Rabu, 20 Juli 2016

Saya dan Guru: Halal bi Halal

Saya:  Salam, Guru.. saya hendak 'matur' panjenengan,
Guru: Bagaimana kang? mau kulakan kan kamu?
Saya:  Iya Guru, mohon petuah-petuah dari Guru untuk saya sampaikan di acara halal bi halal besok..
Guru: Begini kang, pada dasarnya petuah, mauidzoh, wasiat atau apapun baik yang berupa pengetahuan atau arahan itu bisa kamu dapatkan via apapun, via media cetak, elektronik, buku, majalah, aneka sosmed dari postingan para ilmuwan dan ulama, tapi 'merasuk'nya begituan tidak seperti jika kamu datang ke sini dan saya bicara langsung sama kamu,, itulah mengapa dulu jaman Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits adalah Abu Hurairah, sosok yang paling aktif dan ada di barisan depan saat ngaji sama Nabi di suffah (emperan) masjid nabawi.
ini moment bocah-bocah podo mulai masuk sekolah, besok jika kamu berkesempatan bicara di depan tolong sampaikan ini: ibu-ibulah yang menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anak, Allah sengaja memberikan banyak contoh; bahwa kesalehan anak itu tergantung pada kesalehan ibu-ibunya, dan kesalehan ibu-ibu itu tergantung pada kesalehan suaminya (iya ini ndak mutlaq, tapi mayoritas begitu).. jadi bapak-bapak jangan sampai telat memberi nafkah lahir-batin ibu-ibu, agar para ibu juga semakin kuat dalam merawat anak-anak. bagi para ibu, doa ibulah yang lebih manjur dari doa bapak, surga anak ditaruh di bawah telapak kaki ibu bukan di bawah kaki ayah, dan surga ibu ditaruh di bawah kaki suaminya. Ada amalan suami yang bisa menghapus dosa yang tidak bisa dihapus oleh sholat dan puasa, yakni ketika suami mencari nafkah untuk anak-istri, sebagaimana yang ada dalam hadits.
 
Terkait dengan halal-bi halal, kamu tidak usah menyalahkan istilah tersebut, istilah Halal bi Halal ini asli made in Indonesia dan tidak di kenal di dunia Arab, apalagi di dunia Islam lainnya, namun tidaklah meniscayakan istilah ini salah secara Arabic. Dalam ilmu Bahasa Arab sering dijumpai teori izhmar (sisipan spekulatif pada kalimat). Setidaknya ada dua cara agar istilah Halal bi Halal ini benar secara bahasa dengan pendekatan teori tersebut. Pertama Halal bi Halal dari asala kalimat thalabu halâl bi tharîqin halâl; mencari kehalalan dengan cara yang halal. Kedua, halâl "yujza'u" bi halâl; kehalalan dibalas dengan kehalalan. Yang kedua ini sering kita temukan pada redaksi ayat al-Qur'an saat berbicara hukum qishâs, mislanya; "anna al-nafsa bi al-nafsi, wa al-'aina bi al-'aini; sesungguhnya jiwa dibalas dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata" (QS. Al-Maidah: 45).

Saya: Guru, mau bertanya, kenapa ya guru ayat yang biasa dibaca para dai ketika muqaddimah ceramah yakni "La in syakartum la azidannakum wa lain kafartum inna adzabi lasaydid" jika syukur ditambah, jika tidak syukur (kufur nikmat) maka diazab, kok redaksinya tidak: "jika syukur tak tambah, jika tidak ya tidak aku tambah" kok malah "tak azab"? bagaimana ini guru?
Guru: kamu punya akal tidak? memurutmu akal diciptakan untuk apa?
Saya: punya guru, dan akal diciptakan agar kita berfikir
Guru: benar, kami punya akal, dan benar juga agal diciptakan agar kita mampu berfikir, tapi tidak sampai di situ, akal diciptakan agar kita berfikir dan tahu bahwa kita ini bodoh, diciptakannya pengetahuan itu agar kita tahu jik kita tidk berpengethuan, dan pemgetahuan yang paling tinggi adalah saat kit tahu kalau kita tidak punya pengetahuan dan Dialah sang maha tahu yang menguasai segal pemgetahuan. Terkait pertanyaanmu dibtas begini, setiap kamu memdapt nikmat dan kamu bersyukur maka kamu akan ditmbah (urusan tambahannya ini serahkan pada yang nmbahi). syukur itu bagaimana? minimal kamu sadar jika nikmat tersebut nenar-benar dariNya, bukan dari siapapun bahkan atas usaha siapapun termasuk dirimu..setelah itu urusan ekspresi syukur itu bernek ragam.

nha..jika kamu tidak syukur maka nikmat itu akan menjadi azab bagimu, entah nnti akan merepotknmu, akan membutmu kian jauh sama Tuhanmu, akan malah menjadikanmu hina dst..pasti nikmat tersebut akan menjadi azab bagimu, pasti!
oh ya satu hal lagi yang perlu kamu fahami; Janganlah kamupercaya diri dengan amal shaleh yang kamu lakukan(bahas hikamnya al i'timad alal amal)karena kelak kamu masuk sorga dengan rahmat Allah, bukan karena amalmu dan rahmat Allah adalah Rasulullah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Meski demikian kami harus semangat untuk beramal shaleh, karena itu merupakan sebuah tanda keselamatan. Ibaratnya jika kamu mau menuju surabaya, di jalan ada tulisan "Surabaya 160 Km". Tulisan itu bukanlah kota Surabaya, tapi hanya tanda yang mengarahkan kamu ke kota tersebut. Begitu juga amal shaleh, itu bukan keselamatan, tapi hanya sebuah tanda adanya keselamatan. Faham kamu?
Saya: injih Guru,,



Minggu, 03 Juli 2016

saya dan Guru: Menikah

Guru: kang, kamu mau nikah 'malem sanga' Ramadhan ini?
saya: sama siapa guru?
Guru: ya itu, sama gadis depan rumahku,,
dia-menurutku- masuk kategori 'qanitat', kamu masih ingatkan di quran itu ada ayat yang menyebutkan kalau syarat wanita shalihah itu cuma 2; qanitat dan hafidzat (yang manut dan penjaga), penjaga yang dimaksud adalah menjaga apa saja yang menjadi kewajibannya untuk ia jaga, baik yang berkaitan dengan hal adami maupun hak Tuhannya, sementara 'qanitat' itu manut/nurut, bukan kepadamu melainkan kepada Tuhanmu dan RasulNya, jadi jika kelak dia nurut kamu, kamu jangan GR dulu, karena sebenarnya ia sedang manut sama Tuhannya

saya: bolehkah saya minta waktu untuk berfikir semalam saja guru? bukankah bapaknya gadis itu santrinya guru juga sama sepertiku?!
Guru: hmm,, oke kang, silakan istikharah, kamu santri, istikharah adalah langkah yang harus kau tempuh, ingat!! istikharah itu ada dua makna, 1. minta pilihan (dari kata khiyaroh) agar Allah yang memilihkanmu, 2. minta kebaikan (dari kata khair). Yang pertama itu ketika kamu sudah ada dua pilihan dan kamu bingung salah satu dari keduanya, sementara yang kedua, samasekali kamu belum punya pilihan atau kamu tidak bisa memilih seperti saat ini. Kamu tidak usah mencoba 'ngatur-ngatur' Tuhan dengan permintaan yang terkesan membatasi 'fadhal'Nya Allah atas dirimu, pokoknya minta baik gitu aja, bagaimanapun dan dengan apapun caranya serahkan Allah, itu etikanya. Ya, benar,, bapakanya juga ngaji di sini sama sepertimu, kenapa? massalah buat elloh??! Nabi itu sama khulafa' ar-rasyidun 4 juga punya hubungan mertua-menantu, padahal mereka semua sahabat Nabi, ada yang dijadikan mertua, ada pula yang dijadikan memantu toooh?!
-------------------
keesokan harinya:
Guru: bagaimana? deal kang?
saya: bismillah, la haula wa la quwwata illa billah. deal guru,, mohon pangestu&bimbingannya,
Guru: alhdulillah, ma kana min ni'matin fa minallah,
saya: tapi guru,, lha nanti 'tetek bengek' nya bagaimana? undangan, lamaran, resepsi, prosesi akad, serah terima mempelai, dll ?
Guru: kamu ingat kisah sahabat Nabi yang bernama Julaibib al-Anshari? beliu dinikahkan dengan bangsawan kaum Anshar oleh Nabi dengan proses yang sangat simpel; ditanyai, dilamarkan, dinikahkan, tidak punya mahar disuruh minta kepada sahabat-sahabat Nabi, Tidak pakai 'tetek bengek' begitu,, meski endingnya Julaibib wafat sebelum yaum zafaf, setidaknya kita bisa memetik pelajaran dari proses perjodohan ini.
saya: injih guru, mantep,, minta doa restu guru..
------------------
Guru: silakan masuk kang manten anyar, sudah berlebaran ke mana saja? kamu berlebaran dzohir-batin, dzohir saja atau batin saja?
saya: terimakasih Guru, barusan saya pulang dari rumah kyai Amir Yusuf, beliau kerja sebagai penghulu KUA kecamatan sebelah desa..
wah, saya belum bisa identifikasi lebaran saya ini sudah dzohir-batin atau belum Guru.. maaf Guru, mohon bimbingannya

Guru: di sebuah kitab ada sebuah ungkapan(di kitab tersebut redaksinya bermodel hadits), sengaja tidak saya sampaikan itu hadits atau bukan karena memang hadits-hadits yang ada di kitab tersebut-kata beberapa pakar hadits-banyak yang dlaif bahkan palsu, tapi ini tidk akan saya terangkan di sini, yang mau saya sampaikan adalah isi dari 'dawuh' atau ungkapannya, kurang lebih begini:
ketika hari raya, iblis itu mengumpulkan anak turunnya kemudian komandan iblis menyampaikan pengumuman: hari ini anak adam telah diampuni dosa-dosanya, kini trik yg harus kita lakukan adalah menggoda mereka dengan kesenangan-kesenangan pasca lebaran yang bermuatan kemaksiatan. Jika kita mau waspada beberapa kali iblis berhasil dengan trik ini, kita bisa lihat silaturrahmi dan reuni-reuni yang berlebihan sehingga menjerumuskn pelakunya ke arah maksiat mulai dari salaman dengan yang bukan mahram sampai ber-khalwat juga pesta mihol di malam lebaran. belum lagi kumpul-kumpul yang kemudian ngerumpi/ngrasani 'ngalor-ngidul' dan berboros-borosan dalam membelanjakan sesuatu.
nhah.. jika kamu bisa identifikasi itu semua, kemudian kamu menjauhinya dan kamu berbenah sehingga kualitas ibadahmu meningkat pasca ditinggalkan ramadhan, berarti berlebranmu sudah dzohir-batin kang, ingat,, dawuhnya ulama: kun rabbaniyyan wa la takun ramadhaniyyan (jadilah orang yang beribdah karena Rabb bukan hanya karena moment ramadhan). eh lha kamu sama tokoh yang katamu seorang penghulu itu dibekali apa untuk pernikahan barumu?

saya: anu guru,, beliau dawuh kalau habis nikah itu inshAllah rejekinya pasti ditambah sama gusti Allah, bahasa simpelnya nikah itu 'nggothek' rejeki yang masih di langit. benar begitu ya guru?
Guru: ada hadits qudsi yang kuranglebih maknanya begini: kamu tidak usah tanya rejekimu esok hari, sebagaimana Aku tidak menanyakan ibadahmu esok hari. jelas rejekimu setelah nikah akan bertambah, wong kewajibanmu juga bertambah, yakni ngrumat istri,, yang terpenting kamu ibadah saja, cari nafkah saja, jangan terlalu sibuk memikirkan rejeki, rejekimu tak akan salah alamat.
sekarang kamu perbanyak baca quran juga hadits-hadits Nabi, belajar 'nepakne lakon' dengan dawuhnya Allah dan sunnahnya Nabi, tapi ya tetep main ke sini, jika kamu tak faham konsultasikan, karena ada adigium dari Sufyan bin Uyainah yang dikutip oleh Ibn Hajar al-Haitami di Fatawa Haditsiyah beliau: al-Haditsu Mudhillun illa li-l fuqoha' (hadits itu menyesatkan kecuali bagi ahli fikih), meski fikihmu dari pesantren (mungkin)sudah 'ngatasi' sebagai sangu baca hadits, tapi kamu tetap masih butuh seorang guru, teruslah berguru, teruslah mengaji,,

sudah..sudah, monggo disambii..
http://iniituu.unipdu.ac.id/menemu-islam-nusantara-di-belantara-ramadhan-5-maleman-poso-dalam-budaya-jawa/ 

Rabu, 22 Juni 2016

Ngaji Posoan #4

Ketika membaca buku karya Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Hasani, pakar hadits abad millennium, yang berjudul mafahim yajibu an tusohhaha kita akan menemukan bahwa perilaku takfir (suka mengkafir-kafirkan orang lain) itu timbul karena dilator belakangi sifat sombong, mersa pemahamannya(atau kelompoknya) benar dan yang lain salah. Di dalam bergurupun sebenarnya juga sangat niscaya hal ini terjadi, sehingga tak jarang seorang murid mempunyai anggapan bahwa penyerapan dia terhadap ilmu dari gurunya-lah yang paling benar, dan yang lain salah, padahal seringkali pemahaman dia terhadap apa yang dimaksudkan oleh guru seringkali kontradiktif. Tak jarang pula sebagian dari murid yang sangat membangga-banggakan amal saleh gurunya(dengan tidak mencontohnya, alias hanya berbangga), padahal gurunya dengan sekuat tenaga menyembunyikan amal saleh tersebut dari public. Ah..’embuuuh’

saya: maaf guru, saya mau matur lagi, setelah saya memposting nasehat guru, ada beberapa faceboker yang nge-like kemudian komemtar bahkan ada beberapa yang nge-share.. 
Guru:..kemudian kamu bangga ya kang? 
saya: Padahal... 
Guru: Padahal kamu sudah bilang kalau itu dari saya kan? tapi ternyata kamu masih merasa bangga dengan semua itu kan? Nah itulah yang belum bisa kamu fahami. Ujub, riya', takabur, dll itu penyakit hati, meski kamu tutupi serapi mungkin, gurumu tetap akan menciumnya. Itu tempatnya di hati, tak ada hubungannya dengan tulisanmu, atau komentar, like dan share nya orang lain, meski terkadang apa yang kamu tulis itu menunujukkan isi hatimu, namun seringkali kamu tak faham tanpa penjelasan dan arah dari gurumu dan tugas gurumu menerangkan hal itu.. 

Saya: ..hmm..nha terus.. 
Guru: ..terus saya harus bagaimana kan maksudmu? 
begini, kamu tahu murid yang berprestasi? Siapa yang dipuji jika ada murid berprestasi? Anaknya ataukah gurunya? nhah, posisimu persis seoerti itu. Jika kamu masih merasa bangga, senang, merasa terpuji dengan apa yang tidak kamu kerjakan (karena hakikatnya itu bukan kerjaanmu), maka..kau perlu membaca ulang ayat yang mnjelaskan tentang balasan orang yang "yumdahu bi ma lam yuf'alu" itu balasan apa yang pantas baginya?? Sana cari dulu!!

Kalu boleh memberi saran, kamu itu lebih baik main ke sini daripada kamu membaca apa-apa di FB yang tidak kamu butuhkan. Kamu guru bahasa Arab kan? Kamu pasti bisa mengartikan ayat-ayat yang berbahasa Arab itu, tapi untuk mengaplikasikan sepenggal ayat saja, kamu butuh guru, kenapa saya berani bilang demikian? Karena nyatanya kamu tidak mampukan meski kamu tahu artinya?!.  Itulah mengapa dulu sekelas Nabi Muhammadpun punya guru yang namanya Jibril (sebagai wakil Tuhan untuk mengajarkan ilmu), Nabi saja berguru, kok kamu tidak.. mau jadi apa kamu?!

saya: eh Guru, satu lagi, akhir-akhir ini di fb, group wa, dan sosmed yg lain rame membahas kasus ada anak alay yang 'gila' dengan berpose menginjak alquran, hukuman apa yang pantas untuk anak kurangajar semacam itu guru?

Guru: kamu itu kok ‘sok’ kang, selama puasa kamu tidak pernah atau jarang tadarus quran, intensitas membaca quranmu masih kalah kalah dengan bermain HP, kok kamu sok-sokan berlagak membela quran, quran itu yang menjaga Allah bukan orang semacam kamu, kamu tidak setuju dan sakit hati dengan tindakan anak itu sudah benar, tapi bukan berarti kamu boleh mengecam yang tidak-tidak apalagi sampai menjelek-jelekan makhluq Allah lain, lagian itu bukan tugasmu, mereka sudah ditangkap polisi ya sudah, malah belakangan ini pe;aku sudah diberi pembinaan ya biar ditangani yang bertugas saja, itu tugas mereka, kamu mengaji quran yang banyak, jangan main hp saja sok membahas di fb/wag sok-sok membela quran padahal jarang membaca quran. Kamu kira saya seperti ini tidak marah dengan kelakuan dia?, saya juga marah sebatas di hati, kemudian saya doakan agar dia mendapat petunjuk dan tidak mengulanginya, bahkan andai itu terjadi di depan mata kepala saya, saya siap mengganti kepala saya untuk dia injak dan saya akan mengambil quran dari tangannya. Menurutku itu lebih elegant.

saya: saya baca quran apa harus saya laporkan ke guru? katanya tidak boleh riya'?
Guru: sudah saya duga jika kamu bakal menjawab seperti itu,, begini: kamu tidak membaca quran lantaran kamu takut dituduh riya’ itu namanya riya’, sementara jika kamu membaca quran karena orang atau sesuatu lain itu berarti kamu syirik. Faham?!! buruan baca alquran, tak usah membantah!!!


Rabu, 08 Juni 2016

Ngaji Posoan #3

Ramadhan sudah memasuki hari ke-8, jika kita browsing di internet semakin banyak saja kita menemukan problem-problem seputar Ramadhan. Ada yang membahas tentang kebijakan pemerintah yang mengharuskan warga untuk menutup warung/rumah makan di siang Ramadhan, ada juga berita seputar sweeping satpol PP yang berujung perampasan dagangan makanan. Di sebelah, ada juga yang membahas jumlah rokaat tarowih yang tak berkesudahan. Stidaknya dua konflik ini adalah konflik tahunan yang pasti booming saat awal sampai tengah bulan Ramadhan. Aah..sudahlah..saya berandai-andai saja dengan dialog imajiner.

Tiba-tiba hening, dan tak henti-hentinya saya ‘misuhi’ diri saya sendiri, setelah percakapan berikut terjadi:
Guru: aah sudahlah.. tidak usah update status facebook, sampai kamu benar-benar mampu memastikan bahwa postinganmu bermanfaat bagi pembaca
Saya: ..tapi guru.. anu...
Guru: ah sudahlah.. kamu mau bilang bahwa update-an status fb mu berisi motivasi kan? kamu itu belum bisa, lha wong memotivasi dirimu saja kamu masih blepotan, belum pecus
Saya: lha kalo...
Guru: ah sudahlah, tidak usah kamu teruskan, aku sudah faham, kamu hendak nge-share nikmat yang telah diberikan padamu dg dalih "tahadduts bi-n ni'mah"? 'Ujub-mu' lbh dominan dalam dirimu ketimbang niatanmu itu, percayalah
Saya: nha itu guru...
Guru: apa? Siapa? Orang itu? nha itu lho.. kamu itu belum bisa seperti itu, aku tahu itu, aku gurumu, lebih tahu dirimu ketimbang dirimu sendiri, kamu sering membaca postingan di fb atau group WhatsApp yang berisi ilmu kemudian kamu fahami dan kamu posting balik dengan imbuhan motif “ngênèi (menyindir)” seseorang kan? kamu juga sering menulis status agar kamu mendapat pengakuan bla..bla..bla..dst.nya kan?
Ah sudahlah.. kamu jika hendak membaca, ya sudah membaca saja, ilmu yang sekiranya bisa kamu lakukan ya lakukan saja, tapi jangan sampai pmbacaanmu pada apapun itu menjadikanmu menjustifikasi seseorang, tanamkan prasangka baik dalam setiap pembacaan, jangan sampai lantaran kamu senang membaca kemudian jarang main(sowan)kesini, jarang mengamalkan wiridan bersamaku, sehingga lalai dengan kondisimu juga kondisi hatimu, kamu hanya memberi makan kepada otak dan tidak memberi makan pada hati. Ingat,  IQRA' itu wahyu pertama, apa kamu akan terhenti pada wahyu pertama saja, hanya iqra' terus, tanpa beramal?! Semakin kamu peka terhadap kebutuhan hati dan jiwamu maka semakin mudah kamu mengenal dirimu, kemudian bisa sampai kepada Tuhanmu. Itukan tujuan hidup kita? Hal demikian itu jika kamu segera menyikapi kepekaan itu, jika tidak segera maka kamu akan semakin tidak mengenal dirimu sendiri
Saya: lantas bagaimana guru?
Guru: apa lagi? Mau tanya "aku harus bagaimana"? Nha itu lho.. makanya di awal kamu saya sebut sebagai orang yang belum peka terhadap kebutuhan jiwamu, sekarang begini saja "jika kamu tidak kuat yntuk tidak main FB, ya silakan FB-an, tapi tidak usah komentar, mpêt (tahan), tidak usah update status, tidak usah share-share status orang lain terlebih dahulu, setiap membaca status yang bagus (menurutmu) grayangi (intropeksi) dirimu, kamu sudah bisa demikian apa belum?!, ketika membaca status negatif, Tanya dirimu, kamu masih seperti itu atau tidak?! Jangan lantas kamu gunakan pembacaan status negative itu untuk ‘ngecap’ orang lain, kemudian beristighfarlah dan sholat taubat, tak usah nunggu esok, esok belum tentu umurmu masih. Status yang tidak menambah wawasanmu untuk mendekatkan diri pada Rabb-mu atau status yang menjadikanmu semakin membabibuta dalam be-su'udzon kepada sesame, tidak usah kamu baca, lewati. faham?!
Saya: iya Guru, faham.. kemudian guru, jika ‘dawuh’ panjenengan ini saya tulis dan saya posting bagaimana guru?
Guru: ya silakan, tapi jadikan ini kali terakhir kamu update status FB, jelaskan kalau ini bukanlah statusmu, tapi pesan dari gurumu, tak usah mengharapkan LIKE atau COMMENT dari para pengguna FB, teman-teman FB-mu itu juga banyak yang hanya LIKE tanpa baca statusmu terlebih dahulu, karena kamu biasanya juga seperti itu, begitu juga banyak temanmu yang ikut komentar dengan niat memperlihatkan 'sesuatu'nya, karena kamu kadang juga berbuat seperti itu. Jangn lupa sholatmu ditambah, tidak usah mikir ikhlash terlebih dahulu,jika belum bisa ikhlas kemudian tidak beramal itu juga salah, beramallah terus jika kamu tidak memikirkan ikhlas, saat itulah kamu ikhlas, al-Quran-mu dibaca rutin agar yang kamu baca tidak hanya FB dan sosmed lainya, sholawatmu dimaksimalkan, agar waktumu habis untuk ibadah
saya: lha 'anu' saya?
Guru: apa? Kewajibanmu mencari nafkah? mengajarmu? Rizkimu dari mana kalau hanya ibdah terus? nanti bagaiamana? yang itu bagaimana?, sudahlah, kamu tak usah membantah, lakukan dulu, kamu kira Tuhanmu tidur? Kamu ini makhluk apa khaliq? Kok sok ngatur-ngatur, sudahla, saat ini kamu manut dulu, nurut pada dzat yang maha memaksa "al-qohhar"


Selasa, 07 Juni 2016

Ngaji Posoan #2

Ngaji posoan di hari kedua ini agak terlambat postingnya, mohon maaf. Saya akan mengawalinya dengan mengutip dawuh guru saya: “Quran maupun Hadits Nabi itu masih global, ibarat makanan masih mentah, kamu bisa sakit perut jika memakannya langsung”

Dewasa ini sering kita mendengar bahwa sumber pengambilan hukum dan pedoman hidup kita adalah Quran dan Hadits, jadi kita harus benar-benar erat memegang keduanya, agar selamat. Ungkapan tersebut sangat benar, hanya saja jika tidak hati-hati dalam memaknainya kita bisa salah faham sehingga kita enggan menggunakan sumber lain yang notabenenya juga bersumber atau pengejawentahan dari quran dan hadits. Persepsi semacam itu biasanya lahir dari sifat ‘engkek’ atau sombong dengan merasa pemahamannya paling benar sendiri. Al-Quran adalah kalam Allah yang tidak lagi ada keraguan dengan kebenarannya, tapi apakah al-Quran bicara sendiri? Jangan-jangan ayat Allah yang kita sampaikan justru tidak sama dengan apa yang Allah maksudkan?!

Al- Imam Muhammad bin Jarir at-Thabari dalam Tarikh al-Thabari pernah menceritakan sebuah kisah tentang khalifah keempat Ali bin Abi Thalib ketika beliau mengadakan pertemuan pasca terjadinya peristiwa arbitrase (tahkim). Ketika itu beliau sengaja membawa al-Qur’an ke hadapan mereka, imam Ali kemudian berseru kepada AlQur’an yang dibawanya: “Bicaralah ke kita!” Kontan saja mereka yang hadir heran dan bingung melihat ulah Sang Khalifah tersebut. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang benda mati bisa berbicara, begitu kira-kira pikir mereka. Imam Ali akhirnya menjelaskan: “Wa hadza al-Qur’an innama huwa khatthun masthur bayna daffatayn la yanthiqu. Innama yatakallamu bihi al-Rijal.” Artinya: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah teks tertulis yang diapit dua sampul. Al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri. Manusialah yang berbicara melaluinya”.

Kita memang diperintahkan untuk berhukum dengan hukum produk Allah, tapi dari mana kita mengetahui hukum Allah? Dari Al-Qur’an, bukan? Masalahnya, “Al-Qur’an tidak bisa bicara sendiri. Manusialah yang berbicara melaluinya,” Artinya, hukum Allah tidak bisa muncul begitu saja dari rahim Al-Qur’an tanpa adanya campur tangan manusia yang merumuskannya. Selain itu, imam Ali sebenarnya ingin mengukuhkan peran pembacaan sebagai sarana yang tak terelakkan manakala kita berinteraksi dengan Al-Qur’an. AlQur’an memang kalam Ilahi yang Qadim (dahulu), tapi sekaligus juga “teks tertulis yang diapit di antara dua sampul.” Sebagai teks, AlQur’an hanya bisa berbunyi melalui laku pembacaan, entah itu berupa penterjemahan, penafsiran, pantakwilan atau yang lain.

Menurut para mufassir kontemporer yang dibutuhkan saat ini adalah model dan metodologi baru dalam pembacaan dan pemahaman atas al-Quran agar kitab suci umat Islam ini benar-benar menjadi kitab petunjuk yang selalu relevan untuk setiap zaman dan tempat serta mampu merespons setiap problem social-keagamaan yang dihadapi oleh manusia dewasa ini. Pemahaman atas al-Quran harus digeser dan diubah; dari paradigma literalis-ideologis yang sudah berlangsung berabad-abad menjadi paradigm kritis kontekstual. Jika tidak dilakukan perubahan paradigma tersebut, maka yang terjadi adalah al-qiraah al mutakarrirah (pembacaan yang berulang-ulang).


Berkaitan dengan kebenaran sebuah penafsiran hal itu tergantung pada teori yang dipakai untuk menilainya. Jika kita memakai teori koherensi, maka sebuah produk tafsir dikatakan benar jika ada konsistensi logis-filosofis antara proposisi-propisisi yang dinyatakannya. Lain halnya jika kita menggunakan teori korespondensi, dalam teori ini sebuah produk tafsir dikatakan benar jika ia sesuai dengan kenyataan empiris di lapangan. Dengan kata lain, kebenaran tidak hanya pada dataran idealis-metafisis tetapi harus realistis empiris sesuai dengan teori ilmu pengetahuan. [dinz]
Bersambung..

Selamat mendaras al-Quran di bulan al-Quran. Ini ada link download buku bagus:
http://almuada.mam9.com/t26-topic 

Senin, 06 Juni 2016

Ngaji Posoan #1


Beberapa hari sebelum puasa, saya mengikuti kajian hadits Riyadush Sholihin ‘gubuk taqrib’ di tempat saya. Dari kajian itu saya mendengar ungkapan jika diIndonesiakan kuranglebih seperti ini “bertaqwaa dengan meninggalkan larangan-Nya itu jauh lebih berat daripada bertaqwa dengan menjalankan perintah-Nya”

Hari ini-jika kita mengikuti keputusan pemerintah- kita sudah masuk tanggal satu Ramadhan dan kita telah berpuasa mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari (maghrib). Banyak dari kita ketika berselancar di dunia maya (googling) atau membuka ulang beberapa kitab fikih, kita hanya memaknai perintah puasa dengan makna isthilahi (terminology)nya, yaitu menahan dari masuknya makanan atau minuman kedalam tubuh dan hal-hal yang membatalkan lainnya mulai dari fajar hingga Maghrib disertai dengan niat. kita seringkali mengabaikan tau kurang ‘ngeh’ dengan makna lughowi (etimologi)nya yakni kata as Shoum/as-Shiyam, padahal makna lughowi inilah yang sepertinya ‘pas’ dengan substansi puasa sebenarnya. secara bahasa berarti al-imsak (menahan) baik dari makan, minum, bicara nikah maupun jalan-jalan. Kata puasa dalam bahasa Arab memang memliki dua bentuk masdar, yaitu shaumun dan shiyam. Al-Nabighah al-Dhabyani menyatakan, khaylun siyamun wa khaylun ghayru saimatin, kuda yang beristirahat dan kuda yang jalan terus. Kata ini kemudian secara khusus diambil oleh Islam dan dimaknai secara khusus.
 
Puasa tidak hanya bertujuan melatih perut dan kemaluan kita untuk menjauhi hal-hal yang membatalkan, tapi lebih dari itu. Puasa hendaknya mendidik jiwa kita, melatih emosi kita, dan merevolusi mental kita, sehingga kita mampu meng-imsak diri kita, mengendalikan diri kita.
Di dalam al-Quran, kata yang paling sering digunakan untuk puasa adalah dengan redaksi shiyam, sebanyak 13 kali, dan hanya satu kali dengan kata shaum(QS. Maryam, 26). Meski demikian, sebenarnya kata shaum mengandung makna yang lebih dibanding shiyam. Shiyam hanya berarti berpuasa dengan mencegah makan, minum dan “bergaul” dengan dengan istri mulai fajar sampai maghrib, sedang shaum mencegah lebih dari apa yang tidak boleh dalam shiyam, yaitu harus mencegah bicara, mencegah mendengar, mencegah melihat, dan bahkan mencegah pikiran. Shiyam adalah perilaku puasa syareat, puasa masyarakat awam, sedang shaum adalah perilaku puasa hakekat, puasa orang-orang pilihan. 

Di bulan ini, perintah puasa (al-Baqarah 183) sangat tidak asing bagi kita, kita dapat membacanya di poster, banner, spanduk atau penjelasan dari ustadz-ustadz via mimbar Ramadhan. Ayat yang dimaksud itu adalah sebagai berikut: “Ya’ayyuha al-ladhina amanu kutiba ‘alaykum al-siyamu kama kutiba ‘ala al-ladhina min qablikum la’allakum tattaqun”.

Di akhir tulisan ini, agar kita tidak salah menafsirkan ayat tersebut, berikut sedikit saya paparkan I’rab dari ayat perintah puasa. Pada ayat tersebut, ada kalimat kutiba. Kalimat ini adalah kata kerja dasar bentuk lampau dibaca secara tetap dengan fathah atau dalam ilmu Nahwu (gramatika Arab) disebut dengan istilah mabni. Kata kutiba sendiri adalah bentuk majhul atau (pasif) yang artinya ‘ditulis’ atau ‘diwajibkan’ atau dalam tafsir Jalalain (karya dua mufassir ternama Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli) dimaknai dengan kata furida (difardukan). Kata berikutnya adalah ‘alaykum, kalimat ini adalah rangkaian jar dan majrur (huruf jarala dan majrurnya adalah kum) yang dita’liqkan dengan kutiba yang tersebut sebelumnya. Kalimat al-siyamu berkedudukan sebagai na’ibul fa’il, pengganti fa’il dari kutiba. Di dalam tata bahasa Arab, bentuk pasif seperti kutiba selalu diikuti oleh na’ibul fail. Sementara kama kutiba adalah rangkain jar majrur yang berkedudukan sebagai sifat atas masdar yang dibuang (makhdzuf) dan atau menurut Imam Sibawayhi (sang maestro Nahwu) bisa berkedudukan sebagai hal (penjelas). Sementara ‘ala al-ladhina merupakan rangkaian jar majrur yang terkait dengan kata kutiba yang terdekat. Min qablikum juga jar majrur yang berkedudukan sebagai penyambung (silah) dari mausul al-ladhina. Secara keseluruhan jumlah nida dan kalimat yang mendampinginya adalah disusun sebagai kalimat pemula yang berfungsi untuk menjelaskan tentang wajibnya puasa. La’allakum adalah jumlah raja’ yang berkedudukan sebagai hal (keterangan atas perbuatan) dan tattaquna adalah jumlah fi’liyah yang berkedudukan sebagai khabar la’alla. Menurut guru tafsir saya-kurang tahu beliau mengutip keterangan dari mana- la’alla itu seringkali dimaknai ala pesantren dengan menawa-menawa dalam bahasa Indonesia bisa berarti barangkali, semoga, siapa tahu, tapi jika Allah yang berfirman dengan redaksi la’alla itu berarti ‘mesti’ la’allakum tattaqun (mesti kalian jadi pribadi yang bertaqwa). 
Selamat berpuasa..[dinz]

Selasa, 24 Mei 2016

Maraknya Split Personality Di Era Sos-Med


Tidak dapat kita pungkiri bahwa internet adalah kebutuhan primer kita. Apa yang –biasanya-tidak dapat kita lakukan di dunia nyata dapat kita lakukan di dunia maya, apalagi dewasa ini kita disuguhi beberapa situs jejaring sosial semisal Facebook, Twitter, WhatsUp, Myspace, Path, Line dan seterusnya. Sebenarnya siapakah kita di dunia cyber? Akun kita itu apakah avatar kita? atau akun kita mewakili bagian dari hasrat kita yang kita wujudkan dalam bentuk cyber-personal? 

Setiap orang punya banyak sisi. sebagian dari sisi diri kita tak mudah diwujudkan dalam dunia nyata. Internet, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, memberi kita cara untuk mewujudkan banyak hasrat yang selama ini hanya berupa potensi. Bayangkan seperti ini. Engkau adalah pendiam, tetapi tidak pernah ada orang yang benar-benar pendiam secara absolut. Mungkin kau ingin bicara, tetapi ada rasa malu atau kurang percaya diri ketika harus berkumpul dan dilihat banyak orang. Kemudian tiba-tiba ada facebook, twitter, myspace, friendster, dan yang semacam itu. Kau pun punya saluran untuk mengoceh apa saja tanpa perlu merasa malu, dan yang kau butuhkan adalah pribadi-cyber yang benar-benar berbeda dari pribadimu di dunia nyata. Dalam hitungan 30 menit - dengan asumsi sinyal internetmu tidak lola (loading lama) - kau bisa membuat 20 e-mail untuk menciptakan 20 akun facebook atau twitter yang mewakili 20 hasratmu, atau 20 sisi gelapmu, yang berbeda-beda.

Misal begini; engkau memendam hasrat untuk melakukan petualangan asmara, tetapi kau tak bisa leluasa sebab ada anak dan istri. kini kau bisa membuat akun di facebook. Disaat itu yang kau butuhkan hanyalah pencitraan. Orang di dunia cyber yang belum pernah bertemu denganmu di dunia nyata dan tidak benar-benar tahu siapa dirimu, mereka akan menafsirkanmu dari caramu menulis status, menulis komentar, menulis notes,  foto dan dari interaksi tekstual dari wall ke-wall. Engkau tidak perlu cemas orang akan tahu siapa dirimu di dunia nyata. Di wall, beranda, kau bisa mengekspresikan banyak hal. Boleh jadi, dengan bantuan syeikh google, kau bisa citrakan dirimu sebagai orang bijaksana dan bijaksini, melalui metode copas sana copas sini dari berbagai kata mutiara, kutipan bijak, hingga puisi yang bisa dengan mudah kau cari melalui syeikh google, atau semisal engkau aslinya pendiam di dunia nyata, di dunia cyber kau bisa menjadi perayu ulung. semisal di dunia nyata kau dianggap orang alim, karena menyandang gelar ustadz, pak haji, pak yai, atau apa saja yang menjadi  sebutan terhormat, di dunia cyber kau bisa menjadi petualang asmara. di wall kau mengkhotbahkan tentang hal-hal religius, tentang spiritualitas, tentang makna kesetiaan, tentang kebijaksanaan, dan pada saat yang sama, engkau menebarkan jerat pesona.

Dengan asumsi dari ribuan akun di daftar friend, kau berharap ada satu atau dua orang yang terpesona padamu. Ada juga fasilitas privasi, dengan fasulitas ini engkau bisa merayu seseorang melalui inbox, atau direct message, sehingga tanpa kau sadari tiba-tiba kau merasa ada tempat khalwat yang nyaman untuk memadu asmara tanpa ketahuan istrimu, anakmu, atau suamimu. Disaat yang bersamaan istri atau suamimu hanya bisa melihat wallmu, yang penuh tulisan kebijaksanaan, tetapi mereka tak bisa melihat isi inboxmu, yang berisi penuh rayuan gombal dan mungkin kata-kata cabul. Oleh karenanya, barangkali kita bertanya-tanya, berapa banyak perselingkuhan terjadi melalui inbox jejaring sosial semacam ini? 

Kemungkinan selanjutnya, kau bisa gunakan rayuanmu dengan cara lain, untuk mengeruk keuntungan finansial. Sebagai contoh engkau punya 25 akun. satu atau dua akunmu merayu orang-orang kesepian yang telah berkeluarga, dan akunmu yang lain bertindak sebagai tukang peras. Akunmu yang berfungsi pemeras ini akan mengancam korban, barangkali korban dipaksa mentransfer sejumlah uang ; Jika dia tidak meng-iya-kan, percakapan perselingkuhan di inbox akan dicopas dan disebar ke publik via wall bahaya bukan?! ini ancaman menakutkan, sebab dalam jejaring sosial selalu ada fasilitas tag, tandai, retweet, send, dan sebagainya. Bayangkan saja jika percakapan perselingkuhanmu dibaca anak, istri atau suamimu? 

Di musim pilkada seperti saat ini, sangat mungkin jejaring sosial bisa menjadi  rimba orang-orang tanpa identitas sejati. Foto palsu, profil palsu, pribadi palsu, citra palsu, nama palsu dan seterusnya yang serba palsu. Berapa banyak orang yang sudah punya anak dua, tiga atau empat, lima, bahkan dua belas, mengaku masih bujangan, atau bahkan tanpa kenal malu merayu perempuan lain tanpa peduli perempuan itu sudah bersuami atau belum? berapa banyak orang yang sengaja memasang foto diri 15 tahun yang lalu, atau foto hasil olahan photoshop yang membuat tampang menjadi lebih cling/kinclong, demi kepentingan mencari pacar atau selingkuhan? berapa banyak orang yang tidak begitu mengerti politik kemudian membuat akun-akun calon kepala daerah atau tim sukses  untuk mencitrakan calon atau menjelek-jelekkan calon lain yang menjadi rivalnya demi mencari dukungan dari masyarakat? berapa banyak orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang penuh pembatasan moral, mendadak menjadi pribadi yang lain yang siap melanggar setiap batasan moral melalui jejaring sosial?. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah waspada, berhati-hati dengan setiap person yang meng-Add akun kita untuk dimasukkan dalam list pertemanannya, jangan mudah terbawa dengan postingan/komentar seseorang yang belum benar-benar kita kenal, dan tidak kalah pentingnya mari kita mulai jujur dengan akun kita juga aktifitas kita apapun itu.

Sepuluh tahun yang lalu orang bicara tentang split personality (kepribadian yang terbelah) di dunia cyber. Dirimu di ruang sosial nyata menjadi diri yang berbeda di ruang sosial cyber. Semakin banyak orang yang menjadi-semacam-amfibi, hidup di dua dunia, dengan pribadi yang jauh berbeda. Itu sepuluh tahun lalu, ketika percakapan dan interaksi sosial cyber masih terbatas pada teks sebagai sarana utama (semisal via Mirc atau mailing list). Sekarang, dengan makin canggihnya jejaring sosial, orang-orang mulai cemas: split personality, atau orang dengan pribadi yang terbelah, menjadi semakin banyak. yang lebih mencemaskan, orang bisa "membelah diri" menjadi lebih dari dua pribadi yang berbeda. Psikolog mulai khawatir, jika seseorang tidak bisa lepas dari hal ini, orang akan mudah mengalami disorientasi diri. Dan dampaknya orang-orang akan makin tidak mengenali dirinya yang sesungguhnya. Orang akan lebih akrab serta mengenali hasrat-hasrat dan hawa nafsu dirinya yang dijelmakan dalam bentuk akun jejaring sosial. Jika orang lebih mengenal hasrat nafsunya ketimbang dirinya yang sejati, bayangkan betapa mewabahnya kemunafikan sosial yang akan tercipta di dunia sosial nyata. Ya, di dunia nyata. Sebab, kita tahu apa yang terjadi di dunia cyber akan berdampak langsung atau tidak langsung pada dunia nyata, dan karena ini adalah dunia yang nyaris tanpa sekat norma sosial dan ruang, sangat mungkin kita akan berkesempatan mendengar kabar-kabar ajaib tentang efek negatif dari kemunafikan sosial di jejaring sosial ini. Atau, barangkali kita pernah sudah pernah mendengarnya? Atau bahkan sering kita mendengarnya? 

Walhasil, berapa akun facebook/WhatsUp mu? Benarkah akun facebook/whatsUp mu adalah kamu?

Rabu, 18 Mei 2016

MEMBUDAYAKAN MEMBACA DAN MENULIS DI PESANTREN



Wahyu pertama yang dibawa Jibril (QS. al-‘Alaq 1-5) selain memerintahkan kita untuk melakukan aktifitas membaca, juga mengingatkan pada kita bahwa Allah telah memuliakan martabat manusia memalui pena. Artinya dengan proses belajar mengajar (membaca dan menulis), manusia dapat menguasai ilmu pengetahuan, yang dengannya manusia dapat mengetahui rahasia alam semesta.
            Dalam Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraisy Sihab disebutkan, salah satu ulama kontemporer Muhammad ‘Abduh memahami perintah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklifi) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amr takwini yang mewujudkan kemampuan membaca secara aktual pada diri pribadi Nabi Muhammad SAW.

Dengan kalimat “Iqra’ bismi rabbik”, Al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan untuk membaca, tapi ‘membaca’ adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif.

Menurut Tafsir Al-Misbah, Islam memerintahkan agar kita belajar membaca dan menulis serta mempelajari ilmu pengetahuan demi meningkatkan derajat kita sebagai makhluk Allah yang maha mulia, kita dianjurkan untuk sanggup mengembangbiakkan ilmu pengetahuan yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Membaca dan menulis merupakan sebuah aktifitas yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang. Keterkaitan membaca dengan menulis sama seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semua pembaca mungkin bukanlah penulis, tapi setiap penulis pastinya adalah pembaca. Karena sangat mustahil bagi seorang penulis, sedang ia bukan seorang pembaca.

Dengan membaca sebetulnya kita sedang menggali ide-ide orang lain untuk dikembangkan menjadi ide baru milik kita sendiri. Tentunya tetap dengan kaidah etika penulisan yang benar. Membaca juga merupakan fase kedua-setelah kemampuan berbicara-bagi seorang anak dalam belajar berbahasa, yakni fase mengenali segala hal yang terdapat di sekelilingnya.

Membaca membutuhkan dan melibatkan proses kognitif. Jika dalam fase bertutur kata (berbicara) seseorang hanya tinggal meniru apa yang diucapkan dan didengarkan, maka dalam fase belajar membaca ia harus mengenal dan berinteraksi dengan simbol-simbol bunyi dan benda yang disimbolkan dengan susunan huruf. Dalam fase ini, seseorang yang membaca berarti ia menjalani proses dialektik antara simbol bunyi dengan wujud bendanya.

Sedangkan aktifitas menulis adalah bentuk pengungkapan ide-ide pada diri kita untuk dapat dikritisi dan ditanggapi sehingga ide tersebut dapat disempurnakan baik oleh diri kita sendiri atau orang lain. Kegiatan menulis berbeda dengan membaca atau bertutur kata. Jika kegiatan membaca melibatkan proses dialektika pikiran antara simbol bunyi dengan bendanya, maka kegiatan menulis melibihi dari itu. Menulis melibatkan proses pemikiran atau gagasan yang lebih mendalam. Seseorang yang sedang menulis, berarti ia sedang mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya untuk dituangkan dalam bentuk simbol bunyi sehingga dapat dinikmati oleh orang yang membacanya.

Taufik Ismail, seorang penyair Angkatan 66 pernah mengungkapkan: “Masyarakat kita buta membaca dan lumpuh menulis”. Pernyataan seperti inilah yang mustinya menjadi cambuk semangat kaum ‘sarungan’ yang ada di pesantren untuk terus membaca dan mengaplikasikannya dalam bentuk tulisan.

Tradisi di Pesantren
Seiring datangnya bulan Ramadan, di pesantren selalu digelar kajian kitab kuning yang dikenal dengan istilah ‘pasan’. Pasan merupakan kegiatan pembacaan kitab kuning oleh salah seorang Kyai atau Ustadz pesantren, dan santri mendangarkan dengan khidmat sambil mengartikan (baca: maknai). Kegiatan seperti ini hendaknya dapat dijadikan oleh kalangan pesantren sebagai manifestasi melestariakan budaya baca dan tulis di pesantren.

Dalam literatur sejarah dapat kita jumpai bahwa sebuah peradaban yang besar ditandai oleh munculnya karya-karya tulis. Peradaban Yunani misalnya, peradaban tersebut menjadi agung karena sentuhan tangan-tangan para pemikir besar seperti Aristoteles, Plato dan seterusnya, yang tulisan-tulisannya masih kita baca dan menjadi rujukan sampai sekarang. Peradaban Islam pun menjadi dikenal di semenanjung Eropa karena karya-karya besar yang terlahir dari para intelektual muslim ketika itu. Sebut saja Ibnu Rusyd (di Barat dikenal dengan Averrous), Ibnu Sina (di Barat dikenal dengan Avecena), Jabir bin Hayyan (di Barat dikenal dengan Algebra) dan seterusnya.

Begitulah, kemajuan suatu peradaban selalu tidak dapat dilepaskan dari budaya tulis-menulis yang kuat. Dengan menulis paling tidak seseorang dapat mengungkapkan ide-idenya secara lebih luas dan lama. Maksudnya ide tersebut akan mudah tersebar dan lebih lama dikonsumsi karena tidak berakhir dalam diskusi ataupun rapat yang hanya berlangsung beberapa jam saja.

Kegiatan membaca mudah dilakukan di manapun, kapanpun dan oleh siapapun yang mampu. Meski demikian terkadang aktifitas membaca sulit untuk dilakukan. Banyak orang lebih suka dan membiasakan diri dengan ngobrol daripada membaca. Faktanya, membudayakan ‘membaca’ lebih sulit katimbang kebiasaan ‘tutur tinular’, yaitu mencari informasi dengan bertanya atau sekedar ngobrol-ngobrol
antar sesama, dan lebih sulit lagi, membiasakan diri dengan budaya menulis. Budaya menulis merupakan pintu gerbang untuk melakukan transformasi sosial dalam rangka membangun peradaban umat manusia ke arah yang lebih tinggi. Perlu ada penyadaran kepada para santri bahwa menulis dan membaca bukan hanya menjelang atau saat ujian saja, melainkan sebuah proses panjang. Proses itu akan menjadikan ilmu tertanam lebih kuat manakala dilaksanakan secara rutin dan sungguh-sungguh. 

Oleh karenanya budaya membaca dan menulis mampu mengikat ilmu kuat-kuat seluas-luasnya. Menurut perspektif al-Quran sendiri, selain kita menemukan bahwa wahyu pertama Tuhan kepada utusan-Nya (Muhammad) adalah kata “Iqra (bacalah)”, kita juga menjumpai salah satu nama surat dalam al-Qur’an adalah al-Qalam. Jika diterjemahkan kedalam bahasa kita, kata Al-Qalam berarti pena.

Lantas, apa yang menarik dari nama pena, kok sampai dipilih untuk menamai firman Allah? Apa hubungannya dengan kemajuan suatu peradaban? Jika kita membaca surat al-Qalam (pena), maka kita akan disambut dengan ayat yang berbunyi: “Nun, demi pena dan apa-apa yang mereka tulis.”
Penulis tafsir al-Bahr al-Muhith mengutip salah satu pendapat yang menyatakan, bahwa al-Qalam yang dimaksud adalah pena sebagaimana yang fungsinya sudah dikenal oleh manusia untuk menulis. Penafsiran semacam ini memberikan penjelasan bahwa jika Tuhan memiliki pena, tentunya pena itu tidak seperti yang ada dalam gambaran dan pemahaman manusia. Pena Tuhan berbeda dengan pena yang dipakai manusia.

Allah mencatat segala sesuatu (baca: keputusan-Nya) di lauh al-mahfudz dengan pena. Melalui pena (al-qalam), Allah mencipta dan menulis seluruh kehidupan di alam jagat raya (al-ka’inat). Allah menulis (mencatat), maka dunia menjadi ada. Oleh karena itu, makna metaforis dari pena, sebagaimana yang disumpahkan oleh Allah, menurut sebagian mufassir dimaknai sebagai simbol bagi tegaknya ilmu pengetahuan.
         
Pada prinsipnya, menulis adalah satu dari empat skil atau keterampilan dasar komunikasi, selain itu ada keterampilan berbicara, membaca dan mendengar. Karena itulah, menulis menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi seseorang. Keberadaan setiap pembelajaran yang bermuatan aktifitas membaca dan menulis yang ada di pesantren untuk saat ini setidaknya sudah memberikan pengaruh yang diperhitungkan, karena seperti yang kita jumpai pesantren telah melahirkan banyak penulis, yang secara beriringan juga mampu meningkatkan gairah penerbitan buku ditanah air.

Jika Tuhan bersumpah atas nama pena dan apa-apa yang tertulis, maka tidak salah jika kita membangun peradaban umat manusia ini-khususnya di kalangan pesantren- dengan menulis. Bukankah pena (al-qalam) menjadi awal dari kehidupan segala yang ada?. Katakan: “‘aku menulis, maka aku ada”.




* dimuat di Jawa Pos Radar Bojonegoro 13 Agustus 2012