Rabu, 18 Mei 2016

MEMBUDAYAKAN MEMBACA DAN MENULIS DI PESANTREN



Wahyu pertama yang dibawa Jibril (QS. al-‘Alaq 1-5) selain memerintahkan kita untuk melakukan aktifitas membaca, juga mengingatkan pada kita bahwa Allah telah memuliakan martabat manusia memalui pena. Artinya dengan proses belajar mengajar (membaca dan menulis), manusia dapat menguasai ilmu pengetahuan, yang dengannya manusia dapat mengetahui rahasia alam semesta.
            Dalam Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraisy Sihab disebutkan, salah satu ulama kontemporer Muhammad ‘Abduh memahami perintah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklifi) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amr takwini yang mewujudkan kemampuan membaca secara aktual pada diri pribadi Nabi Muhammad SAW.

Dengan kalimat “Iqra’ bismi rabbik”, Al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan untuk membaca, tapi ‘membaca’ adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif.

Menurut Tafsir Al-Misbah, Islam memerintahkan agar kita belajar membaca dan menulis serta mempelajari ilmu pengetahuan demi meningkatkan derajat kita sebagai makhluk Allah yang maha mulia, kita dianjurkan untuk sanggup mengembangbiakkan ilmu pengetahuan yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Membaca dan menulis merupakan sebuah aktifitas yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang. Keterkaitan membaca dengan menulis sama seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semua pembaca mungkin bukanlah penulis, tapi setiap penulis pastinya adalah pembaca. Karena sangat mustahil bagi seorang penulis, sedang ia bukan seorang pembaca.

Dengan membaca sebetulnya kita sedang menggali ide-ide orang lain untuk dikembangkan menjadi ide baru milik kita sendiri. Tentunya tetap dengan kaidah etika penulisan yang benar. Membaca juga merupakan fase kedua-setelah kemampuan berbicara-bagi seorang anak dalam belajar berbahasa, yakni fase mengenali segala hal yang terdapat di sekelilingnya.

Membaca membutuhkan dan melibatkan proses kognitif. Jika dalam fase bertutur kata (berbicara) seseorang hanya tinggal meniru apa yang diucapkan dan didengarkan, maka dalam fase belajar membaca ia harus mengenal dan berinteraksi dengan simbol-simbol bunyi dan benda yang disimbolkan dengan susunan huruf. Dalam fase ini, seseorang yang membaca berarti ia menjalani proses dialektik antara simbol bunyi dengan wujud bendanya.

Sedangkan aktifitas menulis adalah bentuk pengungkapan ide-ide pada diri kita untuk dapat dikritisi dan ditanggapi sehingga ide tersebut dapat disempurnakan baik oleh diri kita sendiri atau orang lain. Kegiatan menulis berbeda dengan membaca atau bertutur kata. Jika kegiatan membaca melibatkan proses dialektika pikiran antara simbol bunyi dengan bendanya, maka kegiatan menulis melibihi dari itu. Menulis melibatkan proses pemikiran atau gagasan yang lebih mendalam. Seseorang yang sedang menulis, berarti ia sedang mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya untuk dituangkan dalam bentuk simbol bunyi sehingga dapat dinikmati oleh orang yang membacanya.

Taufik Ismail, seorang penyair Angkatan 66 pernah mengungkapkan: “Masyarakat kita buta membaca dan lumpuh menulis”. Pernyataan seperti inilah yang mustinya menjadi cambuk semangat kaum ‘sarungan’ yang ada di pesantren untuk terus membaca dan mengaplikasikannya dalam bentuk tulisan.

Tradisi di Pesantren
Seiring datangnya bulan Ramadan, di pesantren selalu digelar kajian kitab kuning yang dikenal dengan istilah ‘pasan’. Pasan merupakan kegiatan pembacaan kitab kuning oleh salah seorang Kyai atau Ustadz pesantren, dan santri mendangarkan dengan khidmat sambil mengartikan (baca: maknai). Kegiatan seperti ini hendaknya dapat dijadikan oleh kalangan pesantren sebagai manifestasi melestariakan budaya baca dan tulis di pesantren.

Dalam literatur sejarah dapat kita jumpai bahwa sebuah peradaban yang besar ditandai oleh munculnya karya-karya tulis. Peradaban Yunani misalnya, peradaban tersebut menjadi agung karena sentuhan tangan-tangan para pemikir besar seperti Aristoteles, Plato dan seterusnya, yang tulisan-tulisannya masih kita baca dan menjadi rujukan sampai sekarang. Peradaban Islam pun menjadi dikenal di semenanjung Eropa karena karya-karya besar yang terlahir dari para intelektual muslim ketika itu. Sebut saja Ibnu Rusyd (di Barat dikenal dengan Averrous), Ibnu Sina (di Barat dikenal dengan Avecena), Jabir bin Hayyan (di Barat dikenal dengan Algebra) dan seterusnya.

Begitulah, kemajuan suatu peradaban selalu tidak dapat dilepaskan dari budaya tulis-menulis yang kuat. Dengan menulis paling tidak seseorang dapat mengungkapkan ide-idenya secara lebih luas dan lama. Maksudnya ide tersebut akan mudah tersebar dan lebih lama dikonsumsi karena tidak berakhir dalam diskusi ataupun rapat yang hanya berlangsung beberapa jam saja.

Kegiatan membaca mudah dilakukan di manapun, kapanpun dan oleh siapapun yang mampu. Meski demikian terkadang aktifitas membaca sulit untuk dilakukan. Banyak orang lebih suka dan membiasakan diri dengan ngobrol daripada membaca. Faktanya, membudayakan ‘membaca’ lebih sulit katimbang kebiasaan ‘tutur tinular’, yaitu mencari informasi dengan bertanya atau sekedar ngobrol-ngobrol
antar sesama, dan lebih sulit lagi, membiasakan diri dengan budaya menulis. Budaya menulis merupakan pintu gerbang untuk melakukan transformasi sosial dalam rangka membangun peradaban umat manusia ke arah yang lebih tinggi. Perlu ada penyadaran kepada para santri bahwa menulis dan membaca bukan hanya menjelang atau saat ujian saja, melainkan sebuah proses panjang. Proses itu akan menjadikan ilmu tertanam lebih kuat manakala dilaksanakan secara rutin dan sungguh-sungguh. 

Oleh karenanya budaya membaca dan menulis mampu mengikat ilmu kuat-kuat seluas-luasnya. Menurut perspektif al-Quran sendiri, selain kita menemukan bahwa wahyu pertama Tuhan kepada utusan-Nya (Muhammad) adalah kata “Iqra (bacalah)”, kita juga menjumpai salah satu nama surat dalam al-Qur’an adalah al-Qalam. Jika diterjemahkan kedalam bahasa kita, kata Al-Qalam berarti pena.

Lantas, apa yang menarik dari nama pena, kok sampai dipilih untuk menamai firman Allah? Apa hubungannya dengan kemajuan suatu peradaban? Jika kita membaca surat al-Qalam (pena), maka kita akan disambut dengan ayat yang berbunyi: “Nun, demi pena dan apa-apa yang mereka tulis.”
Penulis tafsir al-Bahr al-Muhith mengutip salah satu pendapat yang menyatakan, bahwa al-Qalam yang dimaksud adalah pena sebagaimana yang fungsinya sudah dikenal oleh manusia untuk menulis. Penafsiran semacam ini memberikan penjelasan bahwa jika Tuhan memiliki pena, tentunya pena itu tidak seperti yang ada dalam gambaran dan pemahaman manusia. Pena Tuhan berbeda dengan pena yang dipakai manusia.

Allah mencatat segala sesuatu (baca: keputusan-Nya) di lauh al-mahfudz dengan pena. Melalui pena (al-qalam), Allah mencipta dan menulis seluruh kehidupan di alam jagat raya (al-ka’inat). Allah menulis (mencatat), maka dunia menjadi ada. Oleh karena itu, makna metaforis dari pena, sebagaimana yang disumpahkan oleh Allah, menurut sebagian mufassir dimaknai sebagai simbol bagi tegaknya ilmu pengetahuan.
         
Pada prinsipnya, menulis adalah satu dari empat skil atau keterampilan dasar komunikasi, selain itu ada keterampilan berbicara, membaca dan mendengar. Karena itulah, menulis menjadi sangat penting untuk meningkatkan kemampuan komunikasi seseorang. Keberadaan setiap pembelajaran yang bermuatan aktifitas membaca dan menulis yang ada di pesantren untuk saat ini setidaknya sudah memberikan pengaruh yang diperhitungkan, karena seperti yang kita jumpai pesantren telah melahirkan banyak penulis, yang secara beriringan juga mampu meningkatkan gairah penerbitan buku ditanah air.

Jika Tuhan bersumpah atas nama pena dan apa-apa yang tertulis, maka tidak salah jika kita membangun peradaban umat manusia ini-khususnya di kalangan pesantren- dengan menulis. Bukankah pena (al-qalam) menjadi awal dari kehidupan segala yang ada?. Katakan: “‘aku menulis, maka aku ada”.




* dimuat di Jawa Pos Radar Bojonegoro 13 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar