Abda’u bismillahi wa
ar-rahmani *
Wa birrahimi da’imi ihsani
Falhamdu lillahi
al-qadiimi al-awwali * Al-akhiri al-baqi bila tahawwuli
Dalam tafsir Ulama
mainstreamatif, partikel “Bi” di muka kalimat basmalah ini menunjukkan makna Isti’anah yang berati media yang digunakan dalam memulai
aktifitas, yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan kalimat :
“dengan”. Nomina Ism ini, dalam penulisannya pada kalimat
Basmalah tidak menggunakan alif (alifnya dihilangkan). Alasan penghilangan
dikarnakan lafal Basmalah pada konteks ini katsratul
A’mal (lebih banyak digunakan) dalam konteks apapun.
Berbeda dengan kalimat Bismirabbika pada surat al-‘Alaq yang beralasan sangat
sederhan yakni Qillatul Isti’mal (penggunaanya
sangat sedikit) yang merupakan kebalikan dari bismillah itu sendiri. Lebih
spesifik lagi, nomina Ism digandengkan dengan lafal
Allah yang memberi arti khusus yakni hubungan erat antara keduanya,
sehingga Ism dengan lafal Allah menjadi bagian yang tak
terpisahkan.
Setidaknya ada dua
pendapat dalam menafsirkan kata ‘ism’ (nama). Pendapat pertama
menyatakan bahwa al-ismu ‘ainu al-musamma (nama adalah wujud yang
dinamai/nama samadengan yang dinamai), yang dijadikan tendensi pada pendapat
pertama ini adalah potongan ayat sabbih isma rabbika al-a’la (QS. 87:1)
“sucikanlah nama Tuhanmu yang agung”. Kata ‘nama‘ pada ayat tersebut berarti
wujud Tuhan yakni Allah itu sendiri, karena tasbih (pensucian) itu hanya
untuk dzat/benda. Sedangkan pendapat kedua menyebutkan sebaliknya ‘al-ism
ghoiru al-musamma’ (nama adalah bukan yang dinamai). Pendapat kedua ini
muncul karena pada ayat lain Allah berfirman ‘lahu al-asma’u al-husna’
(QS. 20:8) “Dia (Allah)mempunyai nama-nama yang indah”. Kata Ism(nama)
pada ayat ini bukanlah Allah, meskipun nama-nama yang dimaksud pada ayat itu
adalah nama-nama milik Allah. Dari dua pendapat diatas asy-Syanwani mengambil
simpulan bahwa jika yang dikehendaki dari kata ism adalah lafadznya maka
itu tidak berarti yang dinamai dan jika yang dikehendaki dari kata ism
adalah apa yang difahami dari kata itu maka nama merupakan yang dinamai.
Kosakata berikutnya adalah
‘ALLAH’. As-Suyuthi berpendapat bahwa makna ALLAH adalah Tuhan yang maha
dahulu, yang sangat agung dzat dan sifatNya. Sedangkan menurut Ahmad as-Showi
lebih sederhana, kata ‘Allah’ adalah Ism al-jami’ (nama yang
mencakup segala nama) karena semua nama itu dikeluarkan dari nama Allah.
Kemudian Ahmad as-Showi menafsiri kata ‘ar-Rahman’ dengan Tuhan yang
meanganugrahi aneka ragam nikmat berupa apapun, berapapun, bagaimanapun, baik
nikmat dunia maupun akhirat, yang konkret maupun abstrak. Definisi ar-Rahman
hampir senada dengan kata ar-Rahim, menurut beliau kata ar-Rahim
bermakna Tuhan pemberi nikmat berupa apapun, berapapun, dan bagaimanapun, baik
nikmat dunia maupun akhirat, yang konkret maupun abstrak namun nikmat ini
merupakan cabang dari suatu asal, seperti nikmat berupa tambahnya iman
merupakan cabang dari asal yang berupa iman. Sebagian
ulama menyatakan bahwa Ar-Rahman adalah kalimat yang
terlebih dahulu ditulis dari pada kalimat ar-Rohim. Karena ar-Rohman
ini merupakan sifat yang khusus bagi Allah (ghairu
al-musytarak), sedangkan ar-Rohim banyak digunakan oleh beberapa orang (musytarak).
Namun ada juga yang menyebutnya kedua kalimat ini adalah
kalimat yang lembut
namun ar-Rahman lebih lembut daripada ar-Rahim.
Dalam catatan Muhyiddin kalimat ar-Rahman
“pengasih” termaktub dalam bentuk sighat
mubalaghah yang berarti adanya kelebihan yang melebihi dari semua hal yang ada. Dalam hal ini adalah sifat kasih
dari Allah merupakan sifat kasih yang melebihi dari sifat k asih yang ada pada manusia itu sendiri. Dalam arti,
Allah jauh lebih besar memiliki sifat kasih ketimbang sifat kasih yang dimiliki seoarang
manusia. Format kata Fa’lan
menunjukkan suatu sifat yang melebihi
segalanya. Begitu
juag dengan
kalimat ar-Rahim
menunjukkan sifat yang melebihi dari segala
sifat yang dimiliki siapapun. Dalam pada itu, Zahir Tsawin mengutip
pendapat al-Khattabi menyatakan bahwa
ada perbedaan orientatif mengenai pembagian rahmah dari kedua kalimat tersebut.
Secara spesifik rahmah Allah memalui ar-Rahman ditujukan pada semua
manusia yakni muslim dan non muslim. Sedangkan rahmah Allah melalui ar-Rahim ini secara khusus
diperuntukkan untuk orang mukmin saja. Inilah reintepretasi QS. al-Ahzab: 45. Manusia baik muslim maupun non muslim diberikan rahman dalam segala bentuk mulai
dari kemampuan intlektualnya, religisunya, serta pemberian keamanan dan seterusnya. Hewan, tanpa membedakan dengan manusia juga mendapatkan apa yang
didapatkan manusia secara umum, hanya saja berbeda pemberiannya
pada ciri khusus dan sifat sifat yang dimiliki. Begitu juga
dengan tumbuh tumbuhan, Allah memberi rahman dengan segala kebutuhannya sebagaimana
manusia itu sendiri.
Walhasil hemat saya
ar-Rahman ini adalah seluruh bentuk perhatian
Allah pada semua makhluk sehingga tidak terbatas pada mansia saja, namun pada
alam dan segala isinya. Sedangkan ar-Rohim yang diartikan “Yang Maha Penyayang” juga hampir mirip
dengan perluasan makna dari ar-Rohman. Hanya saja ada perbedaan orientatif dan kepemilikan
sebagaimana dibedakan Ulama, bahwa ar-Rohim nya Allah ini khusus diberi pada orang-orang mukmin
saja. Dengan demikian, selain mukmin tidak mendapatkan ar-Rohim dari
Allah. Dan pemberian Rohim ini berlaku pada hari yang kedua yakni hari akhirat.
Sifat berikutnya yang disandarkan pada kata Allah adalah daa’imi al-ihsani
(terus-menerus dalam memberikan kebaikan). Artinya, Allah adalah Tuhan yang
selalu memberikan anugrah dan nikmat selama-lamanya dan tiada putus kepada
semua makhluknya.
Kemudian
Nadzim (pengarang Nadzam) Sayyid Marzuki meneruskan baitnya dengan kata alhamdulillah
sebuah pujian yang sudah lazim ada dalam setiap permulaan menulis sebuah kitab.
Lafal itu asalnya hamdu, sebagai bentuk mashdar
dari fi’il (kata kerja) hamida-yahmadu-hamdan. Hamdu artinya
“pujian” bias juga diartikan “puji” tapi
bukan untuk menunjukan kata kerja melainkan nama pekerjaan. Secara etimologi alhamdu bermakna pujian
(ikhtiari) dengan lisan atas sebuah keindahan/kebagusan/kebaikan dengan cara
mengagungkan baik dalam rangka menerima sebuah nikmat atau tidak. Contoh riil
memuji karena menerima nikmat adalah seperti ungkapan kita pada seseorang yang
bersedakah pada kita: “kamu seorang yang dermawan”, sedangkan ungkapan
kita-misalnya-“Budi adalah orang yang mulia” ketika kita melihat dia rajin
ibadah dan sekolah itu merupakan pujian yang bukan karena menerima nikmat.
Adapun makna alhamdu secara terminologi adalah suatu aktifitas yang
muncul dari mengagungkan sang pemberi nikmat karena Dia telah memberi nikmat
kepada sipemuji atau sesamanya baik pujian itu diucapkan dengan lisan, berupa
cinta dalam hati atau rasa penghambaan pada Tuhan dengan anggota badan. Ada hal
menarik yang perlu kita bahas di sini. Pada umumnya dalam bahasa Indonesia alhamdu
selalu diartikan dengan segala puji padahal jika kita lihat kata al-hamdu
berbentuk single (tunggal). Terlahirnya makna “segala puji” dari lafal alhamdu, itu karena keberadaan alif- lam. Asalnya kata hamdu
hanya berarti “puji” untuk satu konotasi yang masih umum. Misalnya,
hamdun li Ahmad, artinya pujian untuk Ahmad. Pengertian pujian itu bukan
mencakup segala puji, misalnya karena Ahmad pintar, atau soleh, atau bahkan
karena dia baik dan lain sebagainya.
Pujian yang tertuju pada Ahmad tidak universal,
hanya saja masih bersifat umum. Berbeda ketika mengucapkan alhamdu,
yaitu lafal hamdu yang
telah dibubuhi alif- lam. Pada
kata itu bisa diartikan “segala puji”, sebab alif- lam yang ditambahkan pada lafal hamdu itu mempunyai makna istighrok (menyeluruh atau universal). Keseluruhan yang dimaksud dalam istighrok
itu mencakup segala hal termasuk jenis dan turunannya. Dalam konteks puji,
berarti mencakup segala puji, baik yang lahir dari ucapan, perbuatan, sifat,
atau Dzatnya itu sendiri, atau bahkan dari ciptaan-Nya. Walhasil seluruh kata yang berkonotasi positif terhadap
suatu pujian-bukan
untuk merendahkan (ironi)-itulah
segala puji yang dimaksud dalam lafal alhamdu. Dalam persepektif lain, pujian itu berdasarkan
jenisnya dibagi menjadi empat: 1. Pujian Tuhan terhadap dzatNya sendiri
(seperti dalam QS. 8:40), 2. Pujian Tuhan terhadap hamba (seperti dalam QS.
68:4), 3. Pujian hamba terhadap Tuhan (seperti dalam QS. 5:116) dan 4. Pujian
hamba terhadap hamba lain, seperti pujian Nabi pada sahabat Abu Bakar
ash-Shiddiq. Keempat pujian tersebut hakikatnya adalah hak Allah, sehingga jika
kita memuji pada sesama hakikatnya kita memuji Allah dzat yang menciptakan
kita.
Sifat Allah berikutnya
yang ada pada dua bait diatas adalah: al-qadiim, al-awwal, al-akhir, al-baqi
dan ditutup dengan kalimat bila tahawwuli. Al-Hulaimi menjelaskan
bahwa makna al-qadiim adalah Wujud nya Allah tidak ada
permulaannya dan keberadaannya tidak akan sirna. Sedangkan al-awwal
adalah tidak adanya permulaan dan pembuka atas wujudNya. Sifat Allah juga
dilengkapi dengan al-akhir yakni Allah adalah Tuhan yang tiada
akhir/tidak ada ‘pungkasan’ bagiNya. Al-baqi bermakna yang kekal
dan tidak akan sirna serta tidak berpindah-pindah (bila tahawwuli). Allahu
a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar