Minggu, 05 Maret 2017

Light For The Darkness #1


(Preambule)
Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin ‘Arabiy bin ‘Ali at-Tanari al-Bantani al-Jawi adalah seorang ulama kelahiran Desa Tanara Kecamatan Tirtayasa Serang Banten Jawa Barat Indonesia. Beliau dilahirkan pada tahun 1230 H bertepatan dengan tahun 1813 M dari keluarga yang terkemuka dalam penyiaran agama Islam di bumi Banten Jawa Barat. Syeikh Nawawi dalam fikih mengikuti madzhab Syafi’i dan dalam thariqat mengikuti madzhab Imam Asy’ariy. Pemberian nama beliau Muhammad Nawawi diambil nama seorang Rasul Allah sekaligus Nabi akhir zaman Muhammad bin Abdullah, sedangkan Nawawi diambil dari nama seorang Wali Allah kelahiran Damasykus Muhyiddin Abi Zakaria Yahya bin Syarafun Nawawi. Sebagian ulama berpendapat bahwa karya Syikh Nawawi Banten mencapai 97 kitab meliputi berbagai disiplin ilmu; diantaranya: Tafsir, Hadits, Musthalah Hadits, Fikih, Ushul Fikih, Tauhid, Tasawuf, Nahwu, Shorof dan sebagainya. Beliau adalah sosok yang dermawan, bertakwa, zuhud, tawadlu’ dan sayang terhadap orang-orang fakir.

Syeikh Nawawi Banten wafat di Makkah al-Mukarromah pada akhir bulan Syawwal 1314 H/1898 M dan dimakamkan di Ma’la dekat kuburan Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar dan Syeikh Islam Ibn Hajar al-‘Asqalaniy asy-Syafii radiyallahu ‘anhum ajma’in. Amiin.
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat pada hambaNya berupa pengetahuan serta memulyakan mereka anugrah bisa melihatNya kelak di surga taman keabadian. Shalawat dan salam kami sanjungkan kepada Nabi yang diutus kepada semua manusia Muhammad Saw., keluarga dan sahabat-sahabat beliau serta para pengikut-pengikutnya.
Buku ‘Nur adz-Dzalam’ merupakan intepretasi dari nadzam (syair) ‘Aqidat al-‘Awam karya Sayyid Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Hasani yang menerangkan seputar ilmu tauhid. Sebagai pengetahuan dasar, terlebih dahulu kami akan memaparkan faktor yang melatarbelakngi penyusunan nadzam tersebut.
Pada tahun 1258 H Sayyid Marzuqi (an-Nadzim:pengarang nadzam) ditemui Rasulullah Muhammad Saw. Serta para sahabat dalam sebuah mimpi beliau yang terjadi menjelang subuh hari Jumat awal bulan Rajab. Dalam mimpi tersebut Rasulullah mengutus beliau untuk membacakan sebuah nadzam tentang ilmu tauhid, yang dapat menjadikan penghafalnya masuk surga dan sampai pada tujuan yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah. Beliau bingung keudian bertanya kepada Nabi: “apakah nadzam tersebut wahai Rasul?” para sahabat menjawab: dengarkan apapun yang dibaca Rasulullah, kemudian Rasulullah membacakan sebuah nadzam: “abda’u bismillahi wa ar-Rahmani, sayyid Marzuqi pun mengikuti “abda’u bismillahi wa ar-Rahmani, sampai nadzam itu hatam Rasulullah tetap mendengarkan menyimak bacaan beliau. Ketika beliau terbangun dari tidur, belaiu bergegas menuliskan apa yang diajarkan Rasulullah dalam mimpi tersebut, beliau menuliskannnya dengan sempurna dan tidak satupun bait terlewatkan, mulai bait pertama sampai bait terakhir. Sekitar 3 bulan kemudian epatnya tanggal 28 Dzulqo’dah sayyid Marzuqi kembali ditemui Rasulullah dalam sebuah mimpi, kali ini mimpi beliau terjadi di waktu sahur, dalam mimpi tersebut Rasulullah bersabda kepada beliau: “bacalah apa yang telah kau kumpulkan (dalam sebuah tulisan) yang ada kalbumu” kemudian sayyid Marzuqi membacanya dan Rasulullah berdiri dikerumunan para sahabat sambil menyimak bacaan beliau. Ketika beliau usai membaca nadzam di hadapan kanjeng Nabi, kemudian Nabi bersabda: “semoga Allah memudahkanmu untuk melakukan sesuatu yang telah Dia ridhai (mengarang nadzam ‘Aqidat al-‘Awam), semoga Allah menambahkan keberkahan dan kemanfaatan untuk semua kaum muslimin. Amiin.

Tambahan:
Perlu kami sampaikan bahwa meski sayyid Marzuqi itu meyusun nadzam dilatarbelakangi oleh sebuah mimpi, namun mimpi bertemu Nabi dapat dijadikan tendensi hukum dan mimpi tersebut adalah mimpi nyata, berdasarkan haitds Bukhari-Muslim dalam Shohih Muslim: “Siapa yang melihatku saat mimpi, maka seakan-akan ia  melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku”, disamping itu sayyid Marzuqi termasuk cucu Nabi dari keturunan Imam Hasan bin Imam ‘Ali suami sayyidah Fatimah binti Rosulillah Muhammad Saw. Sehingga tidak menutup kemungkinan seorang cucu ditemui sang kakek dalam sebuah mimpi. Allahu a’lam


Note ini merupakan reportase kajian buku ‘Nur adz-Dzalam’ karya Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani wf: 1314 H/1898 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar