Ismuki manqusyun fi qolbi
hubbuki yahdini fi darbi
wa du’ai yahfadzuki robbi..
Namamu terukir dalam kalbuku
mencintaimu adalah penuntun jalan hidupku
doaku semoga negkau senantiasa dijaga oleh Tuhanku
Tiga
bait di atas adalah potongan lagu Haddad Alwi yang berjudul Ummi (ibuku)
release sekitar tahun 90-an. Lagu tersebut adalah salah satu ungkapan cinta
seorang anak kepada ibunya. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ibulah yang lebih
peka perasaannya dan lebih besar kasih sayangnya ketimbang sang ayah, itulah
sebabnya dalam sebuah hadits Nabi ketika seorang sahabat bertanya tentang
siapakah yang paling berhak kita hormati, Nabi menjawab ibumu, ibumu, ibumu,
kemudian ayahmu!. Seorang ayah, -misal-ketika anaknya sakit maka akan
berfikir untuk membawanya ke dokter, ke dukun, atau akan diobati sendiri. Lain
halnya dengan seorang ibu yang secara reflek akan mengucurkan air mata cintanya
sebelum memikirkan semuanya seperti yang dipikirkan sang ayah.
Jika
kita amati 99 nama Tuhan (Asma’ al-Husna) maka kita akan menemukan nama ar-Rahim
pada urutan kedua. Ar-Rahim (yang maha penyayang tanpa batas), adalah
sebuah kualitas yang sesungguhnya membuat kita, manusia dan semesta seisinya,
mesti bersyukur di setiap tarikan nafas. Pernahkah kita berfikir, mengapa tempat bersemainya benih
kehidupan dinamakan rahim pula. Adakah semacam hubungannya?
Tuhan
kita berfirman dalam sebuah hadis Qudsi: “Akulah Tuhan dan Aku adalah Yang
Maha Pengasih. Aku ciptakan rahim, dan Aku berikan padanya nama yang berasal
dari Nama-Ku sendiri (ar-Rahim). Maka, barangsiapa “memutuskan” rahim, niscaya
Aku akan memutuskan [dia dari-Ku], dan barang siapa “menyatukan” rahim, Aku
akan menyatukan diri-Ku dengannya.”
Pada
rahimlah kita saksikan miniatur kekuasaan daya cipta Tuhan. Tuhan kita
berfirman dalam hadis Qudsi “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, dan Aku
cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan dunia agar Aku bisa dikenal.
“Aku” (Ilahiah/Tuhan) adalah “ayah”, dan perbendaharaan
tersembunyi adalah “ibu”; cinta adalah yang menggerakkan perbendaharaan
tersembunyi itu menjadi maujud, yakni “anak.” Rahim, dari
sisi jasmani, adalah “wadah” yang melahirkan diri kita sebagai manusia (bashar).
Namun, dari sisi spiritual, hakikat kelahiran adalah ketika kita “diri ruhani”
kita dilahirkan. Perlambang hakikat keruhanian murni adalah Isa as. Dan Isa
lahir dari rahim yang masih suci, yakni perawan Maryam. Ini adalah misteri
besar tentang kelahiran ruhani yang sesungguhnya dialami oleh setiap
manusia.
Nafas
ar-Rahman adalah tiupan yang abadi; Tuhan tidak sekali saja meniup
lantas berhenti, sebab tiupannya adalah tiupan abadi. Tiupan ar-Rahman
terus berlangsung tanpa akhir, karena Allah Maha Kekal dan aktivitasnya adalah
Abadi – Allah senantiasa dalam kesibukan (QS. ar-Rahman). Artinya, kita
senantiasa “dibuahi” oleh Ruh Ilahi. Pada tiap momen sesungguhnya kita punya
kemungkinan untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, insan al-kamil
(manusia yang sempurna). Setiap saat kita mempunyai kesempatan untuk menjadi
“Ibu” – yakni yang melahirkan entitas-entitas permanen yang tersimpan dalam a’yan
al-tsabithah (benda yang tetap), dalam perbendaharaan tersembunyi,” yakni
saat kita menerima gelombang wahyu. Manusia diciptakan untuk melahirkan
realisasi spirtual dan ini tergantung kepada kualitas penerimaan yang ada dalam
diri kita. Nabi Adam diciptakan lengkap dengan semua kualitas. Adam adalah ayah
sekaligus ibu; Adam “melahirkan” hawa, dan menjadi ayah yang membuahi “hawa”
untuk melahirkan anak-anak.
Karenanya,
perkawinan adalah perjanjian ikatan suci, karena ia diikat dengan kalimat
syahadat. Ini berarti bahwa dalam ikatan perkawinan, manusia diharapkan
menyatukan seluruh kualitas diri yang terpecah, agar siap menerima gelombang
Wahyu yang abadi, dan, dalam analisis terakhir, kembali kepada persatuannya
dengan Yang Ilahi. Ketika Adam terjatuh dari surga, tercerabut dari Keindahan
Ilahi, Adam kehilangan ketentramannya. Adam mencari hakikat dirinya. Allah Yang
Maha Pengasih lantas menyingkapkan Jamal-Nya (Keindahan-Nya) secara
spesifik ke dalam lokus manifestasi yang tiada lain adalah Hawa, sang
perempuan. Karenanya, Adam menemukan apa-apa yang dicarinya dalam diri Hawa.
Tetapi Adam dan Hawa tak cukup hanya saling memandang untuk kembali ke hakikat
dirinya. Mereka harus bersatu; dan pernikahan adalah lambang dari persatuan
ini. Kesatuan dan pertemuan (wushul) dimaksudkan agar keseluruhan
mencapai bagian dan vice versa. Pernikahan ini adalah ibadah yang
tinggi. setiap tindakan ibadah memiliki kelezatan atau kenikmatan, dan setiap
kenikmatan itu adalah tanda-tanda dari kenikmatan surgawi. Jadi jelas,
kenikmatan “pertemuan” lebih besar ketimbang kenikmatan “melihat.” Dalam bahasa
awam, kenikmatan bersetubuh lebih besar ketimbang kenikmatan melihat
persetubuhan. Jadinya, hubungan seksual yang suci dalam ikatan pernikahan yang
sah adalah perlambang fana (sirna). Kini jelas, pernikahan adalah
menyatukan kembali kualitas rahim yang melekat dalam diri setiap manusia, baik
pria dan wanita.
Walhasil,
agar kita lahir sebagai manusia
ruhani, sebagai insan kamil, kita harus menghormati kesucian rahim,
sebab hanya rahim yang suci sajalah yang melahirkan manusa ruhani yang
paripurna, yang dilambangkan oleh Maryam yang melahirkan Isa as. Tetapi Tuhan
Maha Bijaksana dan Maha Tahu, bahwa tak setiap manusia punya kapasitas untuk
menjadi sesuci Maryam. Karena itulah diturunkan aturan pernikahan dan adab
dalam menjaga aurat bagi perempuan dan lelaki. Setiap lelaki dan perempuan yang
mengikuti aturan Ilahi, khususnya dalam menjaga kehormatan rahim, ia akan
dinilai setara dengan kualitas Maryam.
Tak
heran, Rasulullah, Sahabat dan para Wali Allah begitu menghormati perempuan,
mengingat peran agung yang dimainkan oleh kaum hawa ini. Rasulullah bersabda “Orang
yang terbaik di antara kalian adalah yang bersikap paling baik terhadap
istrinya, dan akulah yang terbaik dalam bersikap terhadap istri.” Tak
satupun para Kekasih Allah yang akan berani menyakiti istrinya, sebab saksi
ikatan pernikahan mereka adalah Allah dan Rasul-Nya, karena kita membaca
kalimat syahadah dalam ijab kabul.
Barang
siapa yang tak menghormati rahim, ia tak akan sampai (wushul) kepada
Allah – zina, perselingkuhan, pengkhianatan janji suci pernikahan, adalah
tindakan yang menodai kesucian “rahim”: dan tak heran, zina, adalah
seburuk-buruk jalan, karena membawa kita terlempar dari naungan ar-Rahim
dan terputus dari Rahmat-Nya. Barang siapa mengaku mencintai Allah dan
Rasul-Nya, ia harus membuktikannya dengan menghormati lokus tajalli(keagungan)kerahiman-Nya.
Seorang yang mencintai Allah, semestinya tunduk kepada semua perintah Allah lantaran
cintanya kepada Allah, dan hamba mesti merawat cintanya ini sampai tiba
waktunya untuk dipanggil bertemu dengan Kekasih.
Dalam
cinta sesama insan, tak boleh ada pengkhianatan, apalagi dalam Cinta kepada
Allah. Menghormati perempuan, adalah menghormati kualitas “kerahiman”
Allah, dan tak patut bagi seorang hamba yang mencintai Allah untuk
mengeksploitasi, menyakiti, atau menghina perempuan yang menjaga kesucian
rahimnya.
*pernah dimuat di Jawa Pos Radar Bojonegoro, 21/12/2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar