Rabu, 20 Juli 2016

Saya dan Guru: Halal bi Halal

Saya:  Salam, Guru.. saya hendak 'matur' panjenengan,
Guru: Bagaimana kang? mau kulakan kan kamu?
Saya:  Iya Guru, mohon petuah-petuah dari Guru untuk saya sampaikan di acara halal bi halal besok..
Guru: Begini kang, pada dasarnya petuah, mauidzoh, wasiat atau apapun baik yang berupa pengetahuan atau arahan itu bisa kamu dapatkan via apapun, via media cetak, elektronik, buku, majalah, aneka sosmed dari postingan para ilmuwan dan ulama, tapi 'merasuk'nya begituan tidak seperti jika kamu datang ke sini dan saya bicara langsung sama kamu,, itulah mengapa dulu jaman Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits adalah Abu Hurairah, sosok yang paling aktif dan ada di barisan depan saat ngaji sama Nabi di suffah (emperan) masjid nabawi.
ini moment bocah-bocah podo mulai masuk sekolah, besok jika kamu berkesempatan bicara di depan tolong sampaikan ini: ibu-ibulah yang menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anak, Allah sengaja memberikan banyak contoh; bahwa kesalehan anak itu tergantung pada kesalehan ibu-ibunya, dan kesalehan ibu-ibu itu tergantung pada kesalehan suaminya (iya ini ndak mutlaq, tapi mayoritas begitu).. jadi bapak-bapak jangan sampai telat memberi nafkah lahir-batin ibu-ibu, agar para ibu juga semakin kuat dalam merawat anak-anak. bagi para ibu, doa ibulah yang lebih manjur dari doa bapak, surga anak ditaruh di bawah telapak kaki ibu bukan di bawah kaki ayah, dan surga ibu ditaruh di bawah kaki suaminya. Ada amalan suami yang bisa menghapus dosa yang tidak bisa dihapus oleh sholat dan puasa, yakni ketika suami mencari nafkah untuk anak-istri, sebagaimana yang ada dalam hadits.
 
Terkait dengan halal-bi halal, kamu tidak usah menyalahkan istilah tersebut, istilah Halal bi Halal ini asli made in Indonesia dan tidak di kenal di dunia Arab, apalagi di dunia Islam lainnya, namun tidaklah meniscayakan istilah ini salah secara Arabic. Dalam ilmu Bahasa Arab sering dijumpai teori izhmar (sisipan spekulatif pada kalimat). Setidaknya ada dua cara agar istilah Halal bi Halal ini benar secara bahasa dengan pendekatan teori tersebut. Pertama Halal bi Halal dari asala kalimat thalabu halâl bi tharîqin halâl; mencari kehalalan dengan cara yang halal. Kedua, halâl "yujza'u" bi halâl; kehalalan dibalas dengan kehalalan. Yang kedua ini sering kita temukan pada redaksi ayat al-Qur'an saat berbicara hukum qishâs, mislanya; "anna al-nafsa bi al-nafsi, wa al-'aina bi al-'aini; sesungguhnya jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata" (QS. Al-Maidah: 45).

Saya: Guru, mau bertanya, kenapa ya guru ayat yang biasa dibaca para dai ketika muqaddimah ceramah yakni "La in syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna adzabi lasaydid" jika syukur ditambah, jika tidak syukur (kufur nikmat) maka diazab, kok redaksinya tidak: "jika syukur tak tambah, jika tidak ya tidak aku tambah" kok malah "tak azab"? bagaimana ini guru?
Guru: kamu punya akal tidak? memurutmu akal diciptakan untuk apa?
Saya: punya guru, dan akal diciptakan agar kita berfikir
Guru: benar, kami punya akal, dan benar juga agal diciptakan agar kita mampu berfikir, tapi tidak sampai di situ, akal diciptakan agar kita berfikir dan tahu bahwa kita ini bodoh, diciptakannya pengetahuan itu agar kita tahu jik kita tidk berpengethuan, dan pemgetahuan yang paling tinggi adalah saat kit tahu kalau kita tidak punya pengetahuan dan Dialah sang maha tahu yang menguasai segal pemgetahuan. Terkait pertanyaanmu dibtas begini, setiap kamu memdapt nikmat dan kamu bersyukur maka kamu akan ditmbah (urusan tambahannya ini serahkan pada yang nmbahi). syukur itu bagaimana? minimal kamu sadar jika nikmat tersebut nenar-benar dariNya, bukan dari siapapun bahkan atas usaha siapapun termasuk dirimu..setelah itu urusan ekspresi syukur itu bernek ragam.

nha..jika kamu tidak syukur maka nikmat itu akan menjadi azab bagimu, entah nnti akan merepotknmu, akan membutmu kian jauh sama Tuhanmu, akan malah menjadikanmu hina dst..pasti nikmat tersebut akan menjadi azab bagimu, pasti!
oh ya satu hal lagi yang perlu kamu fahami; Janganlah kamupercaya diri dengan amal shaleh yang kamu lakukan(bahas hikamnya al i'timad alal amal)karena kelak kamu masuk sorga dengan rahmat Allah, bukan karena amalmu dan rahmat Allah adalah Rasulullah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Meski demikian kami harus semangat untuk beramal shaleh, karena itu merupakan sebuah tanda keselamatan. Ibaratnya jika kamu mau menuju surabaya, di jalan ada tulisan "Surabaya 160 Km". Tulisan itu bukanlah kota Surabaya, tapi hanya tanda yang mengarahkan kamu ke kota tersebut. Begitu juga amal shaleh, itu bukan keselamatan, tapi hanya sebuah tanda adanya keselamatan. Faham kamu?
Saya: injih Guru,,



Minggu, 03 Juli 2016

saya dan Guru: Menikah

Guru: kang, kamu mau nikah 'malem sanga' Ramadhan ini?
saya: sama siapa guru?
Guru: ya itu, sama gadis depan rumahku,,
dia-menurutku- masuk kategori 'qanitat', kamu masih ingatkan di quran itu ada ayat yang menyebutkan kalau syarat wanita shalihah itu cuma 2; qanitat dan hafidzat (yang manut dan penjaga), penjaga yang dimaksud adalah menjaga apa saja yang menjadi kewajibannya untuk ia jaga, baik yang berkaitan dengan hal adami maupun hak Tuhannya, sementara 'qanitat' itu manut/nurut, bukan kepadamu melainkan kepada Tuhanmu dan RasulNya, jadi jika kelak dia nurut kamu, kamu jangan GR dulu, karena sebenarnya ia sedang manut sama Tuhannya

saya: bolehkah saya minta waktu untuk berfikir semalam saja guru? bukankah bapaknya gadis itu santrinya guru juga sama sepertiku?!
Guru: hmm,, oke kang, silakan istikharah, kamu santri, istikharah adalah langkah yang harus kau tempuh, ingat!! istikharah itu ada dua makna, 1. minta pilihan (dari kata khiyaroh) agar Allah yang memilihkanmu, 2. minta kebaikan (dari kata khair). Yang pertama itu ketika kamu sudah ada dua pilihan dan kamu bingung salah satu dari keduanya, sementara yang kedua, samasekali kamu belum punya pilihan atau kamu tidak bisa memilih seperti saat ini. Kamu tidak usah mencoba 'ngatur-ngatur' Tuhan dengan permintaan yang terkesan membatasi 'fadhal'Nya Allah atas dirimu, pokoknya minta baik gitu aja, bagaimanapun dan dengan apapun caranya serahkan Allah, itu etikanya. Ya, benar,, bapakanya juga ngaji di sini sama sepertimu, kenapa? massalah buat elloh??! Nabi itu sama khulafa' ar-rasyidun 4 juga punya hubungan mertua-menantu, padahal mereka semua sahabat Nabi, ada yang dijadikan mertua, ada pula yang dijadikan memantu toooh?!
-------------------
keesokan harinya:
Guru: bagaimana? deal kang?
saya: bismillah, la haula wa la quwwata illa billah. deal guru,, mohon pangestu&bimbingannya,
Guru: alhdulillah, ma kana min ni'matin fa minallah,
saya: tapi guru,, lha nanti 'tetek bengek' nya bagaimana? undangan, lamaran, resepsi, prosesi akad, serah terima mempelai, dll ?
Guru: kamu ingat kisah sahabat Nabi yang bernama Julaibib al-Anshari? beliu dinikahkan dengan bangsawan kaum Anshar oleh Nabi dengan proses yang sangat simpel; ditanyai, dilamarkan, dinikahkan, tidak punya mahar disuruh minta kepada sahabat-sahabat Nabi, Tidak pakai 'tetek bengek' begitu,, meski endingnya Julaibib wafat sebelum yaum zafaf, setidaknya kita bisa memetik pelajaran dari proses perjodohan ini.
saya: injih guru, mantep,, minta doa restu guru..
------------------
Guru: silakan masuk kang manten anyar, sudah berlebaran ke mana saja? kamu berlebaran dzohir-batin, dzohir saja atau batin saja?
saya: terimakasih Guru, barusan saya pulang dari rumah kyai Amir Yusuf, beliau kerja sebagai penghulu KUA kecamatan sebelah desa..
wah, saya belum bisa identifikasi lebaran saya ini sudah dzohir-batin atau belum Guru.. maaf Guru, mohon bimbingannya

Guru: di sebuah kitab ada sebuah ungkapan(di kitab tersebut redaksinya bermodel hadits), sengaja tidak saya sampaikan itu hadits atau bukan karena memang hadits-hadits yang ada di kitab tersebut-kata beberapa pakar hadits-banyak yang dlaif bahkan palsu, tapi ini tidk akan saya terangkan di sini, yang mau saya sampaikan adalah isi dari 'dawuh' atau ungkapannya, kurang lebih begini:
ketika hari raya, iblis itu mengumpulkan anak turunnya kemudian komandan iblis menyampaikan pengumuman: hari ini anak adam telah diampuni dosa-dosanya, kini trik yg harus kita lakukan adalah menggoda mereka dengan kesenangan-kesenangan pasca lebaran yang bermuatan kemaksiatan. Jika kita mau waspada beberapa kali iblis berhasil dengan trik ini, kita bisa lihat silaturrahmi dan reuni-reuni yang berlebihan sehingga menjerumuskn pelakunya ke arah maksiat mulai dari salaman dengan yang bukan mahram sampai ber-khalwat juga pesta mihol di malam lebaran. belum lagi kumpul-kumpul yang kemudian ngerumpi/ngrasani 'ngalor-ngidul' dan berboros-borosan dalam membelanjakan sesuatu.
nhah.. jika kamu bisa identifikasi itu semua, kemudian kamu menjauhinya dan kamu berbenah sehingga kualitas ibadahmu meningkat pasca ditinggalkan ramadhan, berarti berlebranmu sudah dzohir-batin kang, ingat,, dawuhnya ulama: kun rabbaniyyan wa la takun ramadhaniyyan (jadilah orang yang beribdah karena Rabb bukan hanya karena moment ramadhan). eh lha kamu sama tokoh yang katamu seorang penghulu itu dibekali apa untuk pernikahan barumu?

saya: anu guru,, beliau dawuh kalau habis nikah itu inshAllah rejekinya pasti ditambah sama gusti Allah, bahasa simpelnya nikah itu 'nggothek' rejeki yang masih di langit. benar begitu ya guru?
Guru: ada hadits qudsi yang kuranglebih maknanya begini: kamu tidak usah tanya rejekimu esok hari, sebagaimana Aku tidak menanyakan ibadahmu esok hari. jelas rejekimu setelah nikah akan bertambah, wong kewajibanmu juga bertambah, yakni ngrumat istri,, yang terpenting kamu ibadah saja, cari nafkah saja, jangan terlalu sibuk memikirkan rejeki, rejekimu tak akan salah alamat.
sekarang kamu perbanyak baca quran juga hadits-hadits Nabi, belajar 'nepakne lakon' dengan dawuhnya Allah dan sunnahnya Nabi, tapi ya tetep main ke sini, jika kamu tak faham konsultasikan, karena ada adigium dari Sufyan bin Uyainah yang dikutip oleh Ibn Hajar al-Haitami di Fatawa Haditsiyah beliau: al-Haditsu Mudhillun illa li-l fuqoha' (hadits itu menyesatkan kecuali bagi ahli fikih), meski fikihmu dari pesantren (mungkin)sudah 'ngatasi' sebagai sangu baca hadits, tapi kamu tetap masih butuh seorang guru, teruslah berguru, teruslah mengaji,,

sudah..sudah, monggo disambii..
http://iniituu.unipdu.ac.id/menemu-islam-nusantara-di-belantara-ramadhan-5-maleman-poso-dalam-budaya-jawa/