Saya: Salam, Guru.. saya hendak 'matur'
panjenengan,
Guru: Bagaimana kang? mau kulakan kan kamu?
Saya: Iya Guru, mohon petuah-petuah dari Guru untuk
saya sampaikan di acara halal bi halal besok..
Guru: Begini kang, pada dasarnya petuah, mauidzoh,
wasiat atau apapun baik yang berupa pengetahuan atau arahan itu bisa kamu
dapatkan via apapun, via media cetak, elektronik, buku, majalah, aneka sosmed
dari postingan para ilmuwan dan ulama, tapi 'merasuk'nya begituan tidak seperti
jika kamu datang ke sini dan saya bicara langsung sama kamu,, itulah mengapa
dulu jaman Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits adalah Abu Hurairah,
sosok yang paling aktif dan ada di barisan depan saat ngaji sama Nabi di suffah
(emperan) masjid nabawi.
ini moment bocah-bocah podo mulai masuk
sekolah, besok jika kamu berkesempatan bicara di depan tolong sampaikan ini:
ibu-ibulah yang menjadi 'madrasah' pertama bagi anak-anak, Allah sengaja
memberikan banyak contoh; bahwa kesalehan anak itu tergantung pada kesalehan
ibu-ibunya, dan kesalehan ibu-ibu itu tergantung pada kesalehan suaminya (iya
ini ndak mutlaq, tapi mayoritas begitu).. jadi bapak-bapak jangan sampai telat
memberi nafkah lahir-batin ibu-ibu, agar para ibu juga semakin kuat dalam
merawat anak-anak. bagi para ibu, doa ibulah yang lebih manjur dari doa bapak,
surga anak ditaruh di bawah telapak kaki ibu bukan di bawah kaki ayah, dan
surga ibu ditaruh di bawah kaki suaminya. Ada amalan suami yang bisa menghapus
dosa yang tidak bisa dihapus oleh sholat dan puasa, yakni ketika suami mencari
nafkah untuk anak-istri, sebagaimana yang ada dalam hadits.
Terkait dengan halal-bi halal, kamu
tidak usah menyalahkan istilah tersebut, istilah Halal bi Halal ini asli
made in Indonesia dan tidak di kenal di dunia Arab, apalagi di dunia Islam
lainnya, namun tidaklah meniscayakan istilah ini salah secara Arabic. Dalam
ilmu Bahasa Arab sering dijumpai teori izhmar (sisipan spekulatif pada
kalimat). Setidaknya ada dua cara agar istilah Halal bi Halal ini benar secara
bahasa dengan pendekatan teori tersebut. Pertama Halal bi Halal
dari asala kalimat thalabu halâl bi tharîqin halâl; mencari kehalalan
dengan cara yang halal. Kedua, halâl "yujza'u" bi halâl;
kehalalan dibalas dengan kehalalan. Yang kedua ini sering kita temukan pada
redaksi ayat al-Qur'an saat berbicara hukum qishâs, mislanya; "anna
al-nafsa bi al-nafsi, wa al-'aina bi al-'aini; sesungguhnya jiwa dibalas
dengan jiwa dan mata dibalas dengan mata" (QS. Al-Maidah: 45).
Saya: Guru, mau bertanya, kenapa ya guru ayat yang
biasa dibaca para dai ketika muqaddimah ceramah yakni "La in syakartum la
azidannakum wa lain kafartum inna adzabi lasaydid" jika syukur ditambah,
jika tidak syukur (kufur nikmat) maka diazab, kok redaksinya tidak: "jika
syukur tak tambah, jika tidak ya tidak aku tambah" kok malah "tak
azab"? bagaimana ini guru?
Guru: kamu punya akal tidak? memurutmu akal
diciptakan untuk apa?
Saya: punya guru, dan akal diciptakan agar kita
berfikir
Guru: benar, kami punya akal, dan benar juga agal
diciptakan agar kita mampu berfikir, tapi tidak sampai di situ, akal diciptakan
agar kita berfikir dan tahu bahwa kita ini bodoh, diciptakannya pengetahuan itu
agar kita tahu jik kita tidk berpengethuan, dan pemgetahuan yang paling tinggi
adalah saat kit tahu kalau kita tidak punya pengetahuan dan Dialah sang maha
tahu yang menguasai segal pemgetahuan. Terkait pertanyaanmu dibtas begini,
setiap kamu memdapt nikmat dan kamu bersyukur maka kamu akan ditmbah (urusan
tambahannya ini serahkan pada yang nmbahi). syukur itu bagaimana? minimal kamu
sadar jika nikmat tersebut nenar-benar dariNya, bukan dari siapapun bahkan atas
usaha siapapun termasuk dirimu..setelah itu urusan ekspresi syukur itu bernek
ragam.
nha..jika kamu tidak syukur maka nikmat itu akan menjadi azab bagimu, entah nnti akan merepotknmu, akan membutmu kian jauh sama Tuhanmu, akan malah menjadikanmu hina dst..pasti nikmat tersebut akan menjadi azab bagimu, pasti!
oh ya satu hal lagi yang perlu kamu fahami;
Janganlah kamupercaya diri dengan amal shaleh yang kamu lakukan(bahas hikamnya
al i'timad alal amal)karena kelak kamu masuk sorga dengan rahmat Allah,
bukan karena amalmu dan rahmat Allah adalah Rasulullah yang menjadi rahmat bagi
seluruh alam.
Meski demikian kami harus semangat untuk
beramal shaleh, karena itu merupakan sebuah tanda keselamatan. Ibaratnya jika
kamu mau menuju surabaya, di jalan ada tulisan "Surabaya 160 Km".
Tulisan itu bukanlah kota Surabaya, tapi hanya tanda yang mengarahkan kamu ke
kota tersebut. Begitu juga amal shaleh, itu bukan keselamatan, tapi hanya
sebuah tanda adanya keselamatan. Faham kamu?
Saya: injih Guru,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar