, yang berbeda-beda.

Misal begini; engkau memendam hasrat untuk melakukan petualangan asmara, tetapi kau tak bisa leluasa sebab ada anak dan istri. kini kau bisa membuat akun di facebook. Disaat itu yang kau butuhkan hanyalah pencitraan. Orang di dunia cyber yang belum pernah bertemu denganmu di dunia nyata dan tidak benar-benar tahu siapa dirimu, mereka akan menafsirkanmu dari caramu menulis status, menulis komentar, menulis notes,  foto dan dari interaksi tekstual dari wall ke-wall. Engkau tidak perlu cemas orang akan tahu siapa dirimu di dunia nyata. Di wall, beranda, kau bisa mengekspresikan banyak hal. Boleh jadi, dengan bantuan syeikh google, kau bisa citrakan dirimu sebagai orang bijaksana dan bijaksini, melalui metode copas sana copas sini dari berbagai kata mutiara, kutipan bijak, hingga puisi yang bisa dengan mudah kau cari melalui syeikh google, atau semisal engkau aslinya pendiam di dunia nyata, di dunia cyber kau bisa menjadi perayu ulung. semisal di dunia nyata kau dianggap orang alim, karena menyandang gelar ustadz, pak haji, pak yai, atau apa saja yang menjadi  sebutan terhormat, di dunia cyber kau bisa menjadi petualang asmara. di wall kau mengkhotbahkan tentang hal-hal religius, tentang spiritualitas, tentang makna kesetiaan, tentang kebijaksanaan, dan pada saat yang sama, engkau menebarkan jerat pesona.

Dengan asumsi dari ribuan akun di daftar friend, kau berharap ada satu atau dua orang yang terpesona padamu. Ada juga fasilitas privasi, dengan fasulitas ini engkau bisa merayu seseorang melalui inbox, atau direct message, sehingga tanpa kau sadari tiba-tiba kau merasa ada tempat khalwat yang nyaman untuk memadu asmara tanpa ketahuan istrimu, anakmu, atau suamimu. Disaat yang bersamaan istri atau suamimu hanya bisa melihat wallmu, yang penuh tulisan kebijaksanaan, tetapi mereka tak bisa melihat isi inboxmu, yang berisi penuh rayuan gombal dan mungkin kata-kata cabul. Oleh karenanya, barangkali kita bertanya-tanya, berapa banyak perselingkuhan terjadi melalui inbox jejaring sosial semacam ini? 

Kemungkinan selanjutnya, kau bisa gunakan rayuanmu dengan cara lain, untuk mengeruk keuntungan finansial. Sebagai contoh engkau punya 25 akun. satu atau dua akunmu merayu orang-orang kesepian yang telah berkeluarga, dan akunmu yang lain bertindak sebagai tukang peras. Akunmu yang berfungsi pemeras ini akan mengancam korban, barangkali korban dipaksa mentransfer sejumlah uang ; Jika dia tidak meng-iya-kan, percakapan perselingkuhan di inbox akan dicopas dan disebar ke publik via wall bahaya bukan?! ini ancaman menakutkan, sebab dalam jejaring sosial selalu ada fasilitas tag, tandai, retweet, send, dan sebagainya. Bayangkan saja jika percakapan perselingkuhanmu dibaca anak, istri atau suamimu? 

Di musim pilkada seperti saat ini, sangat mungkin jejaring sosial bisa menjadi  rimba orang-orang tanpa identitas sejati. Foto palsu, profil palsu, pribadi palsu, citra palsu, nama palsu dan seterusnya yang serba palsu. Berapa banyak orang yang sudah punya anak dua, tiga atau empat, lima, bahkan dua belas, mengaku masih bujangan, atau bahkan tanpa kenal malu merayu perempuan lain tanpa peduli perempuan itu sudah bersuami atau belum? berapa banyak orang yang sengaja memasang foto diri 15 tahun yang lalu, atau foto hasil olahan photoshop yang membuat tampang menjadi lebih cling/kinclong, demi kepentingan mencari pacar atau selingkuhan? berapa banyak orang yang tidak begitu mengerti politik kemudian membuat akun-akun calon kepala daerah atau tim sukses  untuk mencitrakan calon atau menjelek-jelekkan calon lain yang menjadi rivalnya demi mencari dukungan dari masyarakat? berapa banyak orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang penuh pembatasan moral, mendadak menjadi pribadi yang lain yang siap melanggar setiap batasan moral melalui jejaring sosial?. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah waspada, berhati-hati dengan setiap person yang meng-Add akun kita untuk dimasukkan dalam list pertemanannya, jangan mudah terbawa dengan postingan/komentar seseorang yang belum benar-benar kita kenal, dan tidak kalah pentingnya mari kita mulai jujur dengan akun kita juga aktifitas kita apapun itu.

Sepuluh tahun yang lalu orang bicara tentang split personality (kepribadian yang terbelah) di dunia cyber. Dirimu di ruang sosial nyata menjadi diri yang berbeda di ruang sosial cyber. Semakin banyak orang yang menjadi-semacam-amfibi, hidup di dua dunia, dengan pribadi yang jauh berbeda. Itu sepuluh tahun lalu, ketika percakapan dan interaksi sosial cyber masih terbatas pada teks sebagai sarana utama (semisal via Mirc atau mailing list). Sekarang, dengan makin canggihnya jejaring sosial, orang-orang mulai cemas: split personality, atau orang dengan pribadi yang terbelah, menjadi semakin banyak. yang lebih mencemaskan, orang bisa "membelah diri" menjadi lebih dari dua pribadi yang berbeda. Psikolog mulai khawatir, jika seseorang tidak bisa lepas dari hal ini, orang akan mudah mengalami disorientasi diri. Dan dampaknya orang-orang akan makin tidak mengenali dirinya yang sesungguhnya. Orang akan lebih akrab serta mengenali hasrat-hasrat dan hawa nafsu dirinya yang dijelmakan dalam bentuk akun jejaring sosial. Jika orang lebih mengenal hasrat nafsunya ketimbang dirinya yang sejati, bayangkan betapa mewabahnya kemunafikan sosial yang akan tercipta di dunia sosial nyata. Ya, di dunia nyata. Sebab, kita tahu apa yang terjadi di dunia cyber akan berdampak langsung atau tidak langsung pada dunia nyata, dan karena ini adalah dunia yang nyaris tanpa sekat norma sosial dan ruang, sangat mungkin kita akan berkesempatan mendengar kabar-kabar ajaib tentang efek negatif dari kemunafikan sosial di jejaring sosial ini. Atau, barangkali kita pernah sudah pernah mendengarnya? Atau bahkan sering kita mendengarnya? 

Walhasil, berapa akun facebook/WhatsUp mu? Benarkah akun facebook/whatsUp mu adalah kamu?

Rabu, 18 Mei 2016

MEMBUDAYAKAN MEMBACA DAN MENULIS DI PESANTREN



Wahyu pertama yang dibawa Jibril (QS. al-‘Alaq 1-5) selain memerintahkan kita untuk melakukan aktifitas membaca, juga mengingatkan pada kita bahwa Allah telah memuliakan martabat manusia memalui pena. Artinya dengan proses belajar mengajar (membaca dan menulis), manusia dapat menguasai ilmu pengetahuan, yang dengannya manusia dapat mengetahui rahasia alam semesta.
            Dalam Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraisy Sihab disebutkan, salah satu ulama kontemporer Muhammad ‘Abduh memahami perintah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklifi) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amr takwini yang mewujudkan kemampuan membaca secara aktual pada diri pribadi Nabi Muhammad SAW.

Dengan kalimat “Iqra’ bismi rabbik”, Al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan untuk membaca, tapi ‘membaca’ adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif.

Menurut Tafsir Al-Misbah, Islam memerintahkan agar kita belajar membaca dan menulis serta mempelajari ilmu pengetahuan demi meningkatkan derajat kita sebagai makhluk Allah yang maha mulia, kita dianjurkan untuk sanggup mengembangbiakkan ilmu pengetahuan yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Membaca dan menulis merupakan sebuah aktifitas yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang. Keterkaitan membaca dengan menulis sama seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semua pembaca mungkin bukanlah penulis, tapi setiap penulis pastinya adalah pembaca. Karena sangat mustahil bagi seorang penulis, sedang ia bukan seorang pembaca.

Dengan membaca sebetulnya kita sedang menggali ide-ide orang lain untuk dikembangkan menjadi ide baru milik kita sendiri. Tentunya tetap dengan kaidah etika penulisan yang benar. Membaca juga merupakan fase kedua-setelah kemampuan berbicara-bagi seorang anak dalam belajar berbahasa, yakni fase mengenali segala hal yang terdapat di sekelilingnya.

Membaca membutuhkan dan melibatkan proses kognitif. Jika dalam fase bertutur kata (berbicara) seseorang hanya tinggal meniru apa yang diucapkan dan didengarkan, maka dalam fase belajar membaca ia harus mengenal dan berinteraksi dengan simbol-simbol bunyi dan benda yang disimbolkan dengan susunan huruf. Dalam fase ini, seseorang yang membaca berarti ia menjalani proses dialektik antara simbol bunyi dengan wujud bendanya.

Sedangkan aktifitas menulis adalah bentuk pengungkapan ide-ide pada diri kita untuk dapat dikritisi dan ditanggapi sehingga ide tersebut dapat disempurnakan baik oleh diri kita sendiri atau orang lain. Kegiatan menulis berbeda dengan membaca atau bertutur kata. Jika kegiatan membaca melibatkan proses dialektika pikiran antara simbol bunyi dengan bendanya, maka kegiatan menulis melibihi dari itu. Menulis melibatkan proses pemikiran atau gagasan yang lebih mendalam. Seseorang yang sedang menulis, berarti ia sedang mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya untuk dituangkan dalam bentuk simbol bunyi sehingga dapat dinikmati oleh orang yang membacanya.

Taufik Ismail, seorang penyair Angkatan 66 pernah mengungkapkan: “Masyarakat kita buta membaca dan lumpuh menulis”. Pernyataan seperti inilah yang mustinya menjadi cambuk semangat kaum ‘sarungan’ yang ada di pesantren untuk terus membaca dan mengaplikasikannya dalam bentuk tulisan.

Tradisi di Pesantren
Seiring datangnya bulan Ramadan, di pesantren selalu digelar kajian kitab kuning yang dikenal dengan istilah ‘pasan’. Pasan merupakan kegiatan pembacaan kitab kuning oleh salah seorang Kyai atau Ustadz pesantren, dan santri mendangarkan dengan khidmat sambil mengartikan (baca: maknai). Kegiatan seperti ini hendaknya dapat dijadikan oleh kalangan pesantren sebagai manifestasi melestariakan budaya baca dan tulis di pesantren.

Dalam literatur sejarah dapat kita jumpai bahwa sebuah peradaban yang besar ditandai oleh munculnya karya-karya tulis. Peradaban Yunani misalnya, peradaban tersebut menjadi agung karena sentuhan tangan-tangan para pemikir besar seperti Aristoteles, Plato dan seterusnya, yang tulisan-tulisannya masih kita baca dan menjadi rujukan sampai sekarang. Peradaban Islam pun menjadi dikenal di semenanjung Eropa karena karya-karya besar yang terlahir dari para intelektual muslim ketika itu. Sebut saja Ibnu Rusyd (di Barat dikenal dengan Averrous), Ibnu Sina (di Barat dikenal dengan Avecena), Jabir bin Hayyan (di Barat dikenal dengan Algebra) dan seterusnya.

Begitulah, kemajuan suatu peradaban selalu tidak dapat dilepaskan dari budaya tulis-menulis yang kuat. Dengan menulis paling tidak seseorang dapat mengungkapkan ide-idenya secara lebih luas dan lama. Maksudnya ide tersebut akan mudah tersebar dan lebih lama dikonsumsi karena tidak berakhir dalam diskusi ataupun rapat yang hanya berlangsung beberapa jam saja.

Kegiatan membaca mudah dilakukan di manapun, kapanpun dan oleh siapapun yang mampu. Meski demikian terkadang aktifitas membaca sulit untuk dilakukan. Banyak orang lebih suka dan membiasakan diri dengan ngobrol daripada membaca. Faktanya, membudayakan ‘membaca’ lebih sulit katimbang kebiasaan ‘tutur tinular’, yaitu mencari informasi dengan bertanya atau sekedar ngobrol-ngobrol
antar sesama, dan lebih sulit lagi, membiasakan diri dengan budaya menulis. Budaya menulis merupakan pintu gerbang untuk melakukan transformasi sosial dalam rangka membangun peradaban umat manusia ke arah yang lebih tinggi. Perlu ada penyadaran kepada para santri bahwa menulis dan membaca bukan hanya menjelang atau saat ujian saja, melainkan sebuah proses panjang. Proses itu akan menjadikan ilmu tertanam lebih kuat manakala dilaksanakan secara rutin dan sungguh-sungguh. 

Oleh karenanya budaya membaca dan menulis mampu mengikat ilmu kuat-kuat seluas-luasnya. Menurut perspektif al-Quran sendiri, selain kita menemukan bahwa wahyu pertama Tuhan kepada utusan-Nya (Muhammad) adalah kata “Iqra (bacalah)”, kita juga menjumpai salah satu nama surat dalam al-Qur’an adalah al-Qalam. Jika diterjemahkan kedalam bahasa kita, kata Al-Qalam berarti pena.

Lantas, apa yang menarik dari nama pena, kok sampai dipilih untuk menamai firman Allah? Apa hubungannya dengan kemajuan suatu peradaban? Jika kita membaca surat al-Qalam (pena), maka kita akan disambut dengan ayat yang berbunyi: “Nun, demi pena dan apa-apa yang mereka tulis.”
Penulis tafsir al-Bahr al-Muhith mengutip salah satu pendapat yang menyatakan, bahwa al-Qalam yang dimaksud adalah pena sebagaimana yang fungsinya sudah dikenal oleh manusia untuk menulis. Penafsiran semacam ini memberikan penjelasan bahwa jika Tuhan memiliki pena, tentunya pena itu tidak seperti yang ada dalam gambaran dan pemahaman manusia. Pena Tuhan berbeda dengan pena yang dipakai manusia.

Allah mencatat segala sesuatu (baca: keputusan-Nya) di lauh al-mahfudz dengan pena. Melalui pena (al-qalam), Allah mencipta dan menulis seluruh kehidupan di alam jagat raya (al-ka’inat). Allah menulis (mencatat), maka dunia menjadi ada. Oleh karena itu, makna metaforis dari pena, sebagaimana yang disumpahkan oleh Allah, menurut sebagian mufassir dimaknai sebagai simbol bagi tegaknya ilmu pengetahuan.
         
Pada prinsipnya, menulis adalah satu dari empat skil atau keterampilan dasar komunikasi, selain itu ada keterampilan berbicara, membaca dan mendengar. Karena itulah, menulis menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi seseorang. Keberadaan setiap pembelajaran yang bermuatan aktifitas membaca dan menulis yang ada di pesantren untuk saat ini setidaknya sudah memberikan pengaruh yang diperhitungkan, karena seperti yang kita jumpai pesantren telah melahirkan banyak penulis, yang secara beriringan juga mampu meningkatkan gairah penerbitan buku ditanah air.

Jika Tuhan bersumpah atas nama pena dan apa-apa yang tertulis, maka tidak salah jika kita membangun peradaban umat manusia ini-khususnya di kalangan pesantren- dengan menulis. Bukankah pena (al-qalam) menjadi awal dari kehidupan segala yang ada?. Katakan: “‘aku menulis, maka aku ada”.




* dimuat di Jawa Pos Radar Bojonegoro 13 Agustus 2012

Senin, 16 Mei 2016

Sekelumit Tentang Isi Buku 'Madza fi-sy Sya'ban' karya Sayyid Muhammad al-Hasani


Bismillah, Alhamdulillah, wa-s Sholatu wa-s Salamu Ala Asyrofil Mursalin Sayyidina Muhammadin wa 'Ala Alihi Wa Sahbihi Ajma'in..

Buku Karya al-Muhaddits as- Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani ini meski judulnya "madza fi-sy Syaban? (apa yang ada di bulan Syaban?) namun tidak hanya menjelaskan tentang bulan Sya'ban saja, melainkan juga disertai penjelasan tentang fadilah(keutamaan) sholawat kepada Nabi, keutamaan Quran dan yang membacanya serta aneka ragam keterangan tambahan dari beliau berupa pendapat ulama-ulama salaf terkait pro-kontra tentang bulan Sya'ban, sehingga buku ini setebal 154 halaman.

Bulan Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadlan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadlan.
Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). menurut Qiil: Sya'a Bana (terpancar/menyebarluaskan dan jelas) Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan.  (Hal. 5)

Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh perhatian dari kalangan kaum muslimin. Kejadian-kejadian tersebut antara lain: 

Pindah Qiblat
Pada bulan Sya’ban, Qiblat berpindah dari Baitul Maqdis, Palistina ke Ka’bah, Mekah al Mukarromah. Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa menengadahkan wajahnya ke langit, menanti datangnya wahyu dari Rabbnya. Sampai akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan penantiannya. Wahyu Allah Subhanahu Wata’ala turun. “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144) 

Diangkatnya Amal Manusia
Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia pada bulan ini ke langit. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i). (Hal. 9-11)
Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban (Hal. 19-24)
Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, “Adakah puasa yang paling utama setelah Ramadlan?” Rasulullah Shollallahu alai wasallam menjawab, “Puasa bulan Sya’ban karena berkat keagungan bulan Ramadhan.” Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Sepintas dari teks Hadits di atas, puasa bulan Sya’ban lebih utama dari pada puasa bulan Rajab dan bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) lainnya. Padahal Abu Hurairah telah menceritakan sabda dari Rasulullah Shollallu alaihi wasallam, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan mulia (asyhurul hurum).” Menurut Imam Nawawi, hal ini terjadi karena keutamaan puasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) itu baru diketahui oleh Rasulullah di akhir hayatnya sebelum sempat beliau menjalaninya, atau pada saat itu beliau dalam keadaan udzur (tidak bisa melaksanakannya) karena bepergian atau sakit.

Sesungguhnya Rasulullah Shollallu alaihi wasallam mengkhususkan bulan Sya’ban dengan puasa itu adalah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjalankan puasa bulan Sya’ban itu tak ubahnya seperti menjalankan sholat sunat rawatib sebelum sholat maktubah. Jadi dengan demikian, puasa Sya’ban adalah sebagai media berlatih sebelum menjalankan puasa Ramadhan.
Adapun berpuasa hanya pada separuh kedua bulan Sya’ban itu tidak diperkenankan, kecuali:
1. Menyambungkan puasa separuh kedua bulan Sya’ban dengan separuh pertama.
2. Sudah menjadi kebiasaan.
3. Puasa qodlo.
4. Menjalankan nadzar.
5. Tidak melemahkan semangat puasa bulan Ramadhan
Turun Ayat Sholawat Nabi (Hal. 25)
Salah satu keutamaan bulan Sya’ban adalah diturunkannya ayat tentang anjuran membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Shollallu alaihi wasallam pada bulan ini, yaitu ayat: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab;56)

Sya’ban, Bulan Al Quran (Hal. 44)
Bulan Sya’ban dinamakan juga bulan Al Quran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa atsar. Memang membaca Al Quran selalu dianjurkan di setiap saat dan di mana pun tempatnya, namun ada saat-saat tertentu pembacaan Al Quran itu lebih dianjurkan seperti di bulan Ramadhan dan Sya’ban, atau di tempat-tempat khusus seperti Mekah, Roudloh dan lain sebagainya.

Syeh Ibn Rajab al Hambali meriwayatkan dari Anas, “Kaum muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka menekuni pembacaan ayat-ayat Al Quran dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Malam Nishfu Sya’ban (Hal. 66)

Pada bulan Sya’ban terdapat malam yang mulia dan penuh berkah yaitu malam Nishfu Sya’ban. Di malam ini Allah Subhanahu wata’ala mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang minta belas kasihan, mengabulkan doa orang-orang yang berdoa, menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah, memerdekakan orang-orang dari api neraka, dan mencatat bagian rizki dan amal manusia.

Banyak Hadits yang menerangkan keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, sekalipun di antaranya ada yang dlo’if (lemah), namun Al Hafidh Ibn Hibban telah menyatakan kesahihan sebagian Hadits-Hadits tersebut, di antaranya adalah: “Nabi Muhammad Shollallhu alaihi wasallam bersabda, “Allah melihat kepada semua makhluknya pada malam Nishfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban).

Para ulama menamai malam Nishfu Sya’ban dengan beragam nama. Banyaknya nama-nama ini mengindikasikan kemuliaan malam tersebut. (hal. 72)
1. Lailatul Mubarokah (malam yang penuh berkah).
2. Lailatul Qismah (malam pembagian rizki).
3. Lailatut Takfir (malam peleburan dosa).
4. Lailatul Ijabah (malam dikabulkannya doa)
5. Lailatul Hayah walailatu ‘Idil Malaikah (malam hari rayanya malaikat).
6. Lalilatus Syafa’ah (malam syafa’at)
7. Lailatul Baro’ah (malam pembebasan). Dan masih banyak nama-nama yang lain.
Pro dan Kontra Seputar Nishfu Sya’ban (Hal. 77)
Al Hafidh Ibn Rojab al Hambali dalam kitab al Lathoif mengatakan, “Kebanyakan ulama Hadits menilai bahwa Hadits-Hadits yang berbicara tentang malam Nishfu Sya’ban masuk kategori Hadits dlo’if (lemah), namun Ibn Hibban menilai sebagaian Hadits itu shohih, dan beliau memasukkannya dalam kitab shohihnya.” Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab Addurrul Mandlud mengatakan, “Para ulama Hadits, ulama Fiqh dan ulama-ulama lainnya, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Nawawi, bersepakat terhadap diperbolehkannya menggunakan Hadits dlo’if untuk keutamaan amal (fadlo’ilul amal), bukan untuk menentukan hukum, selama Hadits-Hadits itu tidak terlalu dlo’if (sangat lemah).” Jadi, meski Hadits-Hadits yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebut dlo’if (lemah), tapi tetap boleh kita jadikan dasar untuk menghidupkan amalam di malam Nishfu Sya’ban.

Kebanyakan ulama yang tidak sepakat tentang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban itu karena mereka menganggap serangkaian ibadah pada malam tersebut itu adalah bid’ah, tidak ada tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam. Sedangkan pengertian bid’ah secara umum menurut syara’ adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah. Jika demikian secara umum bid’ah itu adalah sesuatu yang tercela (bid’ah sayyi’ah madzmumah). Namun ungkapan bid’ah itu terkadang diartikan untuk menunjuk sesuatu yang baru dan terjadi setelah Rasulullah wafat yang terkandung pada persoalan yang umum yang secara syar’i dikategorikan baik dan terpuji (hasanah mamduhah).

Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumiddin Bab Etika Makan mengatakan, “Tidak semua hal yang baru datang setelah Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah memperbaharui sesuatu setelah Nabi (bid’ah) yang bertentangan dengan sunnah.” Bahkan menurut beliau, memperbaharui sesuatu setelah Rasulullah (bid’ah) itu terkadang wajib dalam kondisi tertentu yang memang telah berubah latar belakangnya.”

Imam Al Hafidh Ibn Hajjar berkata dalam Fathul Barri, “Sesungguhnya bid’ah itu jika dianggap baik menurut syara’ maka ia adalah bid’ah terpuji (mustahsanah), namun bila oleh syara’ dikategorikan tercela maka ia adalah bid’ah yang tercela (mustaqbahah). Bahkan menurut beliau dan juga menurut Imam Qarafi dan Imam Izzuddin ibn Abdis Salam bahwa bid’ah itu bisa bercabang menjadi lima hukum.

Syeh Ibnu Taimiyah berkata, “Beberapa Hadits dan atsar telah diriwayatkan tentang keutamaan malam Nisyfu Sya’ban, bahwa sekelompok ulama salaf telah melakukan sholat pada malam tersebut. Jadi jika ada seseorang yang melakukan sholat pada malam itu dengan sendirian, maka mereka berarti mengikuti apa yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf dulu, dan tentunya hal ini ada hujjah dan dasarnya. Adapun yang melakukan sholat pada malam tersebut secara jamaah itu berdasar pada kaidah ammah yaitu berkumpul untuk melakukan ketaatan dan ibadah.

Walhasil, sesungguhnya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah itu hukumnya sunnah (mustahab) dengan berpedoman pada Hadits-Hadits di atas. Adapun ragam ibadah pada malam itu dapat berupa sholat yang tidak ditentukan jumlah rakaatnya secara terperinci, membaca Al Quran, dzikir, berdo’a, membaca tasbih, membaca sholawat Nabi (secara sendirian atau berjamaah), membaca atau mendengarkan Hadits, dan lain-lain.

Tuntunan Nabi di Malam Nisyfi Sya’ban (Hal. 94)
Rasulullah telah memerintahkan untuk memperhatikan malam Nisyfi Sya’ban, dan bobot berkahnya beramal sholeh pada malam itu diceritakan oleh Sayyidina Ali Rodliallahu anhu, Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda: “Jika tiba malam Nisyfi Sya’ban, maka bersholatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menurunkan rahmatnya pada malam itu ke langit dunia, yaitu mulai dari terbenamnya matahari. Lalu Dia berfirman, ‘Adakah orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni? Adakah orang meminta rizki, maka akan Aku beri rizki? Adakah orang yang tertimpa musibah, maka akan Aku selamatkan? Adakah begini atau begitu? Sampai terbitlah fajar.’” (HR. Ibnu Majah)

Malam Nishfu Sya’ban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban sekalipun adalah saat yang tepat bagi seorang muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah saat yang utama dan penuh berkah, maka selayaknya seorang muslim memperbanyak aneka ragam amal kebaikan. Doa adalah pembuka kelapangan dan kunci keberhasilan, maka sungguh tepat bila malam itu umat Islam menyibukkan dirinya dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam mengatakan, “Doa adalah senjatanya seorang mukmin, tiyangnya agama dan cahayanya langit dan bumi.” (HR. Hakim). Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam juga mengatakan, “Seorang muslim yang berdoa -selama tidak berupa sesuatu yang berdosa dan memutus famili-, niscaya Allah Subhanahu wata’ala menganugrahkan salah satu dari ketiga hal, pertama, Allah akan mengabulkan doanya di dunia. Kedua, Allah baru akan mengabulkan doanya di akhirat kelak. Ketiga, Allah akan menghindarkannya dari kejelekan lain yang serupa dengan isi doanya.” (HR. Ahmad dan Barraz).

Tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam tentang doa yang khusus dibaca pada malam Nishfu Sya’ban. Begitu pula tidak ada petunjuk tentang jumlah bilangan sholat pada malam itu. Siapa yang membaca Al Quran, berdoa, bersedekah dan beribadah yang lain sesuai dengan kemampuannya, maka dia termasuk orang yang telah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan ia akan mendapatkan pahala sebagai balasannya.

Adapun kebiasaan yang berlaku di masyarakat, yaitu membaca Surah Yasin tiga kali, dengan berbagai tujuan, yang pertama dengan tujuan memperoleh umur panjang dan diberi pertolongan dapat selalu taat kepada Allah. Kedua, bertujuan mendapat perlindungan dari mara bahaya dan memperoleh keluasaan rikzi. Dan ketiga, memperoleh khusnul khatimah (mati dalam keadaan iman), itu juga tidak ada yang melarang, meskipun ada beberapa kelompok yang memandang hal ini sebagai langkah yang salah dan batil.

Dalam hal ini yang patut mendapat perhatian kita adalah beredarnya tuntunan-tuntunan Nabi tentang sholat di malam Nishfu sya’ban yang sejatinya semua itu tidak berasal dari beliau. Tidak berdasar dan bohong belaka. Salah satunya adalah sebuah riwayat dari Sayyidina Ali, “Bahwa saya melihat Rasulullah pada malam Nishfu Sya’ban melakukan sholat empat belas rekaat, setelahnya membaca Surat Al Fatihah (14 x), Surah Al Ikhlas (14 x), Surah Al Falaq (14 x), Surah Annas (14 x), ayat Kursi (1 x), dan satu ayat terkhir Surat At Taubah (1 x). Setelahnya saya bertanya kepada Baginda Nabi tentang apa yang dikerjakannya, Beliau menjawab, “Barang siapa yang melakukan apa yang telah kamu saksikan tadi, maka dia akan mendapatkan pahala 20 kali haji mabrur, puasa 20 tahun, dan jika pada saat itu dia berpuasa, maka ia seperti berpuasa dua tahun, satu tahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Dan masih banyak lagi Hadits-Hadits palsu lainnya yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin.
#bersambung InshAllah

surat untuk si kacung

Sore itu, sejumlah pemuda bersendau gurau sambil menikmati kopi senja di salah satu warung kopi pinggir jalan. Philokopi, demikianlah tulisan yang menempel di tembok depan warung itu yang sekaligus menjadi tempat kami bersandar dan memainkan handphone kami masing-masing. Sebagian dari kami ada pula yang memetik senar gitar sambil bersenandung lagu Iwan Fals yang berjudul kemesraan. Eh, sekarang jumat sore, berarti nanti malam kita ngaji philonstitute, kata udin membuka obrolan, katanya si kacung pulang kampung ya? Bagaimana kalau kita paksa utuk ikut kajian? Mesti bakalan seru nanti.. philonstitute adalah sebuah nama kajian rutin kami setiap malam sabtu di warkop philokopi itu.

Kajian ini sebenarnya memodifikasi kajian-kajian yang terdapat di pesantren, hanya saja sasarannya teman-teman ngopi.ide bagus itu, jawab kang Awe salah satu santri kajian yg sekarang lebih hobi mengamati politik lokal. Sana mbah buruan sms si kacung,  perintah kyai Qotrul Ghoits pada mbahudin. Ketika ditanya ‘lhoh kenapa masih muda kok dipanggil “mbah”? jawabnya: karena manggil ustadz terlalu mainstream bagi saya. Kyai Qotrul Ghoits memang masih tergolong muda, selain berperawakan cool, tampan, dan sopan, ia juga tahu banyak tentang bahasa intelek, konon dulu ia juga pernah makan bangku univrsitas meski tidak tamat. Di kampung kyai Qotrul Ghoits juga memangku sebuah ‘langgar’ yang nama langgar tersebut belum pernah ditemukan di daerah lain, se-kabupaten bahkan se- jawa. Nama langgarnya “Maju Jaya”, mungkin harapannya langgar tersebut bisa memajukan umat muslimin di semua bidang, dan tidak menutup kemungkinan nama langgar tersebut  muncul dari sebuah pertanyaan seorang doktor guru besar mesir saat berkunjung ke Indonesia dan membuka seminar dengan bertanya kepada audience: li madza ta’akhkhoro al-muslimun?(kenapa orang-orang islam semakin terbelakang)
Sang surya kian tenggelam dan menyembunyikan dirinya sedangkan kami masih terus asyik mengobrol sana-sini sambil ngrasani, mulai ngrasani pemerintah sampai ngrasani tokoh agama, ya semoga saja dengan ngrasani mereka itu bisa berkuurang pula dosa-dosa orang yang kami rasani. “salam, cuung, nanti ada kajian philonstitute, kamu datang yha.. jangan lupa bawa laptop, soalnya ini temen2 ndak ada yg bawa laptop, dan ini ada file PDF buku jim-jim, jadi nanti kyai Rozi baca kitabnya, kita nyimak pakai laptop. Gmn? Bisa kan? Mbahudin mengetik SMS di HP jadulnya kemudian dikirim ke kacung. Kopi kami mendingin, tapi obroalan kami kian memanas. Terjadi perdebatan sengit antara kyai Rozi dan kyai Qotrul Ghoits, meski kyai Rozi yang selalu memimpin kajian tapi kyai Rozi selalu ‘legowo’ jika apa yang dia sampaikan disalahkan lantara tidak sesuai dengan logika dan nalar teman. Kita memaklumi perbedaan sudut pandang karena memang latar belakang kami berbeda-beda, Tulus berprofesi sebagai wartawan, Faishol sebagai kontraktor, kyai Qotrul Ghoits selain kyai langgar juga seorang sekretaris desa, Awe seorang guru dan akhir-akhir ini dia dijadikan pengawas pemilu tingkat kecamatan oleh KPUD setempat, si kacung seorang dosen sebuah universitas, ayik seorang pelukis dan pemilik saham terbesar warkop philokopi, Thohir seorang penjual buku sekaligus penulis, dan Afif seorang fotografer, sehingga dalam berlogika pun tak jarang perdebatan dapat kita hindari.

Di tengah canda tawa, tiba-tiba terdengar bunyi notification dari sebuah HP, kacung iku mesti, bentak afif yang dari tadi hanya terdiam dan manggut-manggut menyaksikan perdebatan dua kyai philonstitute kyai Rozi vs. Kyai Ghoits. Bener ini dari kacung, jawab mbahudin, apa katanya? Sahut kang Awe yang tidak sabar dengan kabar dari kacung. Saya bacakan, dengarkan! Kata mbahudinz dingin. “oke siap, saya bawakan untuk kalian sebuah macbook, ingat! Macbook, bukan laptop”. Mendengar itu spontan kyai Rozi bilang jiancuuk kacung... kacung ki bellagu ayik menambahi. Di philonstitute kata ‘jiancuk’ memang biasa terucap, selain kata itu belum resmi disepakati sebagai sebuah umpatan-yang  berakibat dosa-kata tersebut jika diucapkan pada kita baik secara langsung ataupun tidak, kita tidak akan marah, sehingga kita menyebutnya itu adalah sapaan mesra kami. Wis aku wae sing bales, kata kyai Rozi. Oke cuk, jo lali mengko gowo udud, kowe dosen kapan rokokmu ra enak berarti kowe medit.

Setelah isya’, sekitar pukul 20.30 kajian pun kami mulai, al-fatihah..... kyai Rozi meulai kajian dengan bertawassul kepada Nabi dan kirim fatihah kepada sang author jam’u al-jawami’.
Sebelum kajian kita mulai ada baiknya kita sampaikan beberapa hal:
Begini masbro sekalian: Fiqih itu kan luas dan luwes, apalagi jika berfiqih secara manhaji, yakni dengan mendayagunakan ushul-nya. Salah satu kaidah fiqih nyaris secara literer menggambarkan keluasan dan keluwesan itu:
الأمرإذا ضاق اتسع Ùˆ إذااتسع ضاق “Segala urusan itu jika sempit terluaskan, jika luas akan menyempit” Maka, fiqih pun mensyaratkan kontekstualitas, sebagaimana panduan kaidah:

الحكم يدور مع علته وجوداوعدما “Segala hukum beredar beserta 'illatnya, dalam (menentukan) ada dan tiadanya”
Perkembangan zaman melahirkan masalah-masalah baru yang belum pernah timbul di zaman yang lalu (unprecedented) sehingga kian menuntut pendayagunaan ushul fiqih untuk menggali hukum atas masalah-masalah baru itu. Kalaupun banyak kyai sepuh dulu “tidak berani” melakukan istinbat (penggalian) hukum sendiri dan memilih membiarkan pembahasan hukum masalah-masalah baru itu mauquf (terhenti tanpa keputusan), itu karena tawadlu' dan kehati-hatian memegang tanggung jawab fatwa. Tapi perkembangan zaman pun terus mendesak. Tidak melambat malah bertambah cepat secara akseleratif. Sedangkan ummat tidak boleh dibiarkan bingung atapun liar tanpa panduan. Maka kita pun mengenal kyai-kyai ahli ushul yang progressif seperti Kyai Abdul Wahab Hasbullah dan Kyai Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh rahimahumallah yang kerap menyodorkan penyikapan-penyikapan yang bernas atas berbagai dinamika zaman dan memberi jalan keluar dari kebuntuan, walaupun terkadang menimbulkan kontroversi karena tidak disetujui oleh kyai-kyai ahli fiqih yang lebih berhati-hati.

Para kyai amat sadar akan potensi kontroversi itu. Itulah sebabnya mereka kemudian mengembangkan berbagai pendekatan komunikasi untuk menjembatani kesenjangan.
Kita di sini akan mengkaji bersama seputar ushul fiqih. Pada pertemuan minggu lalu kita telah membahas hukum syariat, klasifikasi hukum wajib, mustahil dan jaiz. Sekarang mari kita bahas apakah wajib dan fardhu itu sama? Sama, jawab ayik sambil slenge’an, sing penting yen iku perintah yo ayo dilakoni tambah ayik. Sebentar to yik, mbok ya kita dengerkan dulu penjelasan kyai Rozi, baru kita sanggah nanti... cung poto cung gawe HP mu, mengko di upload di sosmed, kalo perlu nanti biar tak jadikan liputan di bejat, perintah Tulus yang dari tadi hanya memegang ballpoint dan buku kecil yang biasa ia gunakan untuk meliput berita. Jancuk iki Iphone cuk, ora HP, sanggah kacung, yowes lah sak karepmu, penting buruan foto, aku di keto’ke lho.. imbuh mbahudin membela Tulus.

Mayoritas ulama fiqih sepakat bahwa fardhu dan wajib itu sinonim, keduanya berarti hal yang harus dilaksanakan berdasarkan perintah Tuhan, hanya madzhab Hanafi yang membedakan definisi keduanya, menurut beliau wajib itu sebuah kewajiban yang berdasarkan dalil dzanni (spekulatif), sedangkan fardhu itu kewajiban yang ditetapkan berdasarkan dalil qath’i (pasti) artinya penetapannya itu bersifat decisife dan tidak memebuka celah adanya penafsiran lain (tidak ihtimal:multi interpretasi). Contoh wajib adalah zakat fitrah dan contoh fardhu adalah sholat lima waktu. Dalil yang digunakan untuk mewajibkan zakat fitrah bersifat spekulatif kaidah fikih lah yang digunakan untuk menjelaskan semua itu. Kaidah fiqih adalah argumen teoritis yang dibangun oleh para ulama untuk menjelaskan sesuatu itu wajib, haram, sunnah, mubah dan seterusnya dari sisi keilmuan manusia. Dari penjelasan kyai Rozy ini, kyai Ghoits nampak manthuk-manthuk mungkin saja dialah yang paling mudah menerima keterangan tersebut. Di tengah kekhusyu’an para jamaah mendengar penjelasan, tiba-tiba kacung berteriak interupsi cuk, jika demikian berarti kewajiban zakat dan sholat tadi merupakan kontruksi ulama dong, bukan produk genuine dari Tuhan?! Mendengar apa yang disampaikan kacung, semua jamaah terbelalak dan memandang ke arah kacung, tak terkecuali kyai Rozi. Bersambung....

Minggu, 15 Mei 2016

kumpulan surel ASD ke ESZET

#1
Aku kira kau tau ujung taring dapat menyanyat,
Aku kira kau faham pisau bisa membelah hati,
Dan aku sangka kau tau bagaimana rasa hati dibelah taring ?
Yah...pun aku...
Sudahlah sampai kurasa manisnya tebu,
Sudahlah mampu ketepis dalamnya rancu
Dan sudahlah sanggup ku mengemas sehasrat rindu,
Tapi ah...
Apa yg diinginkan tahtamu?
Aku hanya sepotong kayu
Yang sampaipun ia ditempa
Tak kan bisa jadi tembaga dari darah biru...
Kau tau sekarang perasaanku?
Menangis dalam syahdu,
Memilih jerami dari batang tebu,
Dan..
Menancap sendiri di tepi ulu...

Apa yang ku mau ?
Kau tak kan merasakan sepertiku,
Dalam diam tetap menjadi arjunaku,
Dan aku..
Masih merasa menyayangimu... [ASD]

#2
HUJAN JANGAN REDA
Deru hujan jangan pernah reda,
Kukuhkan kembali syairku untuk dia
Pemilik sebidang dada yg aku harap untuk bermanja.

Deru hujan jangan pernah reda,
Sempurnakan kata penghias untuk mata,
Tuturkan padanya akulah pemuja,
Bisikan saja aku mencinta,
Tapi jangan aku ungkapkan aku siapa.
Kenapa hujan reda?
Ucapmu; rindumu me-rajai langitku.
Ah..
Deraslah kembali duhai hujan..
Biar aku tetep leluasa dan menengadah dan terpejam atas senyum sang pesona [ASD]

#3
Aksaraku terus menerus masuk,
Terkendali dari sela nafas,
Melabirin dalam pikiran,
Lalu akhirnya membelenggu atas nama kerinduan.
Ah...katamu..”Lucuti semua tubuhku”,
Kubilang tidak,
“keterikatan tak akan mengenyahkan kita”,
Aku terlalu ambigu kekasih..
Laksana nikmat surgawi,
Tapi lakuku..?
Kukira aku hidup dalam bayangan-bayangan jenggala api,
Ternyata ujarmu coba membentuk puisi,
Segemas hasrat hendak memilin renjana abadi,
Dan ahirnya kau berbisik; salam rindu untuk kekasih..[ASD]

eSZet membalas:
seperti kungkum
dalam harum lehermu.
seperti berkeramas
dengan cemas tubuhmu.
kangen ini, manisku, membenamkan aku
ke dalam busa-busa sabun
yang menyimpan wangi 100 musim semi
di mana cita dan kita, mekar karenanya.
barangkali cinta kita adalah sebuah kamar mandi
yang sunyi, seperti puisi atau sepatah doa:
di mana duka dan dusta dibersihkan,
disucikan...[eSZet]

#4
Kadang aku ingin merumput,
Tapi sampaikan niatan ku terwujud,
Si rumput malah mulai layu.
Kadang aku ingin sekali melihat mekarnya bunga,
Tapi belumlah sampai,
Ku pandang kumbang sedang merayu mekar bunga itu.
Benakku,apa kiranya salah diriku ?
Hanya ingin merumput dan memandang mekar sang bunga.
Mungkihkah diriku terlalu menggebu?
Tapi pikirku menepis terkaku sendiri..
Aku yakin..
Sedari lama rumput tergoyang angin,
Dan bunga tak sanggup menolak bujuk rayu si kumbang [ASD]

#5
Tumpuanku sejenak turut andil,
Mengecam siapapun yang hendak mendekat,
Sedangkan aku ?
Terus saja terbuai dalam elok asmaranya, kenapa?
Kenapa? kenapa oh tuan?
Kau kerangkai aku atas maumu,
Menghirup pikuk dalam kedurjanaan,
Lantas nantinya?
Sudikah engkau berdiksi tentang hidupku?
Oh..oh pujangga,
Syairmu telah merajai bawah sadarku,
Hendakpun aku rela berpsrah,
Itu karena luka..
Luka yang kau ukir dengan api di pergelangan ruas sendi leherku.. [ASD]




Selasa, 10 Mei 2016

untuk ibu dan mama baruku

Ismuki manqusyun fi qolbi
hubbuki yahdini fi darbi
wa du’ai yahfadzuki robbi..

Namamu terukir dalam kalbuku
mencintaimu adalah penuntun jalan hidupku
doaku semoga negkau senantiasa dijaga oleh Tuhanku

Tiga bait di atas adalah potongan lagu Haddad Alwi yang berjudul Ummi (ibuku) release sekitar tahun 90-an. Lagu tersebut adalah salah satu ungkapan cinta seorang anak kepada ibunya. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ibulah yang lebih peka perasaannya dan lebih besar kasih sayangnya ketimbang sang ayah, itulah sebabnya dalam sebuah hadits Nabi ketika seorang sahabat bertanya tentang siapakah yang paling berhak kita hormati, Nabi menjawab ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu!. Seorang ayah, -misal-ketika anaknya sakit maka akan berfikir untuk membawanya ke dokter, ke dukun, atau akan diobati sendiri. Lain halnya dengan seorang ibu yang secara reflek akan mengucurkan air mata cintanya sebelum memikirkan semuanya seperti yang dipikirkan sang ayah.
Jika kita amati 99 nama Tuhan (Asma’ al-Husna) maka kita akan menemukan nama ar-Rahim pada urutan kedua. Ar-Rahim (yang maha penyayang tanpa batas), adalah sebuah kualitas yang sesungguhnya membuat kita, manusia dan semesta seisinya, mesti bersyukur di setiap tarikan nafas. Pernahkah kita berfikir, mengapa tempat bersemainya benih kehidupan dinamakan rahim pula. Adakah semacam hubungannya?
Tuhan kita berfirman dalam sebuah hadis Qudsi: “Akulah Tuhan dan Aku adalah Yang Maha Pengasih. Aku ciptakan rahim, dan Aku berikan padanya nama yang berasal dari Nama-Ku sendiri (ar-Rahim). Maka, barangsiapa “memutuskan” rahim, niscaya Aku akan memutuskan [dia dari-Ku], dan barang siapa “menyatukan” rahim, Aku akan menyatukan diri-Ku dengannya.”
Pada rahimlah kita saksikan miniatur kekuasaan daya cipta Tuhan. Tuhan kita berfirman dalam hadis Qudsi “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, dan Aku cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia agar Aku bisa dikenal.
“Aku” (Ilahiah/Tuhan) adalah “ayah”, dan perbendaharaan tersembunyi adalah “ibu”; cinta adalah yang menggerakkan perbendaharaan tersembunyi itu menjadi maujud, yakni “anak.” Rahim, dari sisi jasmani, adalah “wadah” yang melahirkan diri kita sebagai manusia (bashar). Namun, dari sisi spiritual, hakikat kelahiran adalah ketika kita “diri ruhani” kita dilahirkan. Perlambang hakikat keruhanian murni adalah Isa as. Dan Isa lahir dari rahim yang masih suci, yakni perawan Maryam. Ini adalah misteri besar tentang kelahiran ruhani yang sesungguhnya dialami oleh setiap manusia. 
Nafas ar-Rahman adalah tiupan yang abadi; Tuhan tidak sekali saja meniup lantas berhenti, sebab tiupannya adalah tiupan abadi. Tiupan ar-Rahman terus berlangsung tanpa akhir, karena Allah Maha Kekal dan aktivitasnya adalah Abadi – Allah senantiasa dalam kesibukan (QS. ar-Rahman). Artinya, kita senantiasa “dibuahi” oleh Ruh Ilahi. Pada tiap momen sesungguhnya kita punya kemungkinan untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, insan al-kamil (manusia yang sempurna). Setiap saat kita mempunyai kesempatan untuk menjadi “Ibu” – yakni yang melahirkan entitas-entitas permanen yang tersimpan dalam a’yan al-tsabithah (benda yang tetap), dalam perbendaharaan tersembunyi,” yakni saat kita menerima gelombang wahyu. Manusia diciptakan untuk melahirkan realisasi spirtual dan ini tergantung kepada kualitas penerimaan yang ada dalam diri kita. Nabi Adam diciptakan lengkap dengan semua kualitas. Adam adalah ayah sekaligus ibu; Adam “melahirkan” hawa, dan menjadi ayah yang membuahi “hawa” untuk melahirkan anak-anak.
Karenanya, perkawinan adalah perjanjian ikatan suci, karena ia diikat dengan kalimat syahadat. Ini berarti bahwa dalam ikatan perkawinan, manusia diharapkan menyatukan seluruh kualitas diri yang terpecah, agar siap menerima gelombang Wahyu yang abadi, dan, dalam analisis terakhir, kembali kepada persatuannya dengan Yang Ilahi. Ketika Adam terjatuh dari surga, tercerabut dari Keindahan Ilahi, Adam kehilangan ketentramannya. Adam mencari hakikat dirinya. Allah Yang Maha Pengasih lantas menyingkapkan Jamal-Nya (Keindahan-Nya) secara spesifik ke dalam lokus manifestasi yang tiada lain adalah Hawa, sang perempuan. Karenanya, Adam menemukan apa-apa yang dicarinya dalam diri Hawa. Tetapi Adam dan Hawa tak cukup hanya saling memandang untuk kembali ke hakikat dirinya. Mereka harus bersatu; dan pernikahan adalah lambang dari persatuan ini. Kesatuan dan pertemuan (wushul) dimaksudkan agar keseluruhan mencapai bagian dan vice versa. Pernikahan ini adalah ibadah yang tinggi. setiap tindakan ibadah memiliki kelezatan atau kenikmatan, dan setiap kenikmatan itu adalah tanda-tanda dari kenikmatan surgawi. Jadi jelas, kenikmatan “pertemuan” lebih besar ketimbang kenikmatan “melihat.” Dalam bahasa awam, kenikmatan bersetubuh lebih besar ketimbang kenikmatan melihat persetubuhan. Jadinya, hubungan seksual yang suci dalam ikatan pernikahan yang sah adalah perlambang fana (sirna). Kini jelas, pernikahan adalah menyatukan kembali kualitas rahim yang melekat dalam diri setiap manusia, baik pria dan wanita. 
Walhasil, agar kita lahir sebagai manusia ruhani, sebagai insan kamil, kita harus menghormati kesucian rahim, sebab hanya rahim yang suci sajalah yang melahirkan manusa ruhani yang paripurna, yang dilambangkan oleh Maryam yang melahirkan Isa as. Tetapi Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Tahu, bahwa tak setiap manusia punya kapasitas untuk menjadi sesuci Maryam. Karena itulah diturunkan aturan pernikahan dan adab dalam menjaga aurat bagi perempuan dan lelaki. Setiap lelaki dan perempuan yang mengikuti aturan Ilahi, khususnya dalam menjaga kehormatan rahim, ia akan dinilai setara dengan kualitas Maryam.
Tak heran, Rasulullah, Sahabat dan para Wali Allah begitu menghormati perempuan, mengingat peran agung yang dimainkan oleh kaum hawa ini. Rasulullah bersabda “Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang bersikap paling baik terhadap istrinya, dan akulah yang terbaik dalam bersikap terhadap istri.” Tak satupun para Kekasih Allah yang akan berani menyakiti istrinya, sebab saksi ikatan pernikahan mereka adalah Allah dan Rasul-Nya, karena kita membaca kalimat syahadah dalam ijab kabul.
Barang siapa yang tak menghormati rahim, ia tak akan sampai (wushul) kepada Allah – zina, perselingkuhan, pengkhianatan janji suci pernikahan, adalah tindakan yang menodai kesucian “rahim”: dan tak heran, zina, adalah seburuk-buruk jalan, karena membawa kita terlempar dari naungan ar-Rahim dan terputus dari Rahmat-Nya. Barang siapa mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, ia harus membuktikannya dengan menghormati lokus tajalli(keagungan)kerahiman-Nya. Seorang yang mencintai Allah, semestinya tunduk kepada semua perintah Allah lantaran cintanya kepada Allah, dan hamba mesti merawat cintanya ini sampai tiba waktunya untuk dipanggil bertemu dengan Kekasih. 
Dalam cinta sesama insan, tak boleh ada pengkhianatan, apalagi dalam Cinta kepada Allah. Menghormati perempuan, adalah menghormati kualitas “kerahiman” Allah, dan tak patut bagi seorang hamba yang mencintai Allah untuk mengeksploitasi, menyakiti, atau menghina perempuan yang menjaga kesucian rahimnya.



*pernah dimuat di Jawa Pos Radar Bojonegoro, 21/12/2014