Ketika membaca buku karya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin
Alwi al-Hasani, pakar hadits abad millennium, yang berjudul mafahim yajibu an
tusohhaha kita akan menemukan bahwa perilaku takfir (suka mengkafir-kafirkan
orang lain) itu timbul karena dilator belakangi sifat sombong, mersa
pemahamannya(atau kelompoknya) benar dan yang lain salah. Di dalam bergurupun
sebenarnya juga sangat niscaya hal ini terjadi, sehingga tak jarang seorang
murid mempunyai anggapan bahwa penyerapan dia terhadap ilmu dari gurunya-lah
yang paling benar, dan yang lain salah, padahal seringkali pemahaman dia
terhadap apa yang dimaksudkan oleh guru seringkali kontradiktif. Tak jarang
pula sebagian dari murid yang sangat membangga-banggakan amal saleh
gurunya(dengan tidak mencontohnya, alias hanya berbangga), padahal gurunya
dengan sekuat tenaga menyembunyikan amal saleh tersebut dari public.
Ah..’embuuuh’
saya: maaf guru, saya mau matur
lagi, setelah saya memposting nasehat guru, ada beberapa faceboker yang
nge-like kemudian komemtar bahkan ada beberapa yang nge-share..
Guru:..kemudian kamu bangga ya kang?
saya: Padahal...
Guru: Padahal kamu sudah bilang kalau itu dari saya kan? tapi
ternyata kamu masih merasa bangga dengan semua itu kan? Nah itulah yang belum
bisa kamu fahami. Ujub, riya', takabur, dll itu penyakit hati, meski kamu
tutupi serapi mungkin, gurumu tetap akan menciumnya. Itu tempatnya di hati, tak
ada hubungannya dengan tulisanmu, atau komentar, like dan share nya orang lain,
meski terkadang apa yang kamu tulis itu menunujukkan isi hatimu, namun
seringkali kamu tak faham tanpa penjelasan dan arah dari gurumu dan tugas
gurumu menerangkan hal itu..
Saya: ..hmm..nha
terus..
Guru: ..terus
saya harus bagaimana kan maksudmu?
begini,
kamu tahu murid yang berprestasi? Siapa yang dipuji jika ada murid berprestasi?
Anaknya ataukah gurunya? nhah, posisimu persis seoerti itu. Jika kamu masih
merasa bangga, senang, merasa terpuji dengan apa yang tidak kamu kerjakan
(karena hakikatnya itu bukan kerjaanmu), maka..kau perlu membaca ulang ayat
yang mnjelaskan tentang balasan orang yang "yumdahu
bi ma lam yuf'alu" itu
balasan apa yang pantas baginya?? Sana cari dulu!!
saya: eh Guru,
satu lagi, akhir-akhir ini di fb, group wa, dan sosmed yg lain rame membahas
kasus ada anak alay yang 'gila' dengan berpose menginjak alquran, hukuman apa
yang pantas untuk anak kurangajar semacam itu guru?
Guru: kamu itu
kok ‘sok’ kang, selama puasa kamu tidak pernah atau jarang tadarus quran,
intensitas membaca quranmu masih kalah kalah dengan bermain HP, kok kamu
sok-sokan berlagak membela quran, quran itu yang menjaga Allah bukan orang
semacam kamu, kamu tidak setuju dan sakit hati dengan tindakan anak itu sudah
benar, tapi bukan berarti kamu boleh mengecam yang tidak-tidak apalagi sampai
menjelek-jelekan makhluq Allah lain, lagian itu bukan tugasmu, mereka sudah
ditangkap polisi ya sudah, malah belakangan ini pe;aku sudah diberi pembinaan
ya biar ditangani yang bertugas saja, itu tugas mereka, kamu mengaji quran yang
banyak, jangan main hp saja sok membahas di fb/wag sok-sok membela quran
padahal jarang membaca quran. Kamu kira saya seperti ini tidak marah dengan
kelakuan dia?, saya juga marah sebatas di hati, kemudian saya doakan agar dia
mendapat petunjuk dan tidak mengulanginya, bahkan andai itu terjadi di depan
mata kepala saya, saya siap mengganti kepala saya untuk dia injak dan saya akan
mengambil quran dari tangannya. Menurutku itu lebih elegant.
saya: saya
baca quran apa harus saya laporkan ke guru? katanya tidak boleh riya'?
Guru: sudah
saya duga jika kamu bakal menjawab seperti itu,, begini: kamu tidak membaca
quran lantaran kamu takut dituduh riya’ itu namanya riya’, sementara jika kamu
membaca quran karena orang atau sesuatu lain itu berarti kamu syirik. Faham?!!
buruan baca alquran, tak usah membantah!!!