Senin, 20 Maret 2017

Light For The Darkness #3

Sebelum kami teruskan untuk menulis reportase minggu ini, kami ingin menambahkan sedikit lanjutan dari reportase minggu kemarin. Saya lebih cenderung  menyebut tambahan ini bagian kecil dari bukti keotentikan al-Quran, bagaimana tidak; dalam alkitab tersebut jumlah surat yang diawali dan diakhiri dengan kata “al-hamdu” berjumlah lima surat. Awal surat yang dimulai dengan kata “al-hamdu” antara lain: al-Fatihah, al-An’am, al-Kahfi, Saba’ dan Fathir. Sedangkan surat yang ditutup dengan “al-hamdu” adalah: al-Isra’, an-Naml, ash-Shaffat, az-Zumar dan al-Jatsiyah. Jumlah tersebut sama persis dengan jumlah huruf hijaiyah yang terkumpl dalam kata “al-hamdu”  yakni huruf: alif, lam, ha’, mim dan dal. Subhanallah..

Tsumma ash-sholatu waas-salamu sarmada * ‘ala an-Nabiyyi khoiri man qod wahhada
Seperti yang telah kita lihat pada setiap tulisan dan karya para ulama, sholawat dan salam kepada baginda Nabi selalu dinomor duakan (disebut beriringan) setelah memuji kehadirat Tuhan. Hal ini membuktikan betapa dekatnya Rasulullah dengan Tuhannya, bahkan dalam daftar nama Nabi Muhammad yang berjumlah 201 ada nama ‘Shofiyullah’ (Nabi yang di selir Allah). Kata selir dalam konteks ini dimaknai dari sudut kedekatannya dan tidak bisa dimaknai layaknya selir para raja karena Tuhan itu tidak beristri dan tidak pula beranak pun diperanakkan.

Definisi Sholawat, seperti yang termaktub dalam buku Nur adz-Dzolam adalah kasih sayang Tuhan yang  diiringi dengan ta’dzim (pengagungan) serta penghormatan yang layak. Jika kita amati seorang bapak yang memberikan kasih sayang terhadap anaknya-hampir bisa dipastikan-kasih sayang tersebut tidak bermuatan penghormatan karena yang layak adalah anak menghormati bapak, bukan sebaliknya. Bait pertama dari dua bait di atas memberikan makna bahwa Nadzim (Sayyid Marzuqi) berdoa kepada Allah agar Sholawat dan salam senantiasa dihaturkan kepada baginda Muhammad SAW.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah “apakah shalawat itu memberi arti dan manfaat bagi Nabi?”. Dalam ulasan imam Burhanuddin Ibrahim Al-Baijuri (wafat th 1272 H) telah menjelaskan dengan detil dan tertuang pada buku beliau Tuhfatul Muriid ‘ala Jauharatit Tauhid. Dalam buku tersebut beliau menukil dua pendapat yang paling masyhur; pertama doa apapun akan memberi manfaat bagi Nabi. Alasan bahwa segala kesempurnaan dan kemapanan telah dimiliki Nabi, terbantahkan dengan dalih, bahwa tidak ada kesempurnaan mutlak selain milik Allah yang Maha sempurna. Sehingga sekalipun secara zahir pengetahuan kita bahwa Rasulullah adalah sesemprna-sempurnanya mahluk pilihan Allah, namun bukan alasan untuk tak perlu lagi berbanyak-banyak mengucapkan shalawat bagi kepada beliau. Sebab shalawat yang kita senantiasa kirimkan sebagai wujud pemuliaan serta pengagungan kita kepada Rasulullah, dan manfaatnya akan menambah derajat kemuliaan Rasulullah di sisi Allah SWT.

Kedua bahwa manfaat dan faidah shalawat semata akan kembali kepada kita, sang pengucap shalawat. Paling tidak, ada beberapa dalil yang menguatkan hal ini; Pertama, Rasulullah telah mencapai derajat kesempurnaan kemuliaan, kebaikan, dan keselamatan. Ketika kita mendoakan kebaikan untuk beliau, seolah-olah tak ada tempat lagi bagi Rasulullah untuk menempatkan manfaat dari doa kita. Ibarat sebuah wadah yang sudah penuh air, ketika kita tambahkan lagi air ke dalamnya, yang akan terjadi adalah air itu akan meluap. Posisi Rasulullah dibanding kita manusia biasa, ibarat sebuah wadah sangat besar, terisi penuh oleh air yang sangat bersih, yang terletak di tempat yang sangat tinggi. Sementara kita, ibarat wadah-wadah kecil yang terisi oleh air yang keruh. Ketika kita bershalawat kepada Rasulullah, seolah-olah kita mengisikan air keruh di wadah kita ke dalam wadah Rasulullah. Hasilnya, karena wadah Rasulullah sudah penuh, tak ada tempat lagi untuk menampung air yang kita tambahkan sehingga meluaplah dan kembali kepada kita. Keistimewaannya, air sedikit milik kita yang tadinya keruh, ketika bercampur dan berbaur dengan air jernih milik Rasulullah, ketika meluap dan kembali kepada kita, telah berubah menjadi lebih jernih dari sebelumnya. Seakan-akan, terjadi proses sterilisasi dan penjernihan di sana.

Kesimpulannya, semakin banyak kita mengisikan air milik kita ke wadah Rasulullah, akan semakin jernih pula air tersebut meluap kembali kepada kita. Maka shalawat pun demikian adanya. Semakin banyak kita memohonkan shalawat dan keselamatan kepada Rasulullah, semakin banyak pula faidah keselamatan yang akan kita dapatkan.

Alasan lain mengapa kita harus bersholawat kepada baginda Nabi adalah karena Tuhan memerintahkan kita untuk bersholawat dan ternyata Tuhan beserta para malaikat pun memberikan contoh di awal perintah itu. Lihat dan cermatilah firman Nya QS. 33:56 “Sesungguhnya Allah dan Malaikat – malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang –orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” Kata ‘sholawat’ pada ayat tersebut mustinya berbeda pemaknaannya karena pelaku sholawat juga berbeda. Ibnu Hajar rahimahullah dalam fath al-bari nya berkata: Allah bersholawat mengandung arti pengagungan terhadap beliau di Dunia dengan cara meninggikan nama beliau, menampakkan (memenangkan) agama beliau, dan melanggengkan Syari’atnya. Dan di Akherat dengan cara memperbesar ganjaran (balasan amal) beliau, memberikan beliau hak untuk memberi syafa’at untuk umatnya, dan menunjukkan keutamaan beliau dengan Maqam al-Mahmud (kedudukan yang terpuji). Selain itu juga dapat dimaknai pemberian ampun dari Allah kepada Nabi atas semua kesalahan Nabi. Malaikat bershalawat berarti bahwa para malaikat memintakan ampun untuk Nabi kepada Tuhan, mengingat malaikat adalah makhluk suci yang tidak bernafsu maka tidak pernah berbuat dosa sehingga Tuhan pun tidak akan menolak doa-doa mereka. Sedangkan makna sholawat yang kita haturkan kepada Nabi adalah sebagaiman yang telah kami jelaskan diatas.

Selanjutnya, mengapa pada redaksi di atas menggunakan kata ‘Nabi’ bukan Rasul? Bukankah Rasul cakupannya lebih luas dari Nabi? untuk menjawab pertanyaan ini Sayyid Marzuqi memberikan komentar bahwa penggunaan kata ‘Nabi’ pada redaksi tersebut memberikan isyarat bahwa seorang Nabi juga berhak mendapatkan sholawat dan salam layaknya seorang Rasul. Pernyataan ini juga didukung dengan firman Tuhan “inna Allaha wa mala’ikathu yusolluna ‘ala an-Nabiyy” QS. 33:56.

Kalimat “khoiri man qod wahhada” secara gramatikal bisa dibaca dengan tiga model. Model pertama dengan membaca jarr (khoiri) dengan alasan bahwa kata tersebut adalah badal (ganti) dari kata an-Nabiyy yang dibaca jarr, atau bisa juga dijadikan sifat dari kata an-Nabiyy. model inilah yang dipilih Sayyid Marzuqi dalam membuat nadzam. Model kedua, dengan membaca nashab (khoiro) alasannya kalimat khoiro menjadi maf’ul (objek) dari verb (fi’il) yang dibuang. Redaksi aslinya amdahu khoiro man qod wahhada (saya memuji (Nabi) sebaik-baik orang yang meng-Esa kan Tuhan). Model berikutnya adalah model yang paling utama menurut Syeikh Nawawi al-Bantani, yakni model rafa’ (dibaca: khoirun), lafadz khoirun dijadikan khobar dari mubtada’ yang dibuang. Redaksi aslinya “huwa khoiru man qod wahhada (Nabi tersebut adalah sebaik-baik orang yang meng-Esa kan Tuhan). Model ini lebih utama menurut beliau karena Nabi adalah seorang yang mulia sehingga sudah selayaknya mendapatkan mahal rafa’ (tempat yang mulia).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar